Di balik reputasinya sebagai salah satu ulama dan akademisi terkemuka di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar menyimpan cerita menarik di awal masa pengabdiannya. Siapa sangka, amanah besar yang kini membesarkan namanya sempat mendatangkan kegelisahan hingga membuatnya tak bisa tidur nyenyak selama dua bulan.
Kisah tersebut diungkapkan Syamsul dalam Talkshow Peluncuran Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar, Senin (31/8). Buku tersebut merangkum perjalanan hidup, pemikiran, serta kesaksian para kerabat dan murid terhadap sosok yang pernah memimpin Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah selama 22 tahun (2000–2022) tersebut.
Syamsul mengaku, sejak di bangku SMP ia memang memiliki ketertarikan tinggi pada dunia belajar. Namun, ia tak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan melangkah sejauh ini—menjadi Guru Besar Hukum Islam sekaligus dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022–2027.
Sempat Cemas Saat Ditunjuk Buya Syafi’i
Salah satu momen paling berkesan bagi Syamsul adalah ketika almarhum Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif menunjuknya untuk memimpin Majelis Tarjih dan Tajdid. Alih-alih gembira, beban tanggung jawab itu justru memicu kecemasan mendalam.
“Saat ditunjuk Prof. Syafi’i Ma’arif, saya bahkan dua bulan tidak bisa tidur siang-malam. Saya takut jika nanti ada yang bertanya perihal ibadah haji, sementara saya sendiri belum pernah mengalaminya karena keterbatasan ekonomi,” ungkap Syamsul.
Di tengah kecemasan dan keterbatasan finansial tersebut, Syamsul memutuskan pulang ke kampung halamannya di Riau setelah 18 tahun merantau. Kepulangannya bertujuan menjenguk orang tua yang sedang sakit sekaligus merenungi perjalanan hidupnya.
Tak disangka, sepulang dari Riau ke Yogyakarta, ia mendapat panggilan mendadak dari PP Muhammadiyah. Syamsul diminta segera membuat paspor karena terpilih untuk menunaikan ibadah haji melalui undangan resmi Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi.
Ketidaktahuan yang Memantik Kepakaran
Tantangan Syamsul tidak berhenti di situ. Saat memimpin Majelis Tarjih, ia kerap dihadapkan pada pertanyaan kompleks mengenai hisab dan rukyat. Meski berlatar belakang Fakultas Syariah, ia mengakui pemahamannya terkait ilmu falak saat itu masih sangat minim.
“Pengetahuan saya terkait hisab rukyat saat itu bisa dikatakan nol,” pengakuannya jujur.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya mundur. Syamsul justru tertantang untuk belajar secara mandiri. Ia mengumpulkan, membeli, hingga memfotokopi berbagai risalah dan literatur pendukung.
Selama kurang lebih tiga tahun, ia tekun mempelajari konsep-konsep rumit ilmu falak. Bahkan, ia tak sungkan ikut duduk di bangku kuliah bersama para santri Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) selama satu semester.
Ketekunan itu membuah hasil manis. Pada rentang 2000–2007, Syamsul bersama tim Majelis Tarjih mulai merintis pengembangaan agenda kalender Islam global melalui forum simposium internasional. Memasuki tahun 2008, ia sudah dipercaya menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmu falak tingkat dunia.
Bagi Syamsul, rangkaian pengalaman tersebut membuktikan bahwa ketidaktahuan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Pertanyaan yang belum terjawab justru bisa menjadi pintu pembuka menuju ruang belajar yang lebih luas.
“Pengalaman-pengalaman itulah yang paling membekas dalam perjalanan intelektual saya,” pungkasnya. (*/tim)
