Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyerukan orientasi baru dalam pola dakwah umat, yakni memberikan ceramah tentang ekonomi umat dalam pengajian Ahad Pagi.
Dalam acara Halalbihalal Majelis Tabligh PWM Jatim yang digelar di Perumahan Istana Chofa, Darmo Satelit, Surabaya, Ahad (19/4/2026), Anggota MT PWM Jatim, Kyai Nadjih Ihsan menegaskan bahwa isu ekonomi bukanlah perkara sekunder. Hal ini sejalan dengan instruksi Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, yang mengharapkan agar mimbar-mimbar pengajian Ahad Pagi mulai bertransformasi menjadi ruang diskusi strategis mengenai ekonomi umat.
Kyai Nadjih Ihsan membedah konsep ekonomi Islam melalui terminologi Al-Qur’an, yakni Tijarah. Secara harfiah, tijarah berarti perdagangan atau perniagaan. Namun, dalam tinjauan Fiqih Muamalah, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar pertukaran materi untuk mencari margin keuntungan.

“Seluruh bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial—baik itu murabahah, salam, mudharabah, musyarakah, istishna’, hingga ijarah—adalah manifestasi dari tijarah. Namun, dalam spektrum yang lebih luas, tijarah adalah transaksi langsung dengan Allah,” ujar Kyai Nadjih dengan nada tegas di hadapan para jemaah.
Ia menekankan bahwa memahami tijarah berarti memahami hakikat kepemilikan. Di dalam Islam, manusia tidak pernah memiliki aset secara absolut. Manusia hanyalah pemegang hak pakai. Pemilik mutlak atas seluruh alam semesta beserta isinya adalah Allah Swt.
“Konsep Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un bukan hanya tentang kematian. Itu adalah pengingat bahwa segala harta dan jabatan yang kita genggam adalah milik-Nya yang sewaktu-waktu akan ditarik kembali. Jika kita sadar kita hanya ‘meminjam’ hak pakai, maka tidak ada ruang bagi keserakahan di muka bumi ini,” kata Kyai Nadjih Ihsan.
Melawan Carut Marut Bangsa
Lebih lanjut, Kyai Nadjih mengaitkan carut marutnya birokrasi, maraknya korupsi, hingga ketidakadilan hukum berakar dari mentalitas yang merasa memiliki segalanya secara permanen.
“Negara kita tidak akan carut marut jika kita paham hak kepemilikan itu. Tidak akan ada korupsi. ASN akan berjalan lurus, tentara dan polisi tegak pada aturan, pemerintah amanah, dan rakyat pun akan lurus,” tegasnya.
Ia memberikan kritik tajam terhadap rusaknya tatanan sosial yang disebabkan oleh banyaknya “tuhan-tuhan baru” yang disembah manusia modern—mulai dari harta, jabatan, hingga kekuasaan. Baginya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mengikat iman secara totalitas kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga manusia tidak lagi terbelenggu oleh berhala-berhala duniawi.
Tiga Instrumen Jihad
Sebagai langkah konkret bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam secara luas, Kyai Nadjih merumuskan tiga pilar jihad yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial bangsa:
- Jihad dengan Tulisan dan Suara: Melawan narasi ketidakadilan dan menyebarkan literasi ekonomi syariah yang mencerahkan.
- Jihad dengan Harta Benda: Menggerakkan instrumen filantropi Islam dan penguatan UMKM sebagai basis kekuatan ekonomi umat.
- Jihad dengan Jiwa: Pengabdian totalitas untuk kemaslahatan publik tanpa rasa takut kehilangan dunia.
Pesan ini menjadi pengingat bagi para dai dan kyai Muhammadiyah di seluruh pelosok negeri. Pengajian Ahad Pagi kini bukan lagi sekadar ritual spiritualitas individu, melainkan harus menjadi kawah candradimuka bagi kebangkitan ekonomi.
Instruksi Muhadjir Effendy agar pengajian membahas ekonomi umat adalah sebuah langkah pragmatis sekaligus ideologis. Muhammadiyah menyadari bahwa kemiskinan dan ketergantungan ekonomi adalah pintu masuk bagi kerapuhan iman dan disintegrasi sosial.
Pesan ini jelas, bahwa Muhammadiyah ingin memastikan bahwa setiap sen yang berputar di tangan umat adalah bagian dari “transaksi suci” dengan Sang Pencipta. Sebuah perniagaan yang tidak akan pernah merugi (tijaratan lan tabur), selama pondasinya adalah kejujuran dan kesadaran bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik dunia.|| chusnun
