Faktor Penyebab Lahirnya Kader Oportunis di Muhammadiyah

Faktor Penyebab Lahirnya Kader Oportunis di Muhammadiyah
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

7. Pengaruh Materialisme dan Pragmatisme
Kader hidup di tengah masyarakat yang semakin materialistis. Ukuran keberhasilan sering kali dikaitkan dengan jabatan, kekayaan, popularitas, fasilitas, dan pengaruh. Arus tersebut tentu dapat masuk ke dalam organisasi.
Seorang kader yang awalnya aktif karena idealisme dapat berubah ketika organisasi memberinya akses kepada berbagai fasilitas dan kekuasaan. Jika spiritualitas dan integritasnya tidak kuat, fasilitas dapat berubah menjadi tujuan.

Penelitian mengenai pelemahan ideologi anggota Muhammadiyah juga menunjukkan adanya tantangan globalisasi dan modernisasi terhadap keteguhan ideologis, sehingga penguatan kaderisasi dan pembinaan ideologi menjadi penting.

8. Lemahnya Tradisi Muhasabah
Kader yang jarang melakukan muhasabah mudah terjebak dalam pembenaran diri. Ketika mendapatkan jabatan, ia menganggap dirinya memang paling layak. Ketika dikritik, ia menganggap orang lain iri. Ketika kalah dalam musyawarah, ia menganggap organisasi tidak adil. Ketika kepentingannya tidak terpenuhi, ia merasa perjuangannya tidak dihargai.

Muhasabah diperlukan agar kader mampu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya masih ikhlas? Apakah saya sedang memperjuangkan Muhammadiyah atau memperjuangkan diri sendiri? Apakah saya siap kehilangan jabatan tetapi tetap berkhidmat? Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sangat penting untuk menjaga kesehatan spiritual seorang kader.

9. Lemahnya Pembinaan Pasca-Perkaderan
Kaderisasi tidak boleh berhenti ketika sebuah pelatihan selesai. Salah satu prinsip penting perkaderan adalah kesinambungan. Muhammadiyah sendiri memandang kaderisasi sebagai proses pembinaan tulang punggung gerakan dan pewarisan aspirasi perjuangan. Karena itu, setelah kader mengikuti Baitul Arqam, Darul Arqam, pelatihan kepemimpinan, atau perkaderan lainnya, harus ada pendampingan, penugasan, evaluasi, dan pembinaan lanjutan.

Tanpa itu, nilai yang diperoleh dalam perkaderan dapat melemah ketika kader memasuki lingkungan yang penuh tekanan, kepentingan, dan godaan kekuasaan. Muhammadiyah bahkan terus menekankan pentingnya penguatan ideologi karena kader yang telah dikader pun dapat mengalami pelunturan nilai ketika berinteraksi dengan berbagai pengaruh di luar organisasi.

10. Politik Kelompok dan Oligarki Kecil
Oportunisme semakin berbahaya ketika bertemu dengan politik kelompok. Kader mulai membangun kelompok pendukung, mengumpulkan loyalis, dan memetakan siapa yang mendukung atau tidak mendukung dirinya. Jika hal ini berkembang, musyawarah dapat kehilangan substansi. Keputusan tidak lagi didasarkan pada argumen terbaik, tetapi pada jumlah dukungan.

Pada tahap yang lebih serius, terbentuklah semacam oligarki kecil, yaitu konsentrasi pengaruh pada segelintir orang. Dalam kondisi demikian, kader yang kritis dapat tersisih sementara kader yang loyal secara personal justru memperoleh ruang lebih besar. Jika dibiarkan, budaya seperti ini akan merusak prinsip kolektif-kolegial dan melemahkan regenerasi.

Dampak Kader Oportunis terhadap Persyarikatan
Kader oportunis tidak hanya menjadi masalah moral individual. Jika jumlahnya semakin banyak dan perilakunya menjadi budaya, dampaknya dapat dirasakan oleh organisasi.

Pertama, melemahkan kepercayaan. Warga akan sulit percaya apabila melihat jabatan digunakan untuk kepentingan tertentu.

Kedua, merusak kaderisasi. Kader yang berkualitas tetapi tidak memiliki akses kepada kelompok tertentu dapat kehilangan motivasi.

Ketiga, menciptakan konflik internal. Persaingan kepentingan dapat berubah menjadi konflik antarpribadi dan antarkelompok.

Keempat, menggeser orientasi dakwah. Energi organisasi habis untuk perebutan posisi, sementara persoalan umat justru kurang mendapatkan perhatian.

Kelima, melahirkan generasi yang salah belajar.Kader muda akan meniru apa yang mereka lihat. Jika yang mereka lihat adalah budaya transaksional, mereka dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.

Bagaimana Mencegah Lahirnya Kader Oportunis?
Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan nasihat moral. Diperlukan pembenahan sistem sekaligus pembinaan spiritual.
Pertama: Memperkuat ideologi; Pengajian, Baitul Arqam, perkaderan formal, dan pembinaan informal harus benar-benar menjadi sarana internalisasi ideologi. Pengajian juga dipandang sebagai salah satu sarana membangun dan membentengi ideologi kader.

Kedua: Menghidupkan keteladanan; Pimpinan harus menunjukkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan fasilitas untuk memperbesar kepentingan pribadi.

Ketiga: Membangun meritokrasi; Promosi kader harus berdasarkan kapasitas, integritas, rekam pengabdian, dan kebutuhan organisasi.

Keempat: Memperkuat musyawarah; Perbedaan pendapat harus dipandang sebagai bagian dari dinamika organisasi, bukan sebagai ancaman terhadap kepemimpinan.

Kelima: Mencegah konflik kepentingan; Kader yang memegang amanah harus mampu memisahkan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan Persyarikatan.

Keenam: Membangun evaluasi kepemimpinan; Setiap amanah perlu memiliki mekanisme evaluasi yang sehat, objektif, dan tidak didasarkan pada suka atau tidak suka.

Ketujuh: Menanamkan spiritualitas pengabdian; Kader harus selalu diingatkan bahwa pada akhirnya yang dinilai bukanlah jabatan yang pernah dipegang, tetapi amal yang dilakukan dan amanah yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

 

Tinggalkan Balasan

Search