Rabiul Akhir mengingatkan kita pada salah satu episode penting dalam sejarah Madinah di masa Rasulullah saw. Pasca hijrah, kehidupan masyarakat Madinah dibangun di atas kesepakatan dan perjanjian untuk menciptakan kehidupan bersama yang aman dan tertib, termasuk dengan Bani Nadhir dari kaum Yahudi.
Namun seiring waktu, Bani Nadhir tidak komitmen terhadap perjanjian yang telah disepakati, bahkan berusaha membunuh Rasulullah saw, sehingga akhirnya diusir dari Madinah pada tahun keempat Hijriah.
Peristiwa itu diabadikan dalam Surah Al-Hasyr dengan hikmah agar kita mengambil ibrah darinya, bahwa setiap perjanjian melahirkan tanggung jawab, setiap janji mengandung konsekuensi, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Janji, perjanjian, kepercayaan, dan amanah merupakan nilai yang berlaku lintas zaman. Dalam kehidupan berbangsa maupun berkeluarga, keempatnya menjadi fondasi penting bagi terciptanya hubungan yang sehat dan penuh kepercayaan.
Janji kadang dipandang enteng. Tak jarang janji diucapkan dengan mudah, tapi dilaksanakan dengan banyak alasan. Islam menempatkan janji pada kedudukan yang serius. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS Al-Isra: 34).
Karenanya, menepati janji bukan sekadar persoalan etika sosial, tetapi bagian dari akhlak seorang Muslim. Janji menumbuhkan kepercayaan. Ketika janji ditepati, kepercayaan tumbuh. Sebaliknya, ketika janji berulang kali diingkari, kepercayaan perlahan runtuh.
Begitu pula dalam konteks kehidupan bernegara. Pejabat publik memperoleh jabatan karena adanya mandat dan kepercayaan. Ketika seorang pejabat mengucapkan sumpah jabatan, sesungguhnya ia tidak hanya berbicara di hadapan manusia, tetapi juga memikul amanah besar di hadapan Allah Swt.
Maka, janji politik seharusnya tidak berhenti sebagai alat memperoleh dukungan. Setelah kekuasaan diperoleh, janji tersebut harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan pelayanan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Madinah ke Rumah Kita
Islam tidak memandang kepemimpinan sebagai kehormatan semata. Kepemimpinan adalah amanah. Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Hadis ini memiliki cakupan yang sangat luas. Tidak hanya ditujukan kepada presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, anggota legislatif, atau pejabat birokrasi. Tapi juga ditujukan kepada kepala keluarga, orang tua, pemimpin organisasi, bahkan setiap individu. Maka, amanah kepemimpinan sesungguhnya dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kita, yaitu rumah.
Seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pemimpin yang bertanggung jawab terhadap pendidikan, perlindungan, dan keteladanan bagi keluarganya. Seorang ibu juga memiliki amanah besar dalam membangun karakter dan kehidupan keluarga. Anak pun memiliki amanah sesuai dengan tanggung jawabnya.
Jika seseorang menuntut pejabat agar amanah, tetapi di dalam rumah sendiri sering mengingkari janji kepada keluarganya, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Jangan sampai kita begitu keras menilai ketidakjujuran pemimpin publik, tetapi lunak terhadap ketidakjujuran dalam kehidupan pribadi.
Masyarakat membutuhkan pejabat yang menepati janji. Negara membutuhkan pemimpin yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Keluarga juga membutuhkan pemimpin yang hadir, jujur, bertanggung jawab, dan konsisten antara ucapan dan tindakan.
Amanah tidak mengenal besar atau kecilnya jabatan. Presiden memiliki amanah terhadap rakyatnya. Kepala daerah memiliki amanah terhadap masyarakatnya. Seorang pimpinan memiliki amanah terhadap organisasinya. Seorang ayah dan ibu memiliki amanah terhadap keluarganya. Bahkan setiap kita memiliki amanah atas kehidupan yang dipercayakan Allah Swt.
Rabiul Akhir menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak janji yang telah kita ucapkan, dan berapa banyak yang benar-benar telah kita tunaikan? Sebab kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan kesungguhan menjaga kepercayaan.
Janji yang dijaga melahirkan kepercayaan. Amanah yang ditunaikan melahirkan keberkahan. Dan keduanya akan menjadi bekal ketika kelak setiap kita dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. || sumber: suaramuhammadiyah.id
