Karena itu, kesabaran tidak boleh dipahami sebagai sikap pasif. Sabar bukan berarti menyerah kepada keadaan dan membiarkan kehidupan berjalan tanpa ikhtiar. Sabar merupakan kekuatan batin untuk tetap berada di jalan yang benar ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan. Dalam pengertian tersebut, sabar memiliki dimensi aktif karena ia menuntut keteguhan, kedisiplinan, dan keberanian untuk terus melakukan kebaikan.
Al-Qur’an memberikan harapan yang sangat kuat kepada manusia yang sedang menghadapi kesulitan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Kemudahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung kita kenali karena terkadang ia berupa kekuatan hati, hadirnya seseorang yang membantu, terbukanya jalan baru, atau lahirnya kebijaksanaan setelah melalui suatu pengalaman. Manusia sering kali baru memahami makna sebuah kesulitan setelah melewati masa yang panjang.
Ada filosofi Jepang lain yang relevan dengan pengalaman tersebut, yakni kintsugi. Seni tradisional ini memperbaiki keramik yang pecah dengan menonjolkan bagian yang retak sehingga bekas kerusakan tidak disembunyikan. Filosofi tersebut dapat menjadi metafora bahwa manusia tidak harus menghapus seluruh luka masa lalu untuk kembali bernilai. Luka, selama diolah dengan kesadaran dan kebijaksanaan, dapat menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kedewasaan seseorang.
Namun, manusia tidak boleh pula menjadikan luka sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi cara seseorang memaknai masa lalu selalu dapat diperbarui. Kegagalan tidak harus menjadi identitas, kesalahan tidak harus menjadi penjara, dan kehilangan tidak harus menjadi alasan untuk menutup seluruh pintu kehidupan. Manusia memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran dari masa lalu dan menjadikannya bekal untuk menata masa depan.
Dalam kehidupan, terdapat pula hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Filosofi Jepang mengenal ungkapan shikata ga nai, yang secara umum menggambarkan penerimaan terhadap sesuatu yang memang tidak dapat diubah. Dalam perspektif Islam, penerimaan terhadap takdir tidak berarti meniadakan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban berusaha pada wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, sementara perkara yang berada di luar kemampuannya diserahkan dengan tawakal kepada Allah.
Sikap demikian penting karena banyak manusia mengalami kelelahan bukan semata-mata karena beratnya persoalan, tetapi karena terus berusaha mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kendalinya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, memaksa semua orang memahami diri kita, atau memastikan bahwa seluruh rencana akan berjalan sesuai keinginan. Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki dan menerima apa yang memang tidak dapat diubah. Dari sana lahir kedewasaan, yaitu kemampuan untuk membedakan antara wilayah ikhtiar dan wilayah tawakal.
Filosofi mono no aware juga mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu memiliki batas waktu. Keindahan bunga sakura justru terasa mendalam karena manusia mengetahui bahwa mekarnya tidak berlangsung selamanya. Demikian pula masa muda, kesehatan, kesempatan, pertemuan, bahkan persoalan yang sedang kita hadapi, semuanya akan mengalami perubahan. Kesadaran terhadap kefanaan semestinya tidak membuat manusia pesimis, tetapi mendorongnya untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Dalam Islam, kesadaran terhadap waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Allah Swt. bahkan bersumpah demi masa dalam Surah Al-‘Asr dan menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Waktu bukan sekadar sesuatu yang bergerak dari pagi menuju malam, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang paling panjang, melainkan kehidupan yang diisi dengan iman, amal, ilmu, dan kemanfaatan.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia juga perlu menemukan kembali alasan mengapa ia hidup. Filosofi ikigai berbicara tentang alasan yang membuat seseorang merasa hidupnya memiliki makna. Dalam perspektif yang lebih luas, manusia tidak cukup hanya memiliki pekerjaan atau pencapaian, tetapi membutuhkan orientasi hidup yang lebih mendalam. Bagi seorang Muslim, orientasi tersebut menemukan pijakannya pada kesadaran bahwa kehidupan adalah pengabdian kepada Allah sekaligus kesempatan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Ibadah dalam pengertian yang luas tidak berhenti pada ritual individual, tetapi juga tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, menuntut ilmu, bekerja dengan baik, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan menghadirkan kemanfaatan. Dengan orientasi demikian, kehidupan tidak lagi semata-mata diukur dari berapa banyak yang diperoleh, tetapi dari seberapa besar nilai yang ditinggalkan. Di situlah kehidupan memperoleh dimensi spiritual dan sosial yang lebih utuh.
