Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah Lamongan dan Jawa Timur. Sosok pilar filantropi yang dikenal dengan ketulusannya, Sujudna, M.Pd., Ketua Lazismu Kabupaten Lamongan, kini telah berpulang ke Rahmatullah (Innalillahi wa inna ilaihi rajiun).
Kepergian almarhum meninggalkan deretan kenangan indah tentang tangan-tangan kebaikan yang tak pernah lelah merangkul mereka yang membutuhkan.
“Hari ini Majelis Tabligh PWM Jatim akan ke Lamongan untuk melaporkan Pelaksanaan Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (Fashmu) yang telah berlangsung di Lamongan 25 Juli 2026 lalu. Tapi pagi ini kami menerima kabar bahwa Pak Sujudna wafat,” kata Ustaz Afifun Nidlom, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim, Rabu (5/8/2026).
Bagi warga Lamongan, Sujudna bukan sekadar pimpinan lembaga amil zakat. Beliau adalah sosok pembawa kehangatan yang hadir langsung di tengah masyarakat. Keteladanannya mengalir dalam setiap aksi nyata, mulai dari menyapa para guru di pelosok hingga menatap binar bahagia keluarga kurang mampu yang akhirnya memiliki tempat tinggal layak.

Salah satu jejak pengabdian almarhum yang paling membekas adalah komitmennya terhadap pendidikan Islam dan para penghafal Al-Qur’an. Sujudna meyakini bahwa generasi muda harus terus didorong untuk mencintai dan mengamalkan kitab suci.
Bekerja sama dengan Majelis Tabligh dan LP3M PDM Lamongan, almarhum pernah memimpin penyaluran 350 mushaf Al-Qur’an untuk santri di enam pondok pesantren dan komunitas binaan. Bagi almarhum, mendukung pendidikan tahfidz adalah investasi akhirat sekaligus wujud pemberdayaan nyata bagi para santri di Kabupaten Lamongan.
Tidak berhenti pada para santri, perhatian almarhum juga tertuju pada pahlawan tanpa tanda jasa. Melalui program tahunan Bakti Guru, ia memastikan para pendidik di lingkungan sekolah Muhammadiyah mendapatkan perhatian atas dedikasi mereka.
Paket beras dan produk RendangMu disalurkan langsung sebagai penyemangat bagi 81 guru dan tenaga kependidikan. Dengan tutur katanya yang selalu menyejukkan, almarhum sempat berpesan agar para guru senantiasa tulus dan ikhlas mengabdi demi mencerahkan kehidupan bangsa—sebuah pesan yang kini menjadi warisan moral berharga.
Sisi kemanusiaan almarhum semakin nyata lewat program unggulan Bedah Rumah. Salah satu momen menyentuh terjadi saat almarhum mendampingi penyerahan kunci rumah baru untuk keluarga Teguh Suhari di Dusun Gorame, Desa Badurame, Kecamatan Turi.
Menghadirkan pimpinan daerah hingga tokoh desa, almarhum memastikan kaum dhuafa tak lagi berteduh di bawah atap yang rapuh, melainkan di rumah yang layak dan penuh keberkahan.
Kini, sosok penyabar dan dermawan itu telah mendahului kita. Namun, ratusan Al-Qur’an yang dilantunkan para santri, kepulan asap dapur para guru yang terbantu, serta gema doa dari rumah-rumah dhuafa yang telah diperbaiki akan terus mengalir menjadi amal jariyah yang tak pernah putus. Selamat jalan, Pak Sujudna. Jejak kebaikanmu akan selalu hidup dan menginspirasi. || chusnun
