Kisah Tsauban, sahabat Nabi ﷺ, menjadi inspirasi yang berharga bagi umat Islam di seluruh dunia. Tsauban bin Bujdud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Nabi yang termasuk golongan maula, yaitu seorang budak yang telah dimerdekakan. Ia berasal dari Yaman dan pada awalnya menjadi budak salah satu keluarga terkemuka dari suku Quraisy di Makkah.
Setelah bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ, Tsauban sangat terkesan dengan kebaikan dan akhlak mulia beliau. Ia menerima Islam dengan sepenuh hati dan memutuskan untuk mengabdikan hidupnya dalam melayani Nabi ﷺ dengan penuh kesetiaan dan ketulusan.
Nabi Muhammad ﷺ kemudian memerdekakan Tsauban. Sejak saat itu, Tsauban mengabdikan hidupnya untuk membantu dan selalu berada di sisi Rasulullah ﷺ. Ia senantiasa mendampingi Nabi ﷺ dalam berbagai keadaan, baik dalam perjalanan maupun dalam keseharian. Kecintaannya begitu besar hingga ia merasa tidak sanggup berjauhan dari Rasulullah ﷺ, bahkan dalam waktu yang singkat. Pengabdian yang tulus tersebut menjadi salah satu bukti nyata kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Salah satu kisah kesetiaan Tsauban yang paling terkenal terjadi ketika ia datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dengan wajah muram dan penuh kesedihan. Melihat keadaannya, Nabi ﷺ bertanya, “Wahai Tsauban, apa yang membuatmu gelisah?”
Tsauban menjawab dengan suara lirih, “Wahai Rasulullah, ketika aku jauh darimu, hatiku merasa resah dan aku sangat merindukanmu. Aku khawatir tentang nasibku di akhirat. Jika aku masuk surga, mungkin aku tidak dapat berada dekat denganmu, karena engkau pasti berada di tempat yang lebih tinggi bersama para nabi. Dan jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”
Ungkapan Tsauban tersebut menunjukkan betapa besar kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ. Ia bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan dirinya di akhirat, tetapi juga sangat takut kehilangan kesempatan untuk bersama Rasulullah ﷺ.
Allah ﷻ kemudian menurunkan firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 69, yang memberikan ketenangan dan kabar gembira bagi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ٦٩
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin (orang-orang yang jujur), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang saleh). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69)
Ayat ini memberikan penghiburan bukan hanya kepada Tsauban radhiyallahu ‘anhu, tetapi juga kepada seluruh umat Islam. Ayat tersebut menegaskan bahwa siapa pun yang menaati Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ akan dikumpulkan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah di akhirat.
Hal ini menunjukkan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ harus diwujudkan dengan ketaatan dan kesetiaan. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ menjadi jalan bagi seorang mukmin untuk berharap dapat dekat dan dikumpulkan bersama beliau di akhirat.
Hikmah Kisah Tsauban radhiyallahu ‘anhu
Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas:
1. Seseorang Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintainya
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hari kiamat. Orang itu berkata, “Kapankah hari kiamat itu?”
Rasulullah ﷺ balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?” Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja, sesungguhnya saya mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.” Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. At-Tirmidzi)
