Seorang pemimpin dalam gerakan dakwah tidak boleh hanya pandai hadir dalam seremoni. Ia harus hadir dalam denyut masalah umat. Ia perlu gelisah ketika masjid kehilangan anak muda. Ia perlu terusik ketika kaderisasi melemah. Ia perlu merasa terpanggil ketika amal usaha berjalan profesional tetapi kehilangan ruh dakwah. Ia perlu bersedih ketika warga miskin belum tersapa, ketika anak-anak belum mendapatkan pendidikan yang layak, ketika keluarga-keluarga kehilangan arah, dan ketika umat membutuhkan bimbingan tetapi hanya mendapatkan pidato tanpa pendampingan.
Fasilitas dalam kepemimpinan tentu tidak selalu salah. Ruang kerja, kendaraan, anggaran, perangkat organisasi, dan dukungan administratif dapat menjadi alat agar amanah berjalan lebih efektif. Tetapi semua itu harus tetap ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Fasilitas menjadi mulia ketika dipakai untuk memperluas maslahat. Sebaliknya, fasilitas menjadi beban moral ketika dinikmati tanpa kesungguhan mengabdi. Bahkan fasilitas kecil pun dapat terasa melukai hati umat apabila melekat pada pemimpin yang jauh dari perjuangan.
Di titik ini, kita perlu jujur, semakin tinggi kepemimpinan, tidak berarti semakin mudah segala urusan. Justru semakin luas wilayah amanah, semakin besar pula persoalan yang harus dipikirkan. Di keluarga, seorang ayah mungkin memikirkan nafkah dan pendidikan anak-anaknya. Di ranting, seorang pimpinan memikirkan hidupnya jamaah di akar rumput. Di cabang dan daerah, pimpinan memikirkan kaderisasi, dakwah, ekonomi umat, dan keberlanjutan gerakan. Di amal usaha, pimpinan memikirkan mutu layanan, kesejahteraan pegawai, keberlangsungan lembaga, serta nilai Islam yang harus tetap menjadi jiwa dari seluruh aktivitas.
Tidak ada level kepemimpinan yang benar-benar bebas dari kekurangan. Yang ada adalah amanah untuk memaksimalkan apa yang tersedia. Pemimpin sejati tidak berhenti hanya karena anggaran belum cukup. Ia tidak menyerah hanya karena fasilitas belum lengkap. Ia tidak mundur hanya karena keadaan belum ideal. Justru di tengah keterbatasan itulah kualitas kepemimpinan diuji. Sebab memimpin bukanlah menunggu semua sempurna, tetapi menggerakkan yang ada agar melahirkan kebaikan sebesar mungkin.
Kepemimpinan membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Kerja keras agar pemimpin tidak mudah dikalahkan oleh keadaan. Kerja cerdas agar dakwah mampu menjawab tantangan zaman. Kerja ikhlas agar amal tidak rusak oleh keinginan dipuji. Kerja tuntas agar amanah tidak berhenti sebagai wacana. Empat hal ini harus menjadi napas kepemimpinan di mana pun kita berada, baik di rumah, masyarakat, organisasi, kampus, amal usaha, maupun ruang-ruang pelayanan umat lainnya.
Rasulullah saw, telah mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pesan ini semestinya mengguncang batin kita. Sebab pertanggungjawaban kepemimpinan tidak hanya berlangsung di hadapan forum, rapat, atau laporan akhir masa jabatan. Ada pertanggungjawaban yang lebih sunyi, lebih teliti, dan lebih pasti, pertanggungjawaban di hadapan Allah. Manusia mungkin melihat jabatan kita, tetapi Allah melihat niat kita. Manusia mungkin mendengar pidato kita, tetapi Allah mengetahui kesungguhan kita. Manusia mungkin mencatat prestasi kita, tetapi Allah mengetahui apakah semua itu lahir dari keikhlasan atau dari keinginan untuk dipandang.
Karena itu, jangan iri pada kursi. Iri lah pada jiwa yang mampu duduk di atasnya tanpa kehilangan kerendahan hati. Iri lah pada pemimpin yang tetap sederhana ketika dimuliakan, tetap bekerja ketika tidak dilihat, tetap melayani ketika lelah, tetap jernih ketika dikritik, dan tetap memperjuangkan umat ketika fasilitas tidak mencukupi. Sebab kursi tidak membuat seseorang mulia. Yang membuat seseorang mulia adalah amanah yang ditunaikan dengan iman, ilmu, akhlak, dan pengorbanan.
Bagi siapa pun yang hari ini sedang memegang amanah, jangan biarkan jabatan membuat hati menjadi keras. Jangan biarkan penghormatan membuat telinga sulit mendengar. Jangan biarkan fasilitas membuat mata jauh dari penderitaan umat. Semakin tinggi amanah, seharusnya semakin dalam sujud, semakin luas kepedulian, semakin halus perasaan, dan semakin besar kesediaan untuk memperjuangkan orang lain. Kepemimpinan yang benar tidak menjauhkan pemimpin dari manusia, tetapi membuatnya semakin dekat dengan kebutuhan mereka.
Dan bagi siapa pun yang sedang menginginkan amanah, luruskanlah niat sejak awal. Jangan mengejar jabatan hanya karena ingin disebut, dihormati, atau difasilitasi. Jangan mengira kursi kepemimpinan adalah tempat untuk menikmati kelebihan. Kursi itu berat. Di sana ada harapan banyak orang, ada doa yang harus dijawab dengan kerja, ada luka yang harus disentuh dengan kebijakan, ada potensi yang harus ditumbuhkan, dan ada masa depan yang harus diperjuangkan.
Maka sebelum bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan dari amanah ini?” tanyakanlah lebih dahulu, “Siapa yang harus aku perjuangkan?” Sebelum memikirkan fasilitas, pikirkanlah umat. Sebelum membayangkan penghormatan, bayangkanlah pertanggungjawaban. Sebelum ingin duduk di depan, siapkanlah jiwa untuk berjalan paling jauh, berpikir paling dalam, dan berkorban paling sunyi.
Kepemimpinan bukanlah panggung untuk membesarkan nama. Kepemimpinan adalah sajadah panjang tempat seseorang bersujud melalui kerja, pelayanan, keberanian, dan pengorbanan. Ia adalah jalan sunyi yang menuntut cinta yang matang, akal yang jernih, hati yang bersih, dan tubuh yang siap lelah. Di sanalah seorang pemimpin menemukan makna dirinya, bukan karena ia dilayani, tetapi karena ia memperjuangkan; bukan karena ia dihormati, tetapi karena ia memberi manfaat; bukan karena ia duduk di tempat tinggi, tetapi karena hatinya turun menyentuh kehidupan manusia.
Jangan iri pada kursi.
Sebab yang paling indah dari kepemimpinan bukanlah tempat duduknya, melainkan perjuangan yang lahir dari orang yang mendudukinya. (*)
