Syukur: Ketika Nikmat Tidak Membuat Kita Lupa

Syukur : Ketika Nikmat Tidak Membuat Kita Lupa
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada manusia yang sibuk menghitung apa yang belum dimilikinya, tetapi lupa menyadari apa yang telah ada dalam hidupnya. Ia mengejar sesuatu yang belum tercapai, sementara kesehatan, keluarga, waktu, ilmu, dan kesempatan sering dianggap biasa. Sesuatu baru terasa berharga setelah kehilangan datang. Barangkali persoalannya bukan karena hidup terlalu sedikit memberi, melainkan karena manusia terlalu terbiasa menerima.

Syukur dimulai ketika kita belajar melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa. Dari sana, hati belajar merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.

Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat jelas : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar respons setelah mendapatkan sesuatu, tetapi sikap yang memiliki konsekuensi spiritual.

Syukur berarti mengakui sumber karunia, menyadari keterbatasan diri, lalu menggunakan apa yang diterima secara bertanggung jawab. Karena itu, semakin seseorang memahami kehidupannya, semakin ia sadar bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan oleh kehendaknya sendiri.

Syukur bukan sekadar mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi kesadaran bahwa manusia tidak sepenuhnya mengendalikan hidupnya. Ada yang dapat diusahakan dan ada yang harus diterima dengan lapang. Kesadaran ini membuat seseorang tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah runtuh ketika gagal. Ia memahami bahwa ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil berada dalam ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena itu, syukur bukan sekadar perasaan, melainkan sikap yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Syukur yang benar selalu melahirkan tindakan. Ilmu menjadi manfaat, harta menjadi sarana berbagi, kekuasaan menjadi amanah, dan waktu digunakan untuk sesuatu yang bernilai. Sebab ucapan terima kasih kepada Allah akan kehilangan makna jika perilaku justru menunjukkan keserakahan, kesombongan, atau ketidakpedulian. Ukuran syukur bukan seberapa sering seseorang mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi seberapa jauh kesadarannya mendorong kebaikan. Apa yang kita terima pada akhirnya bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan.

Hidup pun tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kegagalan, kehilangan, penundaan, dan doa yang belum menemukan jawaban.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999).

Syukur dan sabar dengan demikian bukan dua sikap yang terpisah, tetapi dua cara menghadapi keadaan hidup dengan tetap menjaga hubungan kepada Allah.

Pada akhirnya, syukur adalah cara memandang kehidupan dengan jernih. Ia membuat kita mampu menghargai yang ada tanpa berhenti memperbaiki yang kurang. Kita tidak lagi menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan sendiri.

Kita belajar menikmati perjalanan, memperbaiki diri, dan menggunakan apa yang dipercayakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebaik-baiknya. Sebab hidup yang bermakna bukanlah tentang memiliki segala sesuatu. Hidup yang bermakna adalah ketika apa yang kita miliki mampu membawa kita semakin dekat kepada Sang Maha Pemberi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search