Dakwah yang Merawat Bumi
Bagi Muhammadiyah, gerakan lingkungan pada hakikatnya juga merupakan gerakan dakwah. Dakwah tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan sesama manusia, tetapi juga mengenai bagaimana manusia memperlakukan alam sebagai ciptaan dan amanah Allah SWT.
Karena itu, masjid dapat menjadi pusat edukasi lingkungan, sekolah Muhammadiyah dapat menjadi pusat pembelajaran ekologis, perguruan tinggi Muhammadiyah dapat mengembangkan riset mengenai konservasi dan perubahan iklim, pesantren dapat menjadi pusat pendidikan lingkungan, sementara warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dapat menjadi penggerak perubahan di tingkat keluarga dan komunitas.
Dakwah lingkungan harus mengubah cara pandang masyarakat bahwa menjaga bumi bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari akhlak. Menanam pohon bukan hanya kegiatan penghijauan, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Menjaga hutan bukan hanya agenda konservasi, tetapi juga bagian dari menjaga amanah Allah SWT. Mengurangi emisi, menghemat air, mengurangi sampah, menjaga sungai, dan merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia terhadap kehidupan.
Takdir Harus Dijawab dengan Ikhtiar
Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertentangkan takdir dengan tanggung jawab manusia. Kita beriman kepada takdir, tetapi pada saat yang sama kita diperintahkan untuk berikhtiar. Kita tidak dapat menghentikan gunung api untuk meletus, tetapi kita dapat memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan.
Kita tidak dapat mengendalikan seluruh fenomena cuaca, tetapi kita dapat menjaga hutan dan daerah resapan air. Kita tidak dapat menghilangkan seluruh risiko bencana, tetapi kita dapat mengurangi kerentanan masyarakat. Kita juga tidak mungkin mengembalikan seluruh hutan yang telah hilang dalam waktu singkat, tetapi kita dapat mulai menanam dan memulihkan ekosistem sejak hari ini.
Rangkaian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Bencana di Nusa Tenggara Timur, karhutla di Kalimantan, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam. Tidak semua bencana merupakan akibat langsung dari kesalahan manusia, tetapi manusia memiliki tanggung jawab besar untuk tidak memperparah kerentanan ekologis dan meningkatkan risiko yang sebenarnya dapat dikurangi.
Karena itu, jangan menunggu bencana berikutnya untuk mulai bergerak. Jangan menunggu memiliki program besar untuk berbuat sesuatu. Jangan menunggu orang lain memulai. Kita dapat memulainya dari halaman rumah, sekolah, masjid, pesantren, kampus, kantor, desa, dan lingkungan tempat kita tinggal.
Mari kita tanam pohon. Mari kita rawat pohon yang sudah ada. Mari kita jaga hutan. Mari kita kurangi sampah. Mari kita hemat air dan energi. Mari kita dukung konservasi. Dan yang tidak kalah penting, mari kita ajarkan kepada generasi muda bahwa menjaga bumi bukan pekerjaan segelintir aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab setiap manusia.
Satu pohon mungkin terlihat kecil. Tetapi jika jutaan orang menanam dan merawat satu pohon, kita sedang membangun benteng ekologis bagi masa depan. Satu keluarga mungkin hanya mampu mengubah kebiasaan kecil. Tetapi jika jutaan keluarga melakukan hal yang sama, dampaknya akan menjadi gerakan besar.
Karena itu, saya mengajak seluruh warga Muhammadiyah, Aisyiyah, generasi muda, lembaga pendidikan, pesantren, masjid, perguruan tinggi, pelaku usaha, pemerintah daerah, komunitas, dan seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Hutan Wakaf Berkemajuan sebagai gerakan bersama untuk merawat bumi.
Kita tidak sedang menanam pohon hanya untuk hari ini. Kita sedang menanam kehidupan untuk masa depan. Setiap pohon yang tumbuh adalah bagian dari ikhtiar mengembalikan keseimbangan alam. Setiap hektare hutan yang terjaga adalah bagian dari upaya menjaga kehidupan. Dan setiap gerakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat menjadi perubahan besar bagi bumi.
Mari menanam hari ini, merawatnya setiap hari, dan mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Hutan Wakaf Berkemajuan bukan sekadar gerakan menanam pohon. Ia adalah ikhtiar Muhammadiyah untuk merawat bumi, memperkuat ekosistem, membantu mengurangi jejak karbon, menjaga keseimbangan alam, dan mewariskan kehidupan yang lebih baik kepada generasi mendatang. (*)
