Di balik megahnya mimbar-mimbar khotbah dan gemanya pengeras suara, ada sebuah kegelisahan yang mendalam tentang masa depan umat. Tantangan zaman yang kian rumit—mulai dari krisis moral, derasnya arus digital, hingga persoalan sosial yang makin pelik—menuntut para penyambung lidah nabi untuk tidak lagi sekadar pandai berteori, melainkan hadir memeluk luka-luka umat dengan solusi yang nyata.
Semangat profetik dan sentuhan batin inilah yang menyeruak indah dalam acara Upgrading Muballigh Muda Muhammadiyah ke-2. Agenda yang diinisiasi oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong Lamongan ini digelar di tengah sejuk dan tenangnya pelukan alam Hotel dan Resort Arayana Trawas, Sabtu (27/6/2026).
Di tempat inilah, para pemuda pemegang estafet dakwah berkumpul, meluruhkan ego, dan menyalakan kembali api perjuangan mereka. Suasana ruang pertemuan terasa begitu khidmat ketika Dr Syamsuddin, MAg, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Bidang Tarjih dan Tajdid, mulai berbicara. Dengan suara yang teduh namun bergetar penuh penekanan, beliau mengupas tema yang menjadi kompas gerak persyarikatan: “Manhaj Islam Berkemajuan”.
Islam Adalah Cinta yang Membangun Peradaban
Di hadapan puluhan pasang mata muda yang menatap penuh harap, Dr. Syamsuddin mengingatkan kembali hakikat berislam yang sejati. Beliau berpesan agar Islam jangan pernah dipenjara dalam pemikiran yang sempit atau sekadar gugur kewajiban di atas sajadah.
“Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual semata, tetapi juga membangun peradaban yang maju, berilmu, berkeadilan, dan membawa rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya, menyentuh relung hati para peserta.
Beliau menjabarkan lima pilar utama Islam Berkemajuan yang harus mengalir dalam darah setiap muballigh: tauhid yang kokoh sebagai fondasi jiwa, kepatuhan mutlak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, keberanian menghidupkan ijtihad agar agama selalu kontekstual, sikap wasathiyah (moderat) yang merangkul dan tidak menghakimi, serta misi menebar kebaikan (rahmatan lil ‘alamin) melalui tindakan nyata.
Menyelaraskan Akal, Dalil, dan Ketulusan Hati
Salah satu momen yang paling menggetarkan sanubari adalah ketika Dr. Syamsuddin membedah Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Beliau mengajak para muballigh muda untuk tidak pincang dalam berpikir dengan mengintegrasikan tiga lentera: Bayani (kebenaran teks suci), Burhani (ketajaman akal dan sains), serta Irfani (kedalaman spiritualitas dan kebijaksanaan hati). “Ketiga pendekatan ini tidak boleh dipisahkan,” tuturnya dengan penuh ketulusan.
“Kolaborasi ketiganya membuat pemikiran Muhammadiyah selalu kokoh secara dalil, namun tetap rasional dan kaya akan ketulusan spiritualitas.” Pesan ini seolah menjadi tamparan lembut bahwa kecerdasan otak tak akan pernah berarti apa-apa tanpa keikhlasan dan kebersihan hati.
Lima Titipan Amanah untuk Dibawa Pulang
Sebelum menutup majelis yang penuh berkah tersebut, Dr. Syamsuddin memberikan “oleh-oleh” spiritual berupa lima peran wajib yang harus dipeluk erat oleh para Muballigh Muda Muhammadiyah ketika mereka kembali ke tengah masyarakat:
Pertama: Paham Agama: Memiliki pemahaman agama yang matang, kokoh, dan murni. Kedua: Jadi Teladan: Menjadi cermin kebaikan (uswah hasanah) yang perilakunya lebih keras bersuara daripada katanya. Ketiga: Dakwah yang Mencerahkan: Menyampaikan pesan-pesan agama yang sejuk, merangkul, dan menjauhkan umat dari perpecahan. Keempat: Kuasai Dunia Digital: Merebut ruang maya untuk dijadikan ladang penyemaian nilai-nilai kebajikan. Kelima: Hadirkan Solusi: Menjadi tempat bersandar bagi umat yang sedang kebingungan dan kesulitan.
Di akhir kelumit kisahnya di Trawas, Dr. Syamsuddin menitipkan sebuah kalimat penutup yang membangunkan jiwa-jiwa yang mengantuk: “Islam Berkemajuan bukan hanya untuk diwacanakan, melainkan harus diwujudkan dalam amal nyata.”
Pertemuan hari itu pun berakhir. Namun, di bawah langit Trawas yang mulai temaram, ada secercah harapan baru yang lahir. Para muballigh muda itu pulang tidak hanya membawa sertifikat, tetapi membawa dada yang sesak oleh rindu: rindu untuk membumikan Islam yang ramah, sejuk, dan menjadi jawaban atas rintihan umat. (ma’in)
