Kepala SMP Muhammadiyah 13 Panceng (Hamas School) Nurul Wakhidatul Ummah, M.Pd meraih Silver Medal kategori Kepala Sekolah/Madrasah Berprestasi dalam Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2026 di Dome UMM, Sabtu (8/8/2026). Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi kisah tentang ikhtiar menghadirkan pendidikan berkualitas dari sekolah yang tumbuh di tengah masyarakat desa. Terdapat perjalanan panjang tentang keikhlasan, kesungguhan, inovasi, dan kerja bersama.
Bagi Nurul, paggilan akrab Nurul Wakhidatul Ummah, capaian tersebut bukan sekadar pengakuan atas kerja seorang kepala sekolah. Medali itu menjadi bagian dari perjalanan panjang seluruh warga sekolah yang terus berusaha menghadirkan pendidikan terbaik bagi anak-anak di wilayah Panceng dan sekitarnya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh keluarga besar Hamas School yang selama ini terus belajar, bergerak, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak,” ungkapnya.
Hamas School tumbuh di tengah masyarakat desa dan kawasan pesisir. Di tempat seperti inilah ikhtiar pendidikan menemukan maknanya yang sesungguhnya.
Pendidikan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang berada di pusat kota. Anak-anak di desa pun memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, lingkungan belajar yang baik, kesempatan mengembangkan bakat, serta ruang untuk bermimpi setinggi-tingginya.
Menurut Nurul, memimpin sekolah di tengah masyarakat bukan selalu tentang kelengkapan fasilitas atau besarnya sumber daya. Ada proses panjang untuk membangun kepercayaan, menggerakkan guru, mendampingi siswa, melibatkan orang tua, dan menghadirkan program yang benar-benar dibutuhkan peserta didik.
Nurul bersama seluruh keluarga besar Hamas School berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuh bagi setiap anak. Tidak hanya mengejar nilai dan prestasi, tetapi juga membangun iman, karakter, kemandirian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai program sekolah. Penguatan keislaman dilakukan melalui *Islamic Center* dengan keunggulan Tahfidzul Qur’an. Pendidikan agama tidak hanya diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi dibiasakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik.
Di bidang sains, Science Center dikembangkan sebagai ruang tumbuhnya budaya riset. Siswa didorong untuk bertanya, mengamati lingkungan, melakukan penelitian, menemukan persoalan, dan menghasilkan karya.
Potensi akademik siswa diperkuat melalui Kelas Bintang, sementara perkembangan teknologi direspons melalui berbagai kegiatan dan kolaborasi bersama Telkom University serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
Sementara itu, Student Center menjadi ruang bagi peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan bakat serta minat mereka.
Semua program tersebut berangkat dari satu keyakinan sederhana: *setiap anak memiliki potensi, dan tugas sekolah adalah membantu mereka menemukan serta mengembangkannya.
