Ustaz Adi Hidayat (UAH) kembali menyentil hati umat dengan sebuah kisah nyata yang penuh hikmah. Mengangkat tema “Luasnya Kasih Sayang Allah”, UAH menceritakan detik-detik seorang ulama dan pemikir besar, Syekh Jamaluddin Al-Afghani, yang merespons vonis medis kematian bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kerinduan yang mendalam untuk bertemu Tuhannya.
Kisah bermula ketika Syekh Jamaluddin Al-Afghani mengalami gangguan kesehatan dan disarankan untuk melakukan pemeriksaan MRI. Dua pekan kemudian, hasil pemeriksaan tersebut diambil oleh mahasiswa seniornya. Sang dokter menyampaikan kabar berat: secara medis, kondisi Syekh telah mengalami komplikasi serius dan diperkirakan hanya memiliki waktu sekitar dua minggu lagi untuk hidup.
Mendengar kabar itu, para mahasiswa tidak sanggup menahan air mata. Mereka kembali ke kelas dengan isak tangis yang pecah, bahkan tidak kuat untuk masuk dan menyampaikan kabar tersebut secara langsung saat Syekh sedang mengajar.
Respon Sang Guru
Melihat murid-muridnya menangis, Syekh Jamaluddin Al-Afghani justru bertanya dengan tenang, “Kenapa kalian menangis?”
Ketika akhirnya sang murid memberanikan diri menyampaikan hasil vonis medis tersebut, Syekh tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau panik. Sebaliknya, ia mengajukan sebuah pertanyaan retoris yang menohok: “Bagaimana jika ada yang sangat merindukanmu dan ingin bertemu denganmu? Apakah kamu senang atau sedih?”
Ia lalu memberikan analogi sederhana, “Ibu yang rindu pada anak yang sudah 10 tahun sekolah di luar negeri dan akhirnya pulang, apakah ibu itu senang?” Para murid pun serentak menjawab, “Senang.”
Dengan senyum yang penuh ketenangan, Syekh kemudian mengucapkan kalimat yang hingga kini masih menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya:
“Allah itu sudah kangen sama saya. Saya pun sudah lama kangen sama Allah. Sebentar lagi saya ketemu. Kenapa kalian mesti nangis?”
Sudahkah Kita Bersih untuk “Pulang”?
Merespons kisah tersebut, Ustaz Adi Hidayat mengajak umat untuk merenung dalam-dalam. Ia menekankan bahwa manusia sering kali lupa bahwa Allah Swt telah memberikan oksigen, kehidupan, kenyamanan, dan berbagai nikmat tanpa henti, meski kita belum pernah melihat wujud-Nya.
“Masa tidak pernah rindu? Siapa yang sudah rindu bertemu Allah, maka hendaklah ia memperbanyak amal saleh,” ujar UAH, mengingatkan pada semangat ayat Al-Qur’an tentang persiapan menghadapi pertemuan dengan Sang Pencipta.
Ia juga menyinggung tentang pentingnya menjaga kesucian diri. Pertemuan dengan Allah seharusnya disambut dengan keadaan yang suci, bukan dengan hati, lisan, atau perbuatan yang masih ternoda dosa.
“Masa mau pulang dalam keadaan kotor? Allah memberi kebaikan sama kita. Lahirnya kita bersih, disayang-sayang. Masa pulangnya kotor? Tidak malu?” tegas UAH dengan nada yang lembut namun penuh peringatan.
Kisah ini bukan sekadar narasi tentang kematian, melainkan sebuah undangan indah untuk segera “bersih-bersih”, memperbaiki kualitas ibadah, dan menata hati agar siap menyambut pertemuan yang pasti dengan Sang Maha Pengasih. Karena pada akhirnya, pulang ke hadirat-Nya adalah tujuan akhir dari setiap jiwa yang rindu. || Disarikan dari kajian “Luasnya Kasih Sayang Allah” oleh Ustaz Adi Hidayat di kanal YouTube resmi Adi Hidayat Official.
