Kuliah Subuh dalam rangkaian Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) ke-4 Zona Dakwah Tapal Kuda, Sabtu (20/6/2026), menghadirkan Alvian Nasrullah dari Lumajang. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertema istiqamah, yakni sikap teguh dan konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.
Mengawali kajiannya, Alvian mengutip firman Allah Swt dalam QS Fushilat ayat 30:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih hati. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS Fushilat: 30).
Menurut Alvian, istiqamah merupakan salah satu kunci utama dalam meraih keberkahan hidup dan keridaan Allah Swt. Ia menegaskan bahwa kualitas seorang muslim tidak hanya diukur dari besarnya amalan yang dilakukan, tetapi juga dari konsistensinya dalam beribadah.
“Amalan meski sedikit namun istiqamah lebih dicintai Allah daripada amalan besar namun dilakukan hanya sekali-kali,” ujar Nasrullah seraya mengutip hadis Nabi Muhammad Saw tentang pentingnya istiqamah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus (istiqamah) walaupun jumlahnya sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam pemaparannya, Alvian menjelaskan tiga manfaat utama dari sikap istiqamah.
Pertama, istiqamah akan menghadirkan ketenangan hati. Menurutnya, orang yang konsisten berada di jalan Allah tidak akan diliputi ketakutan berlebihan terhadap masa depan karena yakin bahwa Allah Swt selalu memberikan pertolongan dan penjagaan.
“Orang yang istiqamah hidupnya akan tenang, tidak takut masa depannya karena Allah SWT memberikan ketenangan,” ujarnya.
Kedua, amalan yang dilakukan secara istiqamah lebih dicintai oleh Allah Swt. Konsistensi dalam menjalankan kebaikan menjadi bukti ketulusan seorang hamba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Ketiga, istiqamah menjadi jalan menuju husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik. Alvian menjelaskan bahwa seseorang umumnya akan diwafatkan dalam keadaan yang mencerminkan kebiasaan hidupnya selama di dunia.
“Maka kita pernah dengar ada orang meninggal saat sedang zikir, saat sedang sujud atau usai membaca Qur’an,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah Kuliah Subuh untuk terus menjaga amal saleh dan memohon kepada Allah Swt agar diberikan keteguhan hati dalam menjalankan agama.
Menutup kajiannya, Alvian mengajak jamaah untuk senantiasa membaca doa yang diajarkan Rasulullah Saw:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinik.
Artinya:
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa tersebut menjadi pengingat bahwa hati manusia sangat mudah berubah. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan Allah Swt agar tetap teguh dalam iman, konsisten dalam ketaatan, dan mampu mengakhiri kehidupannya dalam keadaan terbaik di hadapan-Nya. (ono)
