Aku bertemu dengan dua orang yang menghadapi masalah yang hampir sama. Keduanya sedang diuji dengan masalah hidup. Namun yang membuatku berpikir bukanlah ujiannya, melainkan cara mereka memandangnya.
- Yang satu merasa hidupnya penuh kekurangan. Ia hanya melihat apa yang hilang, sehingga hatinya dipenuhi keluhan.
- Yang kedua berkata, “In syaa Allah, ini juga bagian dari cara Allah mendidikku.”
Saat itu aku terdiam. Aku sadar, ternyata yang menentukan bahagia atau tidaknya hidup bukan hanya keadaan, tapi jendela hati yang kita gunakan untuk memandang kehidupan.
Kalau jendela hati dipenuhi syukur, kita akan lebih mudah melihat nikmat di balik setiap ujian. Kalau jendela hati dipenuhi prasangka buruk, sedikit masalah pun terasa begitu berat.
Sejak itu aku belajar untuk lebih sering membersihkan hati daripada sibuk menyalahkan keadaan. Karena dunia yang sama bisa terlihat sangat berbeda, tergantung bagaimana hati memandangnya.
Semoga Allah menjaga hati kita agar selalu dipenuhi iman, syukur, dan husnudzan kepada-Nya.
Semoga bermanfaat.
