Jalan dakwah bukan sekadar jalan untuk memulai, tetapi jalan untuk bertahan sampai akhir. Di situlah renungan Fathi Yakan dalam bukunya “al-Mutasāqiṭūn fī Ṭarīq al-Da‘wah” terasa dalam: tidak semua yang berangkat dengan semangat akan sampai ke ujung perjalanan. Ada yang letih, kehilangan orientasi, bahkan gugur sebelum sadar bahwa hatinya telah jauh dari perjuangan.
Pertama, keguguran sering bermula dari dalam. Ketika keikhlasan menipis, ibadah menjadi rutinitas, ego membesar, pujian dicari, & amanah menjadi panggung pengakuan, dakwah kehilangan ruhnya. Seseorang mungkin masih berada dalam struktur, tetapi jiwanya telah lama meninggalkan jalan.
Kedua, aktivitas tidak boleh menggantikan pembinaan (ri’āyah & tarbiyah). Rapat, program, jabatan, & kesibukan organisasi dpt membuat seseorang tampak aktif, tetapi blm tentu semakin dekat kepada Allah. Semakin besar amanah, semakin besar kebutuhan memperbarui niat & membersihkan hati.
Ketiga, tidak semua yang berguguran boleh disalahkan. Organisasi harus bermuhasabah. Ada kader yg menjauh karena tidak didengar, salah ditempatkan, tidak dirawat ketika terluka, atau dibiarkan menghadapi masalah sendirian. Kepemimpinan dakwah bukan sekadar menggerakkan program, tetapi merawat manusia.
Keempat, penyakit berbahaya ialah konflik ego: merasa paling berjasa, sulit menerima kritik, cemburu, berebut pengaruh, & menjadikan perbedaan sbg permusuhan. Ketika “aku” lebih besar daripada “kita”, perjuangan kehilangan keberkahannya.
Kelima, jalan dakwah menuntut keseimbangan. Ghuluw dapat menjatuhkan, tetapi kelonggaran tanpa batas pun melunturkan komitmen. Tekanan keluarga, ekonomi, lingkungan, dan panjangnya perjuangan juga menguji keteguhan. Karen itu ukhuwah harus menjadi ruang saling menguatkan.
Pada akhirnya, organisasi hanyalah wasilah; Allah adalah tujuan. Jabatan berganti, struktur berubah, manusia datang dan pergi. Yang harus tetap hidup adalah niat mengabdi kepada-Nya.
Pelajaran terbesar Fathi Yakan ialah memastikan kita tidak menjadi sebab jatuhnya saudara seperjuangan. Gerakan dakwah yang sehat bukan hanya merekrut, tetapi menumbuhkan, merawat, & menjaga manusia istiqamah hingga bertemu Allah. (*)
