Ini mengingatkan kita bahwa fikih memang penting sebagai pedoman hukum, tetapi jangan sampai semangat berbuat baik terhenti hanya karena kita terlalu kaku pada batasan teknis.
Penjelasan Kontekstual
- Fikih sebagai panduan: Fikih membantu kita memahami halal–haram, sah–tidak sah, sehingga ibadah dan muamalah berjalan sesuai syariat.
- Kebaikan lebih luas: Ada banyak bentuk kebaikan yang mungkin tidak tercatat detail dalam kitab fikih, seperti tersenyum, menolong orang, menjaga lingkungan, atau memberi semangat.
- Ruh Ihsan: Islam menekankan ihsan—melakukan kebaikan lebih dari sekadar kewajiban. Kadang kebaikan itu melampaui teks hukum, karena ia lahir dari hati yang ikhlas.
Contoh Praktis
- Seorang anak ingin berbagi makanan dengan temannya. Meski fikih mungkin membahas detail tentang sedekah, inti kebaikan adalah berbagi dengan ikhlas.
- Guru yang memaafkan muridnya bukan karena ada aturan fikih tentang “wajib memaafkan,” tetapi karena hati yang penuh kasih.
- Menjaga alam dengan menanam pohon: fikih mungkin tidak membahas detail tentang “menanam pohon,” tetapi itu jelas kebaikan yang bernilai ibadah.
Fikih jangan dijadikan penghalang, melainkan pagar agar kebaikan tetap dalam koridor syariat. Kebaikan itu luas, dan Allah mencintai hamba yang berbuat baik meski di luar hal-hal yang tertulis secara teknis
Allah berfirman: pada QS. Al-Baqarah: 195
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)
Terkait dengan hal ini, kami pernah dengar cerita dari ustadz Umar Mita, Beliau saat duduk makan mie bersama istrinya, tiba tiba ada pengamen yang badannya hampir dua pertiga pakai tato. Ngamennya pakai tangan, kemudian di panggil oleh Ustadz Umar Mita, namanya siapa mas. Dan namanya bagus banget. Nama itu dari orang tua, bukan pak, itu nama dikasih oleh orang-orang yang mungut saya dulu dibuang dibawa jembatan, kemudian Ustadz Umar Mita bertanya, apakah Mas muslim, muslim pak. Kemudian ditanya salat maghrib berapa rekaat, dijawab lima rokaat.
Kemudian ditanya lagi mas pingin bahagia, jawabnya tidak, saya itu memang hidup itu bukan untuk bahagia, saya hanya menjalani sampai mati saja. Terus pinginnya apa? Saya itu pingin beli gitar. Kemudian pengamen tersebut diminta menemui beliau di masjid ditunggu sampai besuk. Hari esoknya ternyata pengamen tersebut tidak bertemu dengan Ustadz Umar Mita. Sampai lima tahun pengamen itu tidak lagi pernah nongol.
Pelajaran yang kita dapatkan dari peristiwa tersebut sangat simpel. Ini umatnya Nabi Muhammad SAW. Kalau kita bertengkar terus gara-gara pilihan fikih, terus siapa yang menyapa umatnya Nabi Muhammad SAW yang seperti ini.
Belum lagi perempuan yang dikecewakan laki-laki dan akhirnya aborsi, lalu kita datang-datang mengatakan haram, dosa besar aborsi. Dia juga sudah tahu. Tapi dia itu pingin bagaimana dia setelah melakukan itu terus kemudian dihangatkan dalam pelukan supaya dia bisa berjalan untuk melanjutkan kehidupan. Siapa yang akan membahasnya.
Belum yang terkena judi online, belum yang anaknya nggak bisa makan. Terus setiap orang yang ngaji hanya nyontohin bagaimana bertengkar. Apa kita nggak malu dengan Nabi Muhammad SAW.
