Di tengah kepungan rutinitas, pekerjaan, dan berbagai pencapaian duniawi, manusia kerap terjebak dalam kesibukan yang mengikis kesadaran akan hakikat waktu. Mengingatkan pentingnya arah dan kualitas hidup, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengajak umat untuk kembali merenungkan pertanyaan mendasar: “Untuk apa kita sebenarnya hidup?”
Pesan tersebut disampaikan Talqis dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta. Mengangkat refleksi buku Pelajaran KH Ahmad Dahlan: 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an, ia menekankan bahwa panjangnya usia bukan penentu utama kehebatan seseorang, melainkan seberapa berkualitas amal ibadah yang diukir selama waktu tersebut.
“Manusia terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Usia dunia itu amat singkat dibanding akhirat. Karena itu, persoalannya bukan semata seberapa lama kita hidup, melainkan bagaimana waktu yang singkat ini menjadi bermakna dan bermanfaat,” tegas Talqis.
Empat Bekal Agar Tidak Merugi
Merujuk pada Surah Al-‘Ashr, Talqis memaparkan empat bekal utama agar manusia tidak jatuh ke dalam kerugian:
- Iman: Memperkokoh hubungan vertikal dengan Allah.
- Amal Saleh: Memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama.
- Wasiat Kebenaran: Menjaga komitmen pada jalan yang lurus.
- Wasiat Kesabaran: Keteguhan dalam menghadapi tantangan hidup.
Ia mengingatkan agar kesibukan mengejar karier, kuliah, harta, maupun relasi tidak membuat seseorang kehilangan arah. Majelis ilmu menjadi ruang muhasabah penting untuk mengevaluasi kompas kehidupan.
“Kita boleh sibuk, tapi jangan sampai kehilangan arah. Popularitas di dunia juga bukan ukuran keberhasilan di hadapan Allah,” ujarnya seraya mencontohkan sosok Uwais al-Qarni, figur sederhana di bumi yang amat terkenal di langit karena baktinya kepada sang ibu.
Hidup Sekali sebagai Taruhan
Mengaitkannya dengan salah satu falsafah KH Ahmad Dahlan—hidup hanya sekali sebagai taruhan—Talqis menggarisbawahi bahwa dunia adalah satu-satunya kesempatan untuk menentukan nasib di akhirat.
Ia mengajak jamaah untuk berani mengukur keberhasilan dari sudut pandang Ilahi, bukan tolok ukur manusia. Muhasabah harian perlu dilakukan untuk mengikis kebiasaan buruk, menyelesaikan kesalahan, dan memadatkan waktu dengan perbaikan kualitas diri.
“Hiduplah yang berarti karena kita hanya hidup sekali. Pertanyakan pada diri sendiri: prestasi apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah?” kata Talqis.
Meski demikian, banyaknya aktivitas perlu diimbangi dengan kedalaman niat. Mengutip QS Al-Mulk ayat 2, ia menegaskan bahwa Allah menguji siapa yang terbaik amalnya, bukan siapa yang paling banyak kesibukannya.
Baik kemudahan maupun ujian hidup—seperti jabatan, harta, hingga kegagalan—harus dikelola sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. (*/tim)
