Kajian Ahad Pahing yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Nglencong, Sine Ngawi di Masjid Al Manar, Ahad (27/9/2026), berlangsung berbeda dari biasanya. Kajian yang menghadirkan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ustaz Abdul Basith, Lc, MPd.I tersebut berbarengan dengan kegiatan rihlah dakwah jajaran Majelistabligh.id.
Dalam kajian bertema “Dari Sajadah Menuju Peradaban Berkemajuan”, Ustaz Basith mengupas pentingnya memahami salat secara utuh. Menurutnya, salat sebagai salah satu rukun Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi harus mampu membentuk perilaku serta kehidupan sosial umat Islam.
Ia menyoroti adanya kesenjangan antara aktivitas ibadah dengan perilaku sebagian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kata dia, seharusnya mampu menunjukkan dampak positif dari pelaksanaan ibadah, termasuk dalam hal kejujuran, keadilan, dan amanah.
“Tidak seperti sekarang, bangsa Indonesia yang mayoritas mengaku muslim, bahkan juga menjalankan salat, namun di saat yang sama, ketidakadilan, korupsi, pejabat tidak amanah terus saja terjadi,” ujarnya.

Ustaz Basith kemudian mengutip hadis yang menjelaskan kedudukan salat sebagai amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi…” (HR. Tirmidzi).
Menurutnya, hadis tersebut perlu dipahami secara mendalam agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru. Ia khawatir sebagian umat Islam memahami hadis tersebut secara sederhana, seolah-olah melaksanakan salat saja sudah cukup untuk menutupi berbagai kesalahan dalam amal dan perilaku lainnya.
Mamahami hadis tersebut, lanjut Ustaz Basith, perlu pengetahuan yang mendalam. Ia khawatir dan curiga sebagian besar kaum muslim salah memahaminya, seolah-olah kalau sudah menjalankan salat berarti amalan lain yang salah bisa tertutupi dengan sendirinya.
“Ada yang salah dalam memahami dalil, bagaimana bisa kita ini di Indonesia yang sebagian besar muslim, ya salat, ya berjamaah, ya ngaji, tapi berita korupsi seperti tak berhenti, padahal para pejabat yang sebagian besar yang muslim,” jelasnya.
Salat Tidak Sekadar Persoalan Fikih
Ustaz Basith mengingatkan agar umat Islam tidak memahami salat hanya dari dimensi fikih, khususnya sebatas memperhatikan syarat dan rukun sahnya. Menurut dia, salat memiliki tiga dimensi yang harus dipenuhi secara bersamaan, yakni lahiriah, batiniah, dan sosial.
Pertama, dimensi lahiriah. Salat secara lahiriah dapat dilihat melalui gerakan dan pelaksanaannya, seperti berdiri, rukuk, dan sujud.
Kedua, dimensi batiniah. Salat harus dilandasi niat yang benar, kekhusyukan, dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Ketiga, dimensi sosial. Salat semestinya memberikan dampak nyata terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang menjalankan salat diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, adil, amanah, serta menghormati dan membantu sesama.
“Pertama dari lahiriah, salat secara lahiriah memang terlihat, ada rukuk, sujud, rukuk sujud. Kedua batiniah, salat ada niat, dilaksanakan dengan khusyuk dan dilandasi keikhlasan. Sedangkan dimensi ketiga adalah sosial, seharusnya orang yang menjalankan salat bisa mengantarkan yang pada kejujuran, bersikap adil dan hormat pada sesama,” tuturnya.
Menurutnya, dimensi sosial tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Ankabut ayat 45.
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat tersebut, kata Ustaz Basith, menunjukkan bahwa salat seharusnya memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang. Dengan demikian, ibadah salat tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ia melihat masih terdapat kesenjangan antara pelaksanaan salat dengan perilaku sosial sebagian umat. Karena itu, umat Islam perlu terus melakukan introspeksi terhadap kualitas salat yang dijalankan.
“Namun yang terjadi saat ini, antara mendirikan salat dengan kehidupan sehari-hari seperti ada gap,” ujarnya.
Salat Harus Melahirkan Perubahan Perilaku
Ustaz Basith juga mengingatkan umat Islam melalui pesan Surah Al-Ma’un: 5- 7yang memberikan peringatan kepada orang-orang yang menjalankan salat tetapi lalai terhadap makna dan dampak ibadah tersebut.
“Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.”
Menurutnya, ayat tersebut justru memberikan perhatian kepada orang yang melaksanakan salat. Artinya, pelaksanaan ibadah perlu terus dievaluasi agar tidak kehilangan ruh dan pengaruhnya dalam kehidupan.
“Ayatnya sudah jelas, yang diingatkan adalah orang-orang yang salat..kurang apa coba. Hal ini penting, bahwa kita yang setiap hari menjalankan salat pun untuk selalu introspeksi. Karena kalau salatnya hidup, akhlak pun hidup,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya umat Islam terus belajar dan memperdalam ilmu agama agar mampu memahami hakikat ibadah secara lebih utuh. Tradisi mengaji dan menuntut ilmu, menurutnya, dapat menjadi jalan untuk membangun kesadaran serta sikap mawas diri.
Dengan pemahaman yang benar, salat diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi sumber pembentukan ketakwaan. Ketakwaan kemudian melahirkan akhlak, sedangkan akhlak yang baik akan tercermin dalam sikap amanah, jujur, adil, peduli, dan menghormati sesama.
“Dengan terus ngaji dan menuntut ilmu, umat muslim berjiwa besar untuk selalu mawas diri. Dengan salat yang benar akan melahirkan ketakwaan, ketakwaan memunculkan akhlak. Dengan akhlak yang melahirkan sikap amanah, sikap jujur dan adil,” pungkasnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perjalanan dari sajadah menuju peradaban berkemajuan tidak berhenti ketika seseorang mengucapkan salam di akhir salat. Nilai-nilai yang dibangun melalui salat harus dibawa ke ruang kehidupan yang lebih luas, sehingga ibadah mampu membentuk pribadi sekaligus kehidupan masyarakat yang berakhlak, amanah, dan berkeadilan.(ono)
