Kampung Muhammadiyah di Papua, dari Nomaden Menuju Peradaban Maju

Kampung Muhammadiyah di Papua. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Dahulu, masjid di kawasan itu hanyalah sebuah bangunan panggung ringkih berbahan dinding dan atap gaba-gaba sagu. Kepala Kampung Warmon Kokoda, Syamsuddin Namugur, berseloroh mengenang masa lalu. “Hanya dengan sekali tendang, masjid itu akan roboh.”

Kenangan tersebut menjadi saksi jejak awal kehidupan Suku Kokoda, sebuah kelompok masyarakat adat di Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, yang selama bertahun-tahun hidup berpindah-pindah (nomaden) di dalam hutan dan rawa.

Namun, wajah ketertinggalan itu kini telah berganti dengan lentera harapan. Di atas tanah seluas dua hektar yang diinisiasi oleh persyarikatan Muhammadiyah, berdirilah Kampung Warmon Kokoda. Kawasan ini kini dikenal sebagai “Kampung Muhammadiyah” di Indonesia.

Mengenal Islam Sejak Abad ke-17

Suku Kokoda sebenarnya telah mengenal Islam sejak abad ke-17 melalui jalur perdagangan Kerajaan Tidore. Meski demikian, tradisi hidup mereka masih sangat dekat dengan alam. Interaksi mereka dengan gerakan perubahan dimulai pada tahun 1998 melalui Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong yang saat itu dipimpin oleh Rektor Rustamadji.

Melihat kondisi warga Kokoda yang sering terpinggirkan dan tak memiliki kepastian tempat tinggal, jajaran pimpinan Muhammadiyah bergegas mengambil langkah nyata. Melalui almarhum Said Tuhuleley dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, gerakan ini mulai menggalang dukungan nasional. Satu per satu bantuan mengalir, mulai dari mesin genset untuk penerangan, pembangunan masjid permanen, hingga pembebasan lahan untuk permukiman.

Proses pendampingan tidak selalu berjalan mulus. Prasangka sosial dan perbedaan budaya menjadi tantangan tersendiri. Tim lapangan pernah mendapati besi pondasi yang baru dibeli justru dipotong dan dijual oleh warga. Namun, Muhammadiyah memilih pendekatan yang humanis.

Prinsip “utamakan rayuan dibanding ancaman” diterapkan oleh para mahasiswa yang turun langsung ke lapangan. Anak-anak Kokoda diajak mandi bersih, bermain, bernyanyi, dan menghafal surat-surat pendek al-Qur’an sebelum melompat gembira ke sungai.

Transformasi Sosial dan Kemandirian

Perubahan besar mulai terlihat sejak pendampingan intensif dilancarkan pada 2012. Pada tahun 2013, fasilitas pendidikan formal berdiri lewat Sekolah Dasar (SD) Labschool Unimuda. Kini, anak-anak Kokoda tak lagi terasing dari meja belajar.

Tidak hanya sektor pendidikan, Muhammadiyah bersama Kementerian PUPR mengadvokasi pembangunan perumahan layak huni. Hasilnya, 55 unit rumah permanen berdiri kokoh lengkap dengan sertifikat kepemilikan atas nama warga. Momen ini menghapuskan trauma masa lalu warga Kokoda yang kerap mengalami penggusuran.

Tak berhenti di situ, MPM PP Muhammadiyah dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rutin melatih warga bercocok tanam, bertani, dan melaut. Pada 12 Desember 2015, Kampung Warmon Kokoda resmi diakui secara administratif oleh negara sebagai kampung definitif, yang memungkinkan mereka mengelola dana desa secara mandiri.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Pada Januari 2017, Syamsuddin Namugur secara resmi mendeklarasikan wilayahnya sebagai ‘’Kampung Muhammadiyah’’ di hadapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kini, sekitar 185 Kepala Keluarga atau lebih dari 1.000 jiwa mendiami kampung yang telah dilengkapi jaringan listrik, teknologi informasi, hingga bangunan rumah adat sebagai penyimpan identitas budaya mereka.

Keharmonisan juga menyelimuti kehidupan sehari-hari warga. Di lingkungan Suku Kokoda, kerukunan antarumat beragama terjaga alami dalam satu ikatan keluarga besar. Warga Muslim dan Kristen hidup berdampingan dengan damai.

Dari masyarakat nomaden yang kerap dipandang sebelah mata, Suku Kokoda kini berdiri tegak menatap masa depan. Kampung Warmon Kokoda menjadi bukti nyata bagaimana kepedulian sosial yang tulus mampu merajut peradaban baru di ufuk timur Indonesia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search