Di tengah derasnya arus materialisme, individualisme dan pencarian identitas yang mewarnai kehidupan modern, buku “Haji” karya Ali Syariati hadir sebagai sebuah karya yang menggugah kesadaran. Buku ini tidak membahas tata cara haji sebagaimana lazim ditemukan dalam kitab-kitab fikih, tetapi mengupas makna filosofis, spiritual dan sosial yang terkandung di balik setiap ritual ibadah haji.
Bagi Ali Syariati, haji tidak semata-mata perjalanan fisik menuju Makkah. Haji adalah perjalanan eksistensial manusia menuju Allah, sebuah proses pembebasan diri dari segala bentuk perbudakan selain kepada-Nya.
Siapakah Ali Syariati?
Ali Syariati lahir pada tahun 1933 di Mazinan, Iran, dan wafat pada tahun 1977 di Inggris. Ia dikenal sebagai seorang sosiolog, intelektual Muslim, penulis, sekaligus aktivis yang memiliki pengaruh besar terhadap kebangkitan pemikiran Islam kontemporer di Iran.
Pendidikan formalnya ditempuh hingga meraih gelar doktor dalam bidang sosiologi dan sejarah agama di University of Paris. Selama berada di Prancis, ia banyak berinteraksi dengan pemikiran filsafat, sosiologi, antikolonialisme, dan gerakan pembebasan dunia ketiga.
Namun, berbeda dengan sebagian intelektual Muslim yang terpesona sepenuhnya oleh Barat, Syariati berupaya menggabungkan kedalaman spiritual Islam dengan semangat pembebasan sosial. Ia ingin menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mampu membangun peradaban, membebaskan manusia dari penindasan, dan menghidupkan kembali kesadaran umat.
Karena pemikirannya yang kritis terhadap rezim penguasa Iran saat itu, Syariati beberapa kali mengalami tekanan politik. Meski wafat dalam usia relatif muda, karya-karyanya terus dibaca hingga hari ini dan menjadi salah satu rujukan penting dalam pemikiran Islam modern.
Haji: Sebuah Drama Simbolik
Menurut Syariati, seluruh rangkaian ibadah haji merupakan sebuah “drama simbolik” yang dirancang Allah untuk mendidik manusia.
Ketika seorang jemaah mengenakan ihram, ia melepaskan seluruh atribut duniawi yang selama ini melekat pada dirinya. Tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, profesor dan petani. Semua berdiri dalam pakaian yang sama di hadapan Allah.
Di sinilah haji mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Selanjutnya, thawaf mengajarkan manusia untuk mengelilingi satu pusat kehidupan, yaitu Allah. Dalam kehidupan modern, banyak orang menjadikan harta, jabatan, popularitas, bahkan dirinya sendiri sebagai pusat orbit kehidupannya. Haji mengoreksi orientasi tersebut dan mengembalikan manusia kepada pusat yang benar.
Sementara itu, sa’i antara Shafa dan Marwah menjadi simbol perjuangan. Sebagaimana Hajar berlari mencari air untuk putranya, manusia juga diperintahkan untuk terus berikhtiar. Pertolongan Allah tidak datang kepada mereka yang pasif, tetapi kepada mereka yang berjuang.
Arafah: Kesadaran dan Pengenalan Diri
Aktivitas Haji di Arafah
Pada tanggal 9 Dzulhijjah, seluruh jamaah berkumpul di Padang Arafah. Tidak ada aktivitas fisik yang berat. Tidak ada thawaf. Tidak ada sa’i. Tidak ada lempar jumrah. Yang dilakukan hanyalah: Wukuf, Berdoa, Berdzikir, Bermunajat, Merenung dan Muhasabah.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Hajju ‘Arafah” (Haji itu adalah Arafah).
Mengapa justru berhenti dan berdiam diri menjadi inti haji? Menurut Syariati, karena setiap perubahan harus dimulai dari kesadaran. Nama “Arafah” berasal dari akar kata ‘arafa yang berarti “mengetahui”, “mengenal”, atau “memahami”.
Di sinilah manusia diajak menjawab pertanyaan paling mendasar:
– Siapa aku?
– Dari mana aku berasal?
– Untuk apa aku hidup?
– Ke mana aku akan kembali?
Menurut Syariati, sebagian besar manusia hidup tanpa pernah benar-benar mengenal dirinya. Mereka sibuk bekerja, mengejar jabatan, mengumpulkan harta dan memenuhi berbagai tuntutan hidup, tetapi tidak pernah berhenti untuk bertanya tentang makna kehidupannya.
Karena itu Allah membawa jutaan manusia ke sebuah padang yang luas dan gersang. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada simbol kemewahan. Tidak ada atribut kebesaran. Yang tersisa hanyalah manusia dan Tuhannya.
Dalam perspektif Syariati, Arafah adalah universitas kesadaran manusia. Sebelum mengubah dunia, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya.
Muzdalifah: Perenungan dan Pengendapan Kesadaran
Aktivitas Haji di Muzdalifah
Setelah matahari terbenam di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah. Di sana jamaah bermalam, berdzikir, mengumpulkan batu kerikil dan beristirahat
menunggu hingga menjelang Subuh.
Secara lahiriah tampak sederhana, namun Syariati melihat makna yang sangat besar. Nama Muzdalifah berasal dari kata yang bermakna “mendekat” atau “menghimpun”. Setelah memperoleh kesadaran di Arafah, manusia tidak langsung diperintahkan bertindak. Ia harus terlebih dahulu merenung, mengendapkan dan mengolah pengetahuan yang baru diperolehnya.
Menurut Syariati, banyak orang mengetahui kebenaran tetapi tidak pernah berubah. Mengapa? Karena pengetahuan belum turun ke dalam hati. Pengetahuan masih berada di kepala. Belum menjadi keyakinan, belum menjadi karakter, belum menjadi energi perubahan.
Muzdalifah adalah proses internalisasi. Jika Arafah adalah ruang kuliah, maka Muzdalifah adalah perpustakaan sekaligus ruang meditasi. Di sinilah manusia mencerna semua yang telah ia sadari. Di sini pula jamaah mengumpulkan batu-batu kecil.
Menurut Syariati, batu-batu itu bukan hanya benda untuk dilempar keesokan harinya. Batu-batu itu adalah simbol tekad yang sedang dikumpulkan. Sebab setelah seseorang mengenali dirinya dan memahami kebenaran, ia memerlukan keberanian untuk melawan berbagai penghalang perubahan.
Mina: Tindakan dan Perjuangan
Di Mina jamaah melakukan beberapa aktivitas penting, seperti: Melempar jumrah, Menyembelih kurban dan Tahallul (mencukur rambut). Inilah tahap yang paling aktif.
Jika Arafah adalah kesadaran dan perenungan, maka Mina adalah aksi. Menurut Syariati, banyak orang gagal pada tahap ini.
Mereka sadar, paham bahkan sering berbicara tentang perubahan. Tetapi tidak pernah bertindak. Karena itu perjalanan haji tidak berhenti di Arafah atau Muzdalifah. Ia harus berakhir di Mina.
Lempar Jumrah: Melawan Musuh Dalam Diri
Secara lahiriah jamaah melempar batu ke tiga jumrah. Namun bagi Syariati, yang dilempar bukanlah pilar batu. Yang dilempar adalah: Kesombongan, Keserakahan, Ketakutan, Kemalasan, Nafsu kekuasaan dan Cinta dunia yang berlebihan.
Batu yang dikumpulkan di Muzdalifah kini digunakan untuk menghancurkan berbagai berhala dalam diri. Syariati berulang kali menegaskan bahwa setan paling berbahaya bukanlah setan di luar manusia.
Melainkan setan yang telah bersembunyi di dalam dirinya sendiri.
Kurban: Membunuh Binatang dalam Jiwa
Bagian yang paling terkenal dari buku “Haji” adalah penafsiran Syariati mengenai kurban.
Menurutnya, hakikat kurban tidak berhenti pada penyembelihan kambing, sapi atau unta. Yang jauh lebih penting adalah menyembelih “binatang-binatang” yang hidup di dalam diri manusia.
Syariati menggunakan bahasa simbolik untuk menggambarkan berbagai sifat buruk manusia.
– Serigala melambangkan kerakusan dan keganasan. Ia adalah simbol manusia yang ingin menguasai segala sesuatu, menindas yang lemah, serta menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidup.
– Rubah melambangkan kelicikan. Sifat ini tampak pada mereka yang pandai memanipulasi orang lain, menggunakan tipu daya untuk memperoleh keuntungan, dan menjadikan kecerdikan sebagai alat untuk membenarkan segala cara.
– Ular melambangkan kedengkian dan permusuhan tersembunyi. Seseorang mungkin tampak baik di hadapan orang lain, tetapi menyimpan kebencian dan iri hati yang terus menggerogoti jiwanya.
– Babi menjadi simbol syahwat yang tidak terkendali. Tidak hanya terkait persoalan seksual, melainkan seluruh bentuk hawa nafsu yang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan utama kehidupan.
– Anjing Rakus melambangkan ketamakan. Berapa pun yang dimiliki terasa tidak pernah cukup. Jabatan, kekayaan, penghargaan, dan popularitas terus dikejar tanpa batas.
– Merak melambangkan kesombongan. Manusia sering kali ingin dipuji, dikagumi, dan menjadi pusat perhatian. Ia membangun citra, tetapi melupakan ssubstansi
– Kera melambangkan sikap ikut-ikutan tanpa pemikiran kritis. Ia meniru gaya hidup, budaya, atau pemikiran orang lain tanpa memahami apakah hal tersebut benar atau salah
– Keledai melambangkan kebodohan yang disengaja. Bukan karena tidak memiliki kemampuan berpikir, melainkan karena enggan menggunakan akal untuk mencari kebenaran.
Bagi Syariati, seluruh “binatang” ini harus disembelih sebelum manusia menyembelih hewan kurbannya.
Tahallul: Kelahiran Baru
Setelah seluruh proses selesai, jamaah mencukur rambutnya.
Bagi Syariati, ini bukan sekadar aturan manasik.
Ini adalah simbol kelahiran kembali.
Seakan-akan manusia lama telah mati.
Yang lahir adalah manusia baru.
Manusia yang telah mengenal dirinya di Arafah.
Manusia yang telah merenungkan kebenaran di Muzdalifah.
Manusia yang telah berani bertindak di Mina.
Apa Ismail dalam Hidup Kita?
Selain berbicara tentang binatang-binatang dalam diri, Syariati juga mengajukan pertanyaan yang sangat terkenal:
“Apa Ismail-mu?”
Bagi Nabi Ibrahim, Ismail adalah sesuatu yang paling dicintainya.
Dalam kehidupan manusia modern, “Ismail” bisa berbentuk apa saja: Harta, Jabatan, Popularitas, Ambisi, Bisnis, Kekuasaan bahkan ego diri sendiri.
Ketika sesuatu yang dicintai mulai menggeser posisi Allah dalam hati, maka itulah “Ismail” yang harus siap dikorbankan.
Inilah sebabnya Syariati menegaskan bahwa kurban bukan semata-mata persoalan darah dan daging.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Terakhir, kekuatan utama buku “Haji” terletak pada kemampuannya mengubah cara pandang pembaca terhadap ibadah. Ritual yang selama ini mungkin dipahami sebagai serangkaian gerakan fisik dijelaskan sebagai simbol-simbol yang sarat makna.
Melalui buku ini, Ali Syariati mengajak umat Islam memahami bahwa haji bukanlah wisata religi, bukan pula sekadar kewajiban yang harus ditunaikan sekali seumur hidup. Haji adalah sekolah pembentukan manusia.
Manusia yang meninggalkan kesombongan menuju kerendahan hati. Manusia yang meninggalkan ketamakan menuju kepedulian. Manusia yang meninggalkan ego menuju penghambaan kepada Allah.
Pada akhirnya, pesan terbesar buku ini dapat diringkas dalam satu kalimat:
“Perjalanan menuju Ka’bah seharusnya berakhir dengan perjalanan menuju diri sendiri. Sebab setelah pulang dari Makkah, yang dituntut berubah bukan Ka’bah, melainkan manusia yang mengelilinginya.” (*)
