Di sekitar arena Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Jombang, Jawa Timur, ada salah satu sudut yang menyebarkan aroma kuah sapi yang gurih, dihiasi asap tipis membumbung, dan dipandu oleh wajah-wajah ramah dari para sukarelawan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu).
Ya, Muhammadiyah menyajikan bakso untuk para muktamirin NU. Tidak tanggung-tanggung, ada 10.000 porsi bakso yang disiapkan untuk warga Nahdliyin maupun masyarakat umum. Silahkan dinikmati, gratis.
Secara wujud fisik, tidak ada yang spektakuler dari semangkuk bakso. Bakso adalah makanan nan merakyat. Dari tukang dorong di gang-gang sempit sampai gerai berpendingin udara di mal-mal megah. Bakso ada di mana-mana. Ia bukan hidangan eksklusif yang butuh tata cara makan ala bangsawan Eropa.
Namun, ketika bakso itu hadir di arena hajatan terbesar warga NU dan dimasak oleh tangan-tangan terampil kader Muhammadiyah, nilainya mendadak melonjak naik, bukan secara ekonomis, melainkan secara intrinsik dan kultural.
Mari kita jujur sebentar. Selama bertahun-tahun, media massa dan percakapan di warung kopi sering kali menggambarkan NU dan Muhammadiyah seperti dua saudara yang hobi berdebat soal hal-hal substantif hingga yang remeh temeh. Mulai dari penentuan awal Ramadan, hitungan rakaat taraweh, pakai doa qunut atau tidak saat subuh, sampai urusan tahlilan.
Namun, di Jombang hari itu, segala perdebatan mengenai furu’iyah (persoalan cabang agama) mendadak menguap bersama uap kuah bakso. Di hadapan semangkuk bakso yang penuh daging, terasa hangat, dan mengusir lapar, semua orang sepakat pada satu doktrin universal: Tidak ada sekat untuk menikmati semangkuk bakso.
Di sinilah letak satire yang indah. Betapa seringnya kita terjebak dalam sekat-sekat dogmatis yang kaku, padahal perut yang lapar dan hati yang tulus hanya membutuhkan hal-hal sederhana untuk saling menyatu.
Bakso menjadi simbol kekeluargaan yang amat cair. Teksturnya yang kenyal dan kuahnya yang hangat seolah melelehkan kebekuan prasangka yang selama ini kerap diembuskan oleh pihak-pihak yang senang melihat umat terpecah belah.
Secara lebih mendalam, fenomena “Bakso Muhammadiyah untuk Muktamirin NU” ini bukan sekadar aksi sosial food charity biasa. Ini adalah etalase paling jujur dari kerukunan bangsa.
Dalam lanskap sosio-keagamaan di Indonesia, NU dan Muhammadiyah adalah dua pilar penyangga republik. Jika kedua organisasi ini kokoh dan saling menopang, Indonesia akan berdiri tegak menghadapi badai zaman apa pun. Sebaliknya, jika keduanya goyah, runtuhlah bangunan keindonesiaan kita.
Inisiatif Muhammadiyah menyapa warga NU melalui kehangatan semangkuk bakso, mengajarkan kita satu hal penting tentang seni beragama dan berbangsa: kebijaksanaan tinggi sering kali diwujudkan dalam tindakan paling membumi.
Kerukunan autentik tidak selalu lahir dari seminar-seminar toleransi yang bertabur istilah serapan bahasa asing, atau deklarasi megah di hotel berbintang yang diakhiri dengan penandatanganan prasasti. Kerukunan yang sejati justru bersemi dari kepedulian antar-tetangga, dari gestur sederhana seperti memastikan saudara yang sedang punya hajatan perlu rehat sejenak.
Muhammadiyah hadir di Muktamar NU bukan untuk mencampuri urusan internal organisasi saudaranya, melainkan untuk menegaskan: “Kami ada di sini, mendukung kalian, menyemangati perjuangan kalian.” Ini adalah bentuk kedewasaan berorganisasi dan beragama yang sangat elegan.
Kehangatan dari semangkuk bakso adalah potret kecil dari masa depan Indonesia yang kita impikan. Sebuah masa depan di mana perbedaan pilihan, mazhab, dan pandangan politik tidak lagi menjadi alasan untuk saling bersitegang.
Jika 10.000 porsi bakso mampu menyatukan dua kekuatan besar Islam di Indonesia dalam senyum dan rasa syukur, maka tidak ada alasan bagi kita untuk ragu pada masa depan bangsa ini.
Pada akhirnya, di balik gurihnya kaldu dan kenyalnya daging pentol, ada pesan tersirat yang sangat jernih: selama kita masih bisa duduk bersama menikmati semangkuk bakso yang hangat, Insya Allah Indonesia akan baik-baik saja. (*)
