Ada penyakit zaman modern yang tidak selalu terlihat, tetapi diam-diam menggerogoti ketenangan: FOMO (Fear of Missing Out), rasa takut tertinggal dari kehidupan orang lain.
Cukup membuka Instagram atau TikTok, kita bisa melihat orang lain sedang berlibur, membeli kendaraan baru, membangun rumah, meraih jabatan, lulus kuliah, atau menikmati pencapaian yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kehidupan mereka menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri.
Kita mulai bertanya, “Mengapa saya belum seperti dia?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal kegelisahan yang panjang.
Masalahnya bukan karena kita ingin maju. Keinginan untuk berkembang adalah sesuatu yang baik. Masalah muncul ketika kemajuan orang lain membuat kita merasa gagal, minder, iri, bahkan memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Media sosial akhirnya bukan hanya tempat berbagi informasi. Ia dapat berubah menjadi ruang perbandingan tanpa akhir.
Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat proses. Melihat senyum, tetapi tidak mengetahui air mata. Melihat kemewahan, tetapi tidak mengetahui beban di baliknya. Namun, manusia sering membandingkan kehidupan nyata miliknya dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat relevan:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa’: 32)
Ayat ini tidak melarang kita melihat keberhasilan orang lain. Yang perlu dijaga adalah hati agar tidak menjadikan nikmat orang lain sebagai alasan untuk membenci kehidupan sendiri. Sebab terlalu sering melihat ke atas dapat membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita juga sedang berdiri di atas banyak nikmat.
Di sinilah qanaah menjadi penting.
Qanaah bukan berarti pasrah terhadap keadaan. Bukan pula berarti berhenti bercita-cita. Qanaah adalah kemampuan hati untuk menerima pemberian Allah dengan penuh syukur, sembari tetap berusaha memperbaiki kehidupan.
Orang yang qanaah boleh memiliki cita-cita besar. Ia boleh ingin kaya, sukses, berpendidikan tinggi, memiliki rumah yang nyaman, dan kehidupan yang lebih baik. Tetapi ia tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga dirinya.
Ia bekerja keras karena ingin berkembang, bukan karena ingin terlihat lebih hebat.
Ia membeli sesuatu karena membutuhkan, bukan karena takut dianggap tertinggal.
Ia mengejar keberhasilan, tetapi tidak kehilangan rasa syukur ketika perjalanan hidupnya belum seperti yang diharapkan.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)
Persoalan manusia terkadang bukan karena nikmatnya terlalu sedikit, tetapi karena rasa syukurnya terlalu tipis.
Kita sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, lalu lupa menghitung apa yang sudah diberikan Allah.
Kita mengeluh belum memiliki rumah besar, padahal masih memiliki tempat untuk pulang. Kita merasa belum sukses, padahal masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk berjuang. Kita merasa hidup tidak sempurna, padahal masih memiliki keluarga, sahabat, pekerjaan, dan waktu untuk memperbaiki diri.
Barangkali kita bukan sedang kekurangan nikmat.
Kita hanya terlalu sering melihat nikmat orang lain.
Allah juga mengingatkan:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Taha: 131)
Pesan ini terasa sangat kuat di era media sosial. Tidak semua yang kita lihat harus kita miliki. Tidak semua yang sedang tren harus kita ikuti. Dan tidak semua keberhasilan orang lain harus menjadi standar keberhasilan kita.
Sebab jika hidup terus dijalani dengan perbandingan, tidak akan pernah ada kata cukup.
Hari ini kita ingin kendaraan baru. Setelah memilikinya, kita melihat kendaraan yang lebih mahal. Kita menginginkan rumah yang lebih besar, lalu melihat rumah yang lebih mewah. Kita mengejar satu pencapaian, kemudian muncul pencapaian lain yang ingin dikejar.
Dunia tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”
Maka hati sendirilah yang harus belajar mengatakan: cukup.
Bukan cukup untuk berhenti berusaha, tetapi cukup untuk berhenti iri. Cukup untuk menerima ketetapan Allah tanpa kehilangan semangat memperbaiki diri.
Pada akhirnya, kita tidak perlu takut tertinggal dari manusia. Yang perlu kita takutkan adalah tertinggal dalam rasa syukur dan kedekatan kepada Allah.
FOMO membuat mata sibuk melihat kehidupan orang lain. Qana’ah mengajarkan kita kembali melihat kehidupan sendiri.
Karena bahagia bukan tentang memiliki semua yang dimiliki orang lain. Bahagia adalah ketika kita mampu menerima apa yang Allah berikan, memperjuangkan apa yang belum kita miliki, dan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan bagian setiap hamba-Nya.
Mungkin selama ini kita tidak benar-benar kekurangan.
Kita hanya terlalu sibuk membandingkan. (*)
