Kompetensi guru SMK tidak boleh berhenti pada penguasaan teori dan praktik di dalam ruang kelas. Guru dituntut memahami bagaimana suatu keterampilan dapat bernilai ekonomi dan relevan dengan kebutuhan dunia industri secara nyata.
Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, saat menghadiri Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 di BBPPMPV Pertanian Cianjur. Menurutnya, penguasaan kompetensi teknis wajib disertai dengan business mindset—cara berpikir yang mendorong seseorang untuk terus melihat peluang dan menciptakan nilai tambah.
“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi, itu yang bikin frustrasi. Akhirnya, kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip.
Atip menegaskan bahwa business mindset tidak sekadar berbicara soal keuntungan finansial, melainkan keberanian mencari potensi dari sumber daya yang ada. Di sektor pertanian misalnya, kompetensi guru dapat dikembangkan dari hulu ke hilir—mulai dari proses produksi, agribisnis, hingga agrowisata.
Senada dengan Atip, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menekankan pentingnya eksekusi setelah pelatihan usai. Pengalaman yang didapat guru harus diimplementasikan di sekolah dan melibatkan para siswa, bukan sekadar menjadi tumpukan teori.
“Yang paling penting, di samping mengajar, coba dipraktikkan. Kalau upskilling di sini lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, itu tidak akan banyak berkembang. Tunjukkan ke anak-anak (bahwa kita bisa), supaya mereka berpikir ternyata pertanian itu asyik,” tutur Tatang.
Pelatihan ini diikuti oleh 147 guru SMK dari tujuh bidang keahlian, yaitu Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan.
Melalui tahapan ini, para guru dapat menyerap langsung budaya kerja industri. Harapannya, business mindset dan pengalaman lapangan yang diperoleh para guru dapat dibawa ke ruang kelas—mengubah persepsi konvensional tentang pertanian sekaligus memotivasi siswa untuk berinovasi. (*/tim)
