Ketika Manusia Tidak Memahami Jalan yang Dipilih Allah

Ketika Manusia Tidak Memahami Jalan yang Dipilih Allah
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Manusia hidup dengan kemampuan membaca, menimbang, memilih, dan berharap. Ia menyusun rencana berdasarkan apa yang diketahuinya, mengejar sesuatu yang dianggap baik, menghindari sesuatu yang dianggap buruk, lalu berharap kehidupan berjalan sebagaimana yang telah dirancang oleh pikirannya.

Namun di titik tertentu, kehidupan sering membawa manusia ke sebuah kenyataan yang tidak pernah ia rencanakan: sesuatu yang diharapkan tidak datang, sesuatu yang dicintai pergi, pintu yang telah diketuk berkali-kali justru tertutup, dan jalan yang diyakini sebagai jalan terbaik tiba-tiba berbelok ke arah yang sama sekali tidak dipahami. Di sinilah manusia berhadapan dengan salah satu persoalan epistemologis paling mendasar: apakah apa yang tidak kita pahami berarti tidak memiliki hikmah?

Nasihat tentang ridha terhadap qadha dan rahasia pemberian Allah mengajak manusia melihat kehidupan dari horizon yang lebih luas. “Sesungguhnya segala yang terjadi dalam kehidupan ini adalah ketetapan Allah dan ujian bagi hamba-hamba-Nya.” Kalimat ini tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir, berhenti berusaha, atau menerima segala sesuatu secara pasti.

Sebaliknya, ia mengajarkan sebuah kesadaran yang jauh lebih mendasar: realitas yang kita alami jauh lebih luas daripada realitas yang mampu kita ketahui. Manusia hanya melihat satu potongan peristiwa, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan jaringan sebab, akibat, waktu, kemungkinan, dan hikmah yang berada di baliknya.

Di sinilah Epistemologi Qurani menemukan salah satu fondasinya: manusia harus mengetahui bukan hanya apa yang dapat diketahuinya, tetapi juga menyadari batas dari apa yang dapat diketahuinya. Ini bukan kelemahan intelektual. Justru inilah kedewasaan intelektual. Orang yang merasa bahwa apa yang tidak mampu dipahaminya pasti tidak memiliki makna sedang menjadikan dirinya sebagai ukuran mutlak realitas.

Sebaliknya, manusia tauhidik memahami bahwa pengetahuannya terbatas, sementara ilmu Allah tidak terbatas. Karena itu Al-Qur’an mengingatkan: “Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini bukan penghinaan terhadap akal manusia, melainkan pendidikan terhadap kesombongan epistemologis manusia.

Manusia tetap diperintahkan untuk membaca. Iqra’ tetap menjadi pintu pertama. Ia harus membaca tanda-tanda Allah pada wahyu, alam, sejarah, masyarakat, dan dirinya sendiri. Ia harus menggunakan akal, mencari bukti, menimbang sebab dan akibat, serta mengambil keputusan dengan penuh kesadaran. Tetapi setelah seluruh kemampuan intelektualnya digunakan, ia tetap harus menyadari bahwa tidak semua hikmah kehidupan akan tersingkap di hadapannya. Membaca realitas dengan benar bukan berarti mengetahui seluruh rahasianya. Justru salah satu hasil tertinggi dari pengetahuan adalah kesadaran bahwa ada wilayah realitas yang berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Karena itu, tauhid bukan hanya keyakinan tentang keesaan Allah; tauhid juga merupakan koreksi terhadap posisi manusia sebagai penafsir realitas. Manusia tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat yang menentukan apa yang baik dan buruk hanya berdasarkan keinginan sesaatnya. Ia belajar mengatakan: apa yang aku sukai belum tentu baik bagiku, dan apa yang tidak kusukai belum tentu buruk bagiku. Kehendakku bukanlah ukuran terakhir kebenaran. Perasaanku bukanlah hakim terakhir atas realitas. Dan pengalaman sesaatku bukanlah keseluruhan cerita kehidupan. Ada kehendak Allah yang lebih luas daripada kehendakku, dan ada pengetahuan Allah yang melampaui pengetahuanku.

Dari sinilah lahir yaqin. Keyakinan bukan berarti manusia berhenti mencari penjelasan, tetapi ia tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk berburuk sangka kepada Allah. Ia boleh menangis ketika kehilangan, boleh kecewa ketika harapan gagal, boleh merasa berat ketika jalan hidup berubah. Namun di balik seluruh rasa itu terdapat sebuah fondasi yang tidak runtuh: Allah tidak pernah salah dalam menentukan. Yang mungkin salah adalah cara manusia membaca apa yang sedang ditentukan kepadanya.

 

Tinggalkan Balasan

Search