Islam bukanlah produk pemikiran manusia, bukan pula hasil konstruksi suatu organisasi, kelompok, mazhab, bangsa, atau komunitas tertentu. Islam adalah ad-dīn yang disyariatkan Allah SWT melalui para rasul-Nya sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir. Karena itu, secara hakiki Islam hanya satu. Allah SWT menegaskan: “Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 19).
Allah SWT juga berfirman: “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 85).
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memiliki sumber, Tuhan, nabi, dan prinsip-prinsip dasar yang satu. Nabi Muhammad SAW tidak membawa “Islam versi Arab”, “Islam versi Quraisy”, atau “Islam versi kelompok tertentu”, melainkan menyampaikan Islam yang bersumber dari wahyu Allah SWT.
Islam Adalah Risalah Para Nabi
Islam dalam pengertian ketundukan kepada Allah SWT bukanlah agama yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad SAW. Para nabi dan rasul sejak Nabi Adam AS membawa misi tauhid, yaitu mengajak manusia hanya menyembah Allah SWT dan tunduk kepada-Nya.
Nabi Nuh AS menyerukan kepada kaumnya:“Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS Al-A‘raf [7]: 59). Nabi Ibrahim AS juga berada dalam jalan ketundukan kepada Allah. Allah SWT berfirman: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan muslim.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 67).
Demikian pula para nabi setelahnya. Nabi Ya‘qub AS berwasiat kepada anak-anaknya agar tidak mati kecuali dalam keadaan sebagai orang-orang yang berserah diri kepada Allah (QS Al-Baqarah [2]: 132).
Dengan demikian, terdapat kesinambungan risalah ilahiah: tauhid kepada Allah, pengabdian kepada-Nya, dan ketaatan terhadap wahyu-Nya. Syariat praktis pada sebagian nabi dapat mengalami perbedaan sesuai zaman dan umatnya, tetapi prinsip tauhid dan penghambaan kepada Allah tetap satu. Allah SWT berfirman: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa...” (QS Asy-Syura [42]: 13).
Nabi Muhammad SAW Membawa Islam yang Universal
Risalah Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna sekaligus penutup risalah kenabian. Beliau diutus bukan hanya untuk satu suku, bangsa, atau kawasan tertentu, tetapi untuk seluruh manusia. Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”
(QS Saba’ [34]: 28).
Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, tidak ada legitimasi teologis untuk membangun “Islam baru” berdasarkan nama organisasi, tokoh, bangsa, tradisi, atau kepentingan kelompok.
Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR Malik, al-Muwaththa’).
Maka ukuran kebenaran Islam bukanlah siapa yang menyampaikannya, dari organisasi mana seseorang berasal, atau label apa yang dikenakan kepadanya, melainkan sejauh mana pemahaman dan pengamalan tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih.
