Cita-cita KH Ahmad Dahlan yang Belum Terwujud 

Cita-cita KH Ahmad Dahlan yang Belum Terwujud 
*) Oleh : Anas Febriyanto
Kabid Tabligh PC IMM Surabaya & anggota KM3Nas DPP IMM
www.majelistabligh.id -

KH Ahmad Dahlan tidak hanya dikenang sebagai pendiri Muhammadiyah, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki cara pandang jauh melampaui zamannya. Di tengah kondisi umat yang saat itu masih tertinggal, beliau sudah memikirkan bagaimana umat Islam bisa mandiri, maju, dan memiliki kekuatan sendiri. Salah satu cita-cita besar yang pernah beliau impikan ialah memiliki kapal untuk jemaah haji.

Keinginan itu mungkin terdengar sederhana, namun sebenarnya mengandung makna yang sangat besar. Pada masa itu, perjalanan haji bukan perkara mudah. Jemaah harus menempuh perjalanan panjang dengan berbagai keterbatasan. Banyak umat yang berangkat dengan kondisi ekonomi pas-pasan, bahkan harus menghadapi pelayanan yang tidak selalu berpihak kepada mereka. Dari situ, KH Ahmad Dahlan melihat bahwa umat Islam harus memiliki sarana sendiri untuk melayani kepentingan umat.

Namun hari ini zaman telah berubah. Kapal bukan lagi simbol utama kemajuan transportasi haji. Dunia telah bergerak cepat. Perjalanan menuju tanah suci kini ditempuh dengan pesawat udara. Maka, semangat cita-cita itu seharusnya juga ikut berkembang. Jika dahulu beliau bermimpi memiliki kapal untuk jemaah haji, maka hari ini sudah saatnya umat mulai memikirkan bagaimana menghadirkan pesawat untuk jemaah haji.

Gagasan ini bukan sekadar mimpi kosong atau romantisme sejarah. Justru ini adalah bentuk melanjutkan semangat besar yang diwariskan para pendiri Muhammadiyah, berpikir maju dan berani membangun kemandirian umat. Apalagi melihat potensi umat Islam Indonesia yang sangat besar. Jemaah haji Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Setiap tahun ratusan ribu jemaah diberangkatkan ke tanah suci. Ini menunjukkan bahwa umat memiliki kekuatan besar, baik secara ekonomi maupun sumber daya manusia.

Sayangnya, kekuatan besar itu sering kali belum dikelola menjadi kekuatan bersama. Umat masih lebih banyak menjadi pengguna, bukan pengelola. Padahal, jika potensi tersebut dihimpun secara serius, bukan tidak mungkin suatu hari nanti hadir layanan penerbangan jamaah haji yang benar-benar lahir dari kekuatan umat sendiri.

Di sinilah pentingnya meneladani cara berpikir KH Ahmad Dahlan. Beliau tidak hanya berbicara soal ibadah dalam arti sempit, tetapi juga memikirkan bagaimana umat Islam bisa kuat secara sosial, ekonomi, dan peradaban. Maka membangun kemandirian transportasi jamaah haji sejatinya juga bagian dari dakwah.

Hari ini Muhammadiyah memiliki sekolah, kampus, rumah sakit, hingga berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua itu membuktikan bahwa Muhammadiyah mampu membangun sistem besar yang memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, bukan hal yang mustahil jika suatu saat umat juga mampu menghadirkan layanan transportasi udara untuk jamaah haji secara profesional dan amanah.

Tentu mewujudkan hal besar tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan perencanaan, kekuatan ekonomi, kerja sama, dan sumber daya manusia yang profesional. Namun semua cita-cita besar memang selalu dimulai dari keberanian berpikir besar. Dahulu orang mungkin juga menganggap sekolah modern Muhammadiyah sebagai sesuatu yang mustahil. Tetapi hari ini, amal usaha Muhammadiyah justru menjadi salah satu kekuatan pendidikan terbesar di Indonesia.

Karena itu, generasi muda Muhammadiyah harus mulai berani membangun mimpi-mimpi besar untuk umat. Jangan hanya puas menjadi penonton kemajuan zaman. Umat Islam harus ikut menjadi pelaku utama perubahan. Sebab dakwah hari ini tidak cukup hanya lewat ceramah, tetapi juga melalui karya nyata yang memberi solusi bagi kebutuhan masyarakat.

Cita-cita kapal untuk jamaah haji yang pernah diimpikan KH Ahmad Dahlan sejatinya adalah simbol keberanian membangun kemandirian umat. Dan di era modern ini, semangat itu dapat diterjemahkan menjadi langkah yang lebih relevan  menghadirkan pesawat untuk jamaah haji. Sebab umat yang besar bukan hanya umat yang banyak jumlahnya, tetapi umat yang mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search