Ilmu Membunuh Kesombongan Hati

Ilmu Membunuh Kesombongan Hati
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Secara fitrah, ilmu adalah cahaya (nur) yang diturunkan untuk menerangi jalan kebenaran dan mengangkat derajat seorang hamba. Namun, iblis mampu membalikkan fungsi cahaya tersebut menjadi bahan bakar kesombongan. Tanpa ditopang oleh keikhlasan dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tinggi pula risiko jatuhnya ia ke dalam jurang keangkuhan.

Ilmu yang sejatinya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah justru dapat bertransformasi menjadi racun hati saat pemiliknya merasa lebih baik, lebih mulia, atau lebih suci dari orang lain.

Jebakan Tersembunyi Bagi Pemilik Ilmu

Kesombongan yang lahir dari harta atau kekuasaan mudah dikenali, tetapi kesombongan yang bertopengkan ilmu sering kali sangat halus (khafi). Rasulullah ﷺ mendefinisikan kesombongan secara tegas dalam hadis riwayat Muslim:

“Kesyirikan dan kesombongan adalah menolak kebenaran (batharul haq) dan meremehkan manusia (ghamthun nas).”

Seorang penuntut ilmu atau ulama terjangkit penyakit ini ketika ia mulai enggan menerima kebenaran dari orang yang status sosial atau pendidikannya lebih rendah. Ia merasa paling benar, gemar menyalahkan, dan melihat masyarakat di sekitarnya dengan pandangan merendahkan.

Bagaimana Ilmu Melumatkan Ujub dan Riya?

Bila dipahami secara hakiki, ilmu sejati bukanlah pengumpul pujian, melainkan penghancur kesombongan.

• Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah (Khasyah): Allah berfirman dalam Surah Ath-Thir/Fatir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” Puncak dari tingginya ilmu adalah makin besarnya rasa takut dan takzim kepada Sang Pencipta, bukan makin besarnya rasa bangga pada diri sendiri.

• Membuka Kesadaran akan Keterbatasan Diri: Semakin dalam seseorang menyelami lautan ilmu, semakin ia menyadari betapa dangkalnya pengetahuan yang ia miliki. Allah mengingatkan bahwa manusia hanya diberi ilmu sedikit saja. Orang yang benar-benar berilmu akan bertindak seperti padi: semakin berisi, semakin menunduk.

• Menjadikan Tawadu sebagai Benteng Jiwa: Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah bersama ilmu itu ketenangan dan ketenteraman, serta bertawadulah kamu kepada orang yang kamu ajari.” Ilmu yang bermanfaat selalu melahirkan kelembutan sikap dan kerendahan hati.

Mari luruskan kembali niat dalam menuntut ilmu. Jangan biarkan hafalan, gelar, atau keahlian agama membuat kita merasa jemawa di atas hamba-hamba Allah yang lain. Sebab pada akhirnya, ilmu yang selamat adalah ilmu yang mampu membunuh kesombongan hati dan melahirkan ketundukan yang tulus di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin.

Dalam Al-Qur’an, tidak ada satu ayat tunggal yang secara harfiah menggunakan frasa “ilmu membunuh kesombongan hati”. Namun, terdapat beberapa ayat kunci yang menjelaskan bagaimana ilmu yang benar melahirkan rasa takut dan kerendahan hati (tawadu), sekaligus ayat yang melarang keras sikap sombong.

1. Ilmu Hakiki Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah
Ilmu yang menyerap ke dalam jiwa akan memadamkan keangkuhan karena menyadarkan manusia akan keagungan Sang Pencipta.
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
“...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu)…” (Surah Fatir (35): 28)

Ayat ini menegaskan bahwa indikator utama orang yang benar-benar berilmu (ulama) bukanlah kepandaian berdebat atau banyaknya hafalan, melainkan tumbuhnya rasa takut, tunduk, dan adab di hadapan Allah.

2. Keterbatasan Ilmu Manusia Memutus Sifat Ujub
Kesombongan sering muncul karena merasa paling tahu. Al-Qur’an mengingatkan bahwa pengetahuan manusia sangatlah sedikit dibanding ilmu Allah.
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
“...Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja.” (Surah Al-Isra’ (17): 85)

Menyadari keterbatasan ini membuat seorang penuntut ilmu tidak pantas merasa jemawa atau lebih tinggi dari sesamanya.

3. Larangan Berjalan di Bumi dengan Sombong
Al-Qur’an memberikan arahan tegas mengenai perilaku fisik dan mental agar terhindar dari sifat angkuh.
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai tinggi gunung.” (Surah Al-Isra’ (17): 37)

4. Karakter Hamba Allah yang Berilmu dan Tawadu
Orang yang ilmunya meresap hingga memperbaiki hatinya ditandai dengan kesantunan dan kerendahan hati dalam berinteraksi.
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.” (Surah Al-Furqan (25): 63)

Ilmu berfungsi sebagai penawar kesombongan ketika dipahami sebagai sarana untuk menyadari kelemahan diri dan keagungan Allah, bukan sebagai alat untuk merasa lebih mulia dari orang lain.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search