Hadapi Perubahan Global, Abdul Mu’ti Ajak Sarjana Jadi Perancang Masa Depan

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti.
www.majelistabligh.id -

Dunia terus bergerak dinamis, didorong oleh akselerasi teknologi dan informasi yang memaksa manusia untuk terus bergerak maju. Menghadapi disrupsi yang cepat dan drastis ini, masyarakat dituntut memiliki pola pikir berkembang (growth mindset).

Pesan tersebut disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, saat menghadiri Wisuda XVII Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung pada Kamis (2/7/2026).

Merujuk pada konsep psikolog Carol Dweck, Mu’ti mengingatkan para sarjana baru untuk mempersiapkan diri lebih awal. Menurutnya, generasi muda tidak boleh sekadar menjadi pengikut arus zaman.

“Sarjana bukan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, tetapi mereka yang mampu merancang perubahan itu sendiri,” tegas Mu’ti.

Peluang Baru di Tengah Pergeseran Dunia Kerja

Mu’ti menambahkan bahwa perubahan global secara otomatis akan mengubah lanskap dunia kerja. Meski berbagai kajian memprediksi hilangnya ribuan jenis pekerjaan konvensional, di saat yang sama akan lahir berbagai profesi baru yang mengutamakan kreativitas, inovasi, dan adaptabilitas.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci utama penentu keberhasilan di masa depan. Faktor akademis saja tidak cukup untuk bersaing di era modern.

“Yang menentukan keberhasilan Saudara bukan hanya nilai akademik, melainkan juga karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, kemauan untuk terus belajar, serta keberanian menghadapi tantangan,” ujarnya di hadapan para wisudawan.

Dalam kesempatan yang sama, Mu’ti juga memaparkan data bahwa Indonesia saat ini masih membutuhkan sekitar 561 ribu guru untuk memenuhi kebutuhan pendidikan nasional. Ia mendorong para lulusan, khususnya dari fakultas keguruan dan ilmu kependidikan, untuk menangkap peluang besar ini.

Ia berharap para lulusan Unmuh Babel tidak menganggap wisuda sebagai akhir dari perjalanan intelektual, melainkan momentum awal untuk mengabdi, berkarya, dan menjadi pelopor perubahan. Langkah ini dinilai selaras dengan tema wisuda tahun ini: “Meneguhkan Keunggulan, Membangun Peradaban Sarjana Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan.” (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search