Eksistensi Diri dalam Pengabdian: Hakikat Hidup yang Bermanfaat

Eksistensi Diri dalam Pengabdian: Hakikat Hidup yang Bermanfaat
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“The best place to settle for a servant is in the hearts of others through the goodness he cultivates”
“(Sebaik-baiknya tempat menetap bagi seorang hamba adalah di dalam hati sesama melalui kebaikan yang ia tanam)”

​Manusia sebagai makhluk sosial akan mencapai puncak kebermaknaan hidup apabila mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya serta mengetuk pintu rahmat Tuhan melalui empati. Allah SWT berfirman:
​إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
​“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra: 7)

​Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebajikan pada hakikatnya adalah investasi yang manfaatnya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
​خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
​”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad dan Thabrani; Shahihul Jami’ No. 3289)

​Selain itu, kasih sayang terhadap sesama merupakan kunci turunnya rahmat dari Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam hadis:
​الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
​“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud No. 4941 dan Tirmidzi No. 1924)

​Hadis ini memotivasi kita untuk menebar empati kepada seluruh makhluk agar mendapatkan cinta dari Sang Pencipta. Dengan memperluas kemanfaatan diri, kita mengubah hubungan transaksional menjadi kasih sayang, karena pada setiap bantuan yang kita ulurkan, di sanalah pertolongan Allah sedang menanti.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search