Jalan Sehat PCM Laweyan Surakarta Jadi Ajang Mengenang Sejarah Kelam G30S/PKI

Jalan Sehat PCM Laweyan Surakarta Jadi Ajang Mengenang Sejarah Kelam G30S/PKI
www.majelistabligh.id -

Jalan sehat biasanya identik dengan olahraga dan doorprize. Namun, suasana berbeda terasa dalam Jalan Sehat dan GowesMu yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Laweyan, Surakarta, Ahad (27/9/2026).

Di tengah riuh warga Muhammadiyah yang berjalan dan bersepeda, kegiatan yang dipusatkan di Graha 58 Gedung Serba Guna UMS, Jalan Dr. Wahidin, Purwosari, Laweyan, itu juga menjadi ruang untuk mengenang sejarah kelam bangsa sekaligus merefleksikan peran Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan.

Kegiatan tersebut diikuti warga Muhammadiyah Laweyan dan dihadiri sejumlah pimpinan Muhammadiyah, antara lain Ketua PDM Kota Surakarta KH Anwar Sholeh, KH Subari, HA Sukidi, H Rohani, Ketua LPCR PM PDM Kota Surakarta Azhari, H Sumanto, Ketua MPKSDI PDM Kota Surakarta Dr. Suyanto, Rektor UMJT Prof. Sofyan Anif, H Bagus Sukatno, serta Ketua PP Muhammadiyah HA Dahlan Rais.

Tak sekadar berolahraga, peserta juga mendapat orasi kebangsaan dari pengacara Kota Surakarta, Dr. Muhammad Taufiq, SH, MH. Ia mengajak warga Muhammadiyah tidak melupakan sejarah, sekaligus memastikan pemahaman terhadap sejarah bangsa tidak berhenti sebagai ritual tahunan.

Taufiq: Sejarah Jangan Dibiarkan Hilang

Dalam orasinya, Taufiq menyoroti kembali tragedi G30S/PKI dan posisi Muhammadiyah dalam perjalanan sejarah Indonesia. Menurut dia, refleksi atas peristiwa sejarah penting dilakukan untuk membangun kesadaran kebangsaan. Ia juga mengaitkan sejarah Muhammadiyah dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk melalui sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memiliki keterkaitan historis dengan Muhammadiyah.

Bagi Taufiq, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya memiliki peran dalam dakwah dan pendidikan, tetapi juga turut mengambil bagian dalam kehidupan kebangsaan.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya menjaga pemahaman sejarah di tengah munculnya berbagai narasi baru di ruang publik.

Taufiq menyinggung sejumlah produk budaya yang menurutnya perlu dikritisi apabila berpotensi menghadirkan narasi yang dianggap memutihkan atau mengubah pemahaman masyarakat terhadap sejarah PKI.

Salah satunya adalah film yang ia sebut “Tujuh Setan Desa”. Taufiq menilai masyarakat perlu memiliki kemampuan kritis dalam membaca berbagai narasi sejarah, termasuk yang disampaikan melalui karya seni dan budaya.

Selain sejarah, Taufiq menyoroti aspek hukum terkait komunisme di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa keberadaan larangan terhadap PKI dan penyebaran atau pengembangan paham komunisme/Marxisme-Leninisme memiliki landasan hukum, antara lain TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya memahami aturan hukum secara utuh serta memastikan penegakannya berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi Taufiq, menjaga sejarah bukan berarti berhenti pada perdebatan masa lalu. Kesadaran sejarah harus menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Muhammadiyah Jangan Jadi “Menara Gading”

Di hadapan warga Muhammadiyah Laweyan, Taufiq juga menyampaikan pesan lain yang lebih luas: kekuatan Muhammadiyah harus berujung pada kemanfaatan sosial.

Ia menggambarkan Muhammadiyah sebagai “menara api”, bukan “menara gading”.

“Menara api” dimaknai sebagai organisasi yang mampu menerangi, memberi arah, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas. Sebaliknya, “menara gading” menggambarkan institusi yang eksklusif dan berjarak dari persoalan masyarakat.

Taufiq menilai Muhammadiyah memiliki modal sosial yang besar melalui jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, dan amal usaha yang tersebar di berbagai daerah.

Karena itu, kekuatan tersebut menurut dia perlu terus diarahkan untuk memberikan manfaat seluas-luasnya, termasuk kepada masyarakat yang berbeda latar belakang agama dan sosial.

Ia mencontohkan kiprah sejumlah lembaga Muhammadiyah di daerah yang melayani masyarakat non-Muslim sebagai gambaran bahwa kemanfaatan sosial tidak harus dibatasi oleh identitas kelompok.

Ketua PCM Laweyan bersama jajaran panitia mengemas kegiatan tersebut sebagai momentum mempererat silaturahmi warga Muhammadiyah sekaligus membangun kesadaran sejarah.

Jalan Sehat dan GowesMu menjadi wadah bagi warga untuk berolahraga bersama. Namun, rangkaian acara kemudian berkembang menjadi forum refleksi mengenai sejarah, nasionalisme, hukum, pendidikan, serta peran Muhammadiyah di tengah masyarakat.

Setelah orasi, acara dilanjutkan dengan pengundian doorprize yang menambah semarak kegiatan.

Pesan yang mengemuka dari kegiatan tersebut bukan sekadar tentang bagaimana mengingat sebuah tragedi sejarah, tetapi juga bagaimana generasi hari ini membaca sejarah dengan kritis, memahami hukum, dan menerjemahkan nilai-nilai kebangsaan melalui kerja nyata.

Bagi Muhammadiyah, refleksi sejarah itu kemudian bermuara pada satu gagasan: organisasi tidak cukup hanya memiliki kekuatan besar, tetapi harus memastikan kekuatan tersebut benar-benar menjadi penerang dan pemberi manfaat bagi masyarakat. (sugiharko)

 

Tinggalkan Balasan

Search