Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) bukan sekadar institusi akademik yang berfungsi mencetak lulusan dengan capaian intelektual semata. Lebih dari itu, PTMA adalah ruang ideologis, tempat nilai-nilai Islam berkemajuan ditanamkan, dikembangkan, dan diwariskan. Dalam kerangka besar ini, kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukanlah pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem kaderisasi Muhammadiyah di lingkungan kampus.
IMM adalah rumah perkaderan. Ia menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk berproses, tidak hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga spiritual, sosial, dan kepemimpinan. Di dalam IMM, mahasiswa ditempa melalui dinamika organisasi, diskursus pemikiran, serta praksis gerakan yang mengasah kepekaan terhadap realitas. Maka, IMM bukan sekadar organisasi kemahasiswaan biasa, melainkan laboratorium kaderisasi yang melahirkan generasi penerus persyarikatan dan bangsa.
Dalam perspektif organisasi, IMM merupakan wadah pembentukan karakter berbasis nilai (value-based organization). Ia tidak hanya berorientasi pada program kerja, tetapi pada pembentukan manusia yang memiliki integritas, ideologi, dan komitmen terhadap dakwah dan keilmuan. Proses ini tentui tidak instan. Ia membutuhkan ruang, dukungan, serta ekosistem yang sehat untuk tumbuh dan berkembang.
Di sinilah posisi strategis dosen PTMAI menjadi sangat penting. Dosen bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga pendidik yang memiliki tanggung jawab moral dalam membentuk karakter mahasiswa. Dalam konteks ini, dosen seyogyanya memahami bahwa IMM adalah mitra dalam proses pendidikan, khususnya dalam pengembangan non-akademik mahasiswa.
Kegiatan-kegiatan IMM, baik dalam bentuk perkaderan, diskusi, pelatihan, maupun gerakan sosial merupakan bagian dari proses pendidikan yang holistik. Apa yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas, seringkali justru ditemukan dalam dinamika organisasi. Kepemimpinan, komunikasi, manajemen konflik, manajemen diri, dakwah, kemampuan pemecahan masalah hingga kepekaan sosial adalah nilai-nilai yang tumbuh melalui proses ber-IMM.
Oleh karena itu, sangat wajar dan semestinya jika dosen di PTMA memberikan dukungan terhadap aktivitas IMM. Dukungan tersebut tidak harus selalu dalam bentuk keterlibatan langsung, tetapi setidaknya dalam bentuk sikap yang tidak menghambat. Memberikan ruang, memahami dinamika kaderisasi, serta tidak mempersulit mahasiswa yang aktif di IMM adalah bentuk kontribusi nyata dalam mendukung proses pembentukan kader.
Sebaliknya, ketika ada dosen yang justru menghambat, mempersulit, atau bahkan memandang negatif aktivitas IMM, maka hal tersebut perlu diingatkan. Sebab, sikap demikian tidak hanya menghambat proses kaderisasi, tetapi juga bertentangan dengan semangat Muhammadiyah itu sendiri yang menjadikan kaderisasi sebagai jantung gerakan.
Sebagaimana disampaikan oleh Zakiyuddin Baedhawy, bahwa pimpinan PTMA yang tidak berpihak pada kaderisasi IMM patut dievaluasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa keberpihakan terhadap IMM bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan dalam sistem PTMA. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Ma’mun Murod, bahwa siapapun yang berada dalam struktur PTMA memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan IMM, bukan justru mempersulitnya.
IMM adalah bagian dari Ortom Muhammadiyah, sementara PTMA adalah rumah besar bagi seluruh Ortom tersebut. Maka hubungan antara keduanya bukan relasi formal semata, tetapi hubungan ideologis dan strategis. IMM membutuhkan dukungan PTMA, dan PTMA membutuhkan IMM sebagai penyokong kaderisasi.
Pada akhirnya, mendukung IMM berarti ikut serta dalam menyiapkan masa depan. Dari rahim IMM lahir kader-kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Mereka adalah calon pemimpin yang akan melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah dan berkontribusi bagi bangsa.
Maka, sudah sepatutnya dosen PTMA mengambil peran dalam mendukung proses tersebut. Minimal, tidak menghambat. Karena dalam setiap langkah kaderisasi, sejatinya kita sedang menanam masa depan. (*)
