Minggu pertama menginjakkan kaki di Desa Dapet, Kecamatan Balongpanggang, Gresik, saya sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mendapati raut wajah anak-anak mahasiswa KKN yang begitu pucat—bahkan lebih pucat daripada kertas proposal yang baru saja disahkan. Bukan karena terik matahari atau sinyal ponsel yang mendadak hilang, melainkan lantaran desas-desus warga setempat tentang posko tua yang konon dihuni “penghuni tak kasat mata”.
Belum juga sempat menyusun jadwal piket, seorang mahasiswa sudah memberanikan diri bertanya dengan nada ragu, “Pak DPL, kalau nanti malam ada suara aneh atau bermimpi ketemu sosok tinggi besar, itu absensi warga desa atau makhluk halus ya, Pak?”
Sebagai DPL, saya tentu harus memasang wajah tenang dan menenangkan. Padahal, jauh di dalam hati, saya pun berdoa agar suara-suara di tengah malam nanti hanyalah ulah kucing, bukan hal misterius lainnya.
Dugaan itu mewujud nyata beberapa hari kemudian. Pukul satu dini hari, suasana posko mendadak gempar. Salah satu mahasiswa mengalami kesurupan. Semua orang panik: ada yang sigap merapalkan doa, ada yang berlari memanggil warga, dan uniknya, ada pula yang berdiri mematung sambil memegang sapu ijuk entah untuk apa.
Malam mencekam itu menjadi tamparan manis bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan tekad untuk saling merangkul dan melindungi ketika kecemasan datang menyergap.
Namun, itulah seni dari Kuliah Kerja Nyata. Hal-hal yang awalnya disambut ketakutan, perlahan luluh menjadi lembaran kisah yang kelak hanya bisa dikenang sambil tertawa bersama.
Hari-hari berikutnya, Kelompok 27 mulai larut dalam riuk dinamika desa yang jauh lebih nyata ketimbang fabel mistis. Mereka turun ke sawah menyapa para petani, meresapi betapa teriknya sengatan matahari yang tak pernah berpromi. Mereka mendampingi posyandu, memetik pelajaran sederhana bahwa senyum mungil seorang balita adalah penawar lelah paling ampuh.
Di ruang-ruang kelas sekolah dasar, mereka mendampingi para guru mengajar dan menyadari bahwa mendidik membutuhkan kesabaran luar biasa yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah. Sementara menjelang senja, riak tawa dan lantunan ayat suci dari anak-anak yang belajar mengaji memenuhi musala. Di titik inilah saya menyaksikan bahwa KKN bukan sebatas menuntaskan lembaran program kerja, melainkan proses belajar menjadi manusia yang utuh dan bermanfaat.
Momen paling berkesan terasa saat mereka bahu-membahu merintis potensi wisata Mbah Ronggo. Bersama warga, mahasiswa membersihkan kawasan wisata, merancang strategi promosi, hingga memikirkan denyut ekonomi warga. Dari sana mereka memetik kebijaksanaan: membangun desa bukan sekadar memperbaiki fisik jalanan, melainkan menumbuhkan kembali harapan masyarakatnya.
Benih Asmara Mulai Tumbuh
Di tengah padatnya pengabdian, mata saya menangkap gejolak halus yang tak pernah tertulis dalam buku panduan KKN. Tatapan mata yang mulai intens. Candaan yang kian hangat. Hingga alasan rapat yang sengaja dipanjang-panjangkan.
Rupanya, benih-benih asmara tumbuh lebih cepat daripada tanaman cabai di pekarangan. Sebagai DPL, saya hanya bisa tersenyum simpul. Selama yang bersemi adalah rasa saling menghargai dan menyemangati—bukan konflik—biarlah waktu yang menuntun ke mana arah cerita cinta itu berlabuh.
Kebahagiaan tertinggi seorang pembimbing bukanlah saat seluruh program kerja terlaksana sempurna, melainkan ketika menyaksikan metamorfosis karakter anak-anak didiknya. Mereka belajar menurunkan ego, hidup sederhana, berbagi peran tanpa memilih, menghargai perbedaan, serta meresapi bahwa gotong royong adalah ruh terkuat bangsa ini.
KKN telah membuktikan bahwa ilmu hakiki tidak hanya memantul dari dinding perpustakaan, tetapi juga lahir dari lumpur sawah, teras musala, posyandu, dan perbincangan hangat di lincak rumah warga.
Kini, pengabdian itu telah purna.
Mahasiswa yang dahulunya takut memejamkan mata di posko tua, kini justru sibuk menghitung sisa hari dengan enggan. Mereka yang awal kedatangannya terus bertanya kapan bisa pulang, kini diam-diam berdoa agar sang waktu bersedia memperlambat jalannya.
Sebab ternyata, bagian tersulit dari KKN bukanlah menyusun dan menjilid laporan akhir, melainkan mengucap kata “selamat tinggal”.
Selamat tinggal kepada warga desa yang telah membuka pintu rumah dan menyambut mereka bak keluarga sendiri. Selamat tinggal kepada anak-anak kecil yang saban sore setia menunggu kedatangan “Kakak KKN”. Dan selamat tinggal kepada posko tua yang semula dianggap menyeramkan, namun kini menjelma menjadi rumah hangat penuh kenangan.
KKN memang unik. Datang diselimuti rasa cemas, pulang membawa tumpukan rindu. Di antara lelah, gelak tawa, drama kesurupan, hingga rapat yang tak kunjung usai, ada satu hal berharga yang mereka bawa pulang: mereka kembali bukan lagi sekadar mahasiswa, melainkan pribadi yang lebih dewasa, empati, dan percaya bahwa sekecil apa pun kebaikan, akan selalu meninggalkan jejak abadi di hati manusia.
Mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, yang paling membekas dalam ingatan mereka bukanlah lembaran nilai atau laporan KKN, melainkan Desa Dapet—tempat mereka pernah mengecap arti kehidupan, persahabatan, sekelumit kisah cinta, dan indahnya pengabdian. (*)
