Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa potensi besar Muhammadiyah perlu dioptimalkan melalui penguatan sistem yang terintegrasi dan kohesivitas antarunit. Hal itu ia sampaikan dalam ceramah pada kegiatan Halalbihalal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu (18/4/2026).
Dalam pemaparannya, Haedar menilai Muhammadiyah telah memiliki modal sistem yang kuat dan saling terkoneksi. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak optimal karena masih terkendala ego sektoral di berbagai lini.
“Potensi kita besar, tetapi perlu dikapitalisasi agar makin produktif dan kohesif,” ujarnya.
Ia mencontohkan upaya konsolidasi finansial di lingkungan Muhammadiyah yang masih menghadapi tantangan. Menurutnya, setiap unit memiliki kepentingan dan “dapur” masing-masing sehingga tidak mudah disatukan.
Meski demikian, Haedar mengapresiasi langkah awal sinergi yang sudah berjalan. Sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) serta Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) mulai saling membantu, termasuk antara unit besar dan kecil di berbagai daerah.
Ia juga menyinggung rencana pengembangan pabrik infus Surya Vena yang diharapkan mendapat dukungan dari seluruh rumah sakit Muhammadiyah. Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut bergantung pada komitmen bersama untuk mengutamakan kepentingan persyarikatan.
“Harus ada keberanian melepas kepentingan masing-masing. Mungkin keuntungan sedikit berkurang, tetapi keberkahan lebih besar,” katanya.
Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki kekuatan besar, mulai dari 23 fakultas kedokteran, 21 perguruan tinggi terakreditasi unggul, hingga 16 program pendidikan dokter spesialis. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya memenuhi harapan jika tidak diiringi integrasi yang kuat.
Ia menilai kunci utama terletak pada kemampuan menyatukan seluruh subsistem dalam satu kesatuan organisasi. Hal itu, menurutnya, merupakan wujud nyata dari silaturahmi yang melampaui sekadar hubungan personal.
Lebih lanjut, Haedar mengkritisi masih adanya konflik internal di tingkat daerah, mulai dari cabang hingga wilayah. Ia menilai konflik tersebut sebagai bentuk sikap lama yang seharusnya sudah ditinggalkan.
“Persoalan seperti itu harus selesai. Itu sikap primitif jika terus dipelihara,” ujarnya.
Dalam konteks global, Haedar juga menyoroti konflik kemanusiaan yang terjadi akibat ego para pemimpin dunia. Ia menyinggung dampak besar perang dunia hingga konflik modern yang dinilai lahir dari hilangnya kebijaksanaan manusia.
Menurutnya, Islam seharusnya tampil sebagai paradigma alternatif untuk membangun peradaban yang lebih damai dan berkeadilan. Namun, hal itu harus dimulai dari kekuatan internal umat Islam sendiri.
Selain itu, Haedar mengingatkan pentingnya kejernihan berpikir di tengah derasnya arus informasi, termasuk di media sosial. Ia menekankan agar warga Muhammadiyah tetap objektif, komprehensif, dan bijaksana dalam menyikapi berbagai isu.
Ia juga menyoroti pentingnya internalisasi pemikiran organisasi, termasuk ajaran Ahmad Dahlan, yang dinilai telah meletakkan fondasi kuat bagi gerakan Islam berkemajuan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan konsep, melainkan pada kemampuan kader dan pimpinan dalam menginternalisasi serta mengimplementasikannya dalam kehidupan organisasi.
“Kita harus mampu menjadikan pikiran organisasi sebagai pikiran kita, lalu menginstitusionalisasikannya dalam kepemimpinan,” tegasnya.
Haedar menambahkan, pimpinan Muhammadiyah perlu menyeimbangkan sikap konstruktif dan kritis dengan tetap mengedepankan kebijaksanaan. Dengan demikian, Muhammadiyah dapat terus menjadi kekuatan umat yang unggul di tengah dinamika zaman. (Nidlom)
