Harta Melimpah, Hati Tak Bahagia

Harta Melimpah, Hati Tak Bahagia
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“Uang dapat membeli kemewahan, tetapi tidak mampu membeli ketenangan dan kebahagiaan batin.”
“(Money can buy luxury, but it cannot buy peace of mind and inner happiness).”

Ungkapan tersebut mengingatkan kita bahwa kekayaan materi tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hati. Seseorang boleh jadi memiliki harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan berbagai fasilitas kehidupan, tetapi semua itu belum tentu mampu menghadirkan ketenteraman dalam jiwa.

Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan semata-mata banyaknya harta, melainkan kayanya hati karena iman dan kedekatan kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.“(QS. Ar-Ra’d: 28)

Dalam penjelasan Tafsir Al-Misbah, ketenteraman hati (thuma’ninah) tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta atau kemewahan dunia. Hati manusia memiliki kebutuhan spiritual yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan materi. Dzikrullah dan keimananlah yang menghadirkan ketenangan sejati.

Karena itu, harta yang melimpah tidak selalu mampu menghilangkan kegelisahan dan kecemasan apabila hati jauh dari iman dan mengingat Allah.

Rasulullah saw juga bersabda dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
u:لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ”
Artinya:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda (aset dunia), akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kaya yang sesungguhnya adalah hati yang merasa cukup (qana’ah), bukan sekedar banyaknya kepemilikan. Sebab, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, jika hati selalu merasa kurang, seseorang akan tetap hidup dalam kegelisahan.

Kemewahan dunia memang dapat memberikan kenyamanan bagi jasmani, tetapi sifatnya sementara. Ketenangan sejati lahir dari iman, rasa syukur, qana’ah, dan kedekatan kepada Allah Swt.

Maka, jangan sampai kesibukan mengejar harta membuat kita kehilangan ketenangan jiwa. Carilah rezeki dengan cara yang halal, nikmati dengan penuh syukur, dan jangan pernah menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.

Semoga bermanfaat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search