Guru Bukan Buruh, Tetapi Pewaris Nabi

Guru Bukan Buruh, Tetapi Pewaris Nabi
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Dalam dinamika pendidikan modern, sering kali profesi guru direduksi sekadar sebagai pekerja formal yang terikat jam, kurikulum, dan target administratif. Guru diposisikan layaknya “buruh pendidikan” yang dinilai dari output angka dan laporan. Namun dalam perspektif Islam, posisi ini jauh melampaui batas-batas material tersebut. Guru adalah waratsat al-anbiyā’—pewaris para nabi—yang memikul amanah ilahiah dalam membimbing manusia menuju kebenaran.

Landasan utama konsep ini bersumber dari sabda Nabi ﷺ:

> إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”¹

Hadis ini menunjukkan bahwa tugas utama para nabi—yakni menyampaikan ilmu, membina akhlak, dan menuntun umat—dilanjutkan oleh para ulama dan guru. Dengan demikian, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan misi peradaban yang memiliki dimensi ruhani dan tanggung jawab akhirat.

Guru dalam Perspektif Tarbiyah Islamiyah

Para pakar tarbiyah Islamiyah menekankan bahwa guru adalah murabbi, bukan sekadar mu‘allim. Mu‘allim mengajarkan ilmu, sedangkan murabbi membentuk kepribadian. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa seorang guru hendaknya meneladani kasih sayang para nabi dalam mendidik murid, serta mengajar bukan untuk mencari dunia, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.²

Senada dengan itu, Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulād fil Islām menyebutkan bahwa pendidikan sejati adalah proses penanaman iman, akhlak, dan tanggung jawab, bukan sekadar transfer pengetahuan.³ Guru dalam kerangka ini berperan sebagai pembimbing ruhani yang mengarahkan murid kepada kesempurnaan insan.

Sementara itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan bahwa krisis pendidikan modern terletak pada hilangnya adab. Guru, menurutnya, harus menjadi teladan adab sebelum menjadi penyampai ilmu.⁴ Hal ini memperkuat bahwa posisi guru sebagai pewaris nabi bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena integritas moral dan spiritualnya.

Tantangan Modern: Antara Profesionalisme dan Idealisme

Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pendidikan hari ini menuntut profesionalisme: sertifikasi, administrasi, dan standar kinerja. Hal ini penting untuk menjaga kualitas. Namun, bahaya muncul ketika orientasi guru bergeser sepenuhnya menjadi materialistik—mengajar hanya demi gaji, bukan demi amanah.

Islam tidak menafikan hak materi guru. Bahkan para ulama membolehkan mengambil upah dari mengajar. Namun, orientasi utama tetap harus dijaga. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa mengambil upah atas pengajaran boleh selama niat utamanya tetap untuk ibadah dan menyebarkan ilmu.⁵

Menjadi Pewaris Nabi di Era Kini

Menjadi guru sebagai pewaris nabi berarti:

1. Menjaga keikhlasan niat, bahwa mengajar adalah ibadah.

2. Menjadi teladan akhlak, bukan hanya penyampai materi.

3. Mendidik dengan kasih sayang, sebagaimana metode para nabi.

4. Menghidupkan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran, bukan sekadar kurikulum formal.

Ungkapan “guru bukan buruh” bukanlah penolakan terhadap profesionalisme, tetapi penegasan bahwa guru memiliki martabat lebih tinggi dari sekadar pekerja teknis. Ia adalah penjaga cahaya ilmu dan pembentuk generasi.

Pada akhirnya, jika guru menyadari dirinya sebagai pewaris nabi, maka ruang kelas bukan sekadar tempat belajar, melainkan medan dakwah dan pembinaan umat. Dari sanalah peradaban besar dilahirkan—bukan dari sistem semata, tetapi dari guru-guru yang sadar akan amanah sucinya. (*)

Catatan Kaki:

1. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab al-‘Ilm, no. 3641.
2. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), 1:55.
3. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulād fil Islām (Kairo: Dar al-Salam, 1992), 1:23.
4. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ta’dib as the Basis of Education (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999), 15.
5. Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), 9:85.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search