Ketika Bahaya Datang, Baru Kita Ingat Allah

Ketika Bahaya Datang, Baru Kita Ingat Allah
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Manusia sering kali baru menjadi hamba ketika dirinya tidak lagi berdaya. Ketika penyakit datang, doa mendadak menjadi panjang. Ketika kendaraan hampir celaka, nama Allah spontan diteriakkan. Ketika usaha berada di ambang kehancuran, tangan terangkat ke langit. Ketika kapal diterjang badai, manusia yang selama ini merasa kuat tiba-tiba sadar bahwa hidupnya ternyata rapuh. Di hadapan bahaya, kesombongan manusia sering runtuh dengan cepat.

QS. Yunus [10]: 12 menggambarkan tabiat itu dengan sangat tajam. Ketika kesusahan menimpa, manusia bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah, dalam keadaan berbaring, duduk, bahkan berdiri. Tetapi ketika kesusahannya dihilangkan, ia berlalu seakan-akan tidak pernah berdoa sebelumnya. Inilah ironi manusia: ketika membutuhkan Allah, ia merasa sangat dekat. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, ia merasa tidak lagi membutuhkan-Nya.

Doa akhirnya diperlakukan seperti tombol darurat. Dipencet ketika bahaya datang, lalu dilupakan ketika keadaan kembali normal. Padahal Allah bukan sekadar tempat berlindung ketika semua pintu dunia tertutup. Allah adalah Tuhan ketika kita sakit maupun sehat, ketika miskin maupun berkecukupan, ketika kehilangan maupun mendapatkan. Masalahnya bukan manusia berdoa ketika susah. Masalahnya adalah ketika manusia hanya mengingat Allah karena kesusahan.

QS. Az-Zumar [39]: 8 memperlihatkan pola yang sama. Ketika bahaya menimpa, manusia berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhannya. Tetapi ketika nikmat diberikan, ia melupakan doa yang pernah dipanjatkannya. Betapa cepat manusia melupakan siapa yang ia panggil ketika sedang ketakutan. Kemarin ia berkata, “Ya Allah, selamatkan aku.” Hari ini, setelah selamat, ia berkata, “Aku memang mampu melewatinya.”

Kemarin ia menangis meminta pertolongan. Hari ini ia sibuk menghitung jasanya sendiri. Manusia memang perlu berusaha. Tetapi usaha tidak boleh membuatnya lupa kepada Pemberi kemampuan untuk berusaha. QS. Az-Zumar [39]: 49 bahkan mengingatkan manusia yang setelah mendapatkan nikmat berkata bahwa semua itu diperolehnya karena pengetahuan dan kepandaiannya. Di sinilah kesombongan mulai bekerja: manusia mengakui kemampuan, tetapi melupakan sumber kemampuan.

Kita mengatakan, “Karena saya pintar.” “Karena saya bekerja keras.” “Karena saya punya koneksi.” “Karena saya punya strategi.” Semua itu mungkin benar sebagai sebab. Tetapi sebab bukan Tuhan. Kita sering terlalu sibuk menghitung apa yang kita lakukan sampai lupa menghitung berapa banyak hal yang tidak mampu kita kendalikan. Kita bisa memilih dokter, tetapi tidak menentukan kapan kesembuhan datang. Kita bisa bekerja keras, tetapi tidak menentukan seluruh hasilnya.

Kita bisa berhati-hati di jalan, tetapi tidak menguasai seluruh kemungkinan kecelakaan. Kita bisa merancang masa depan, tetapi tidak pernah memegang kunci hari esok. Karena itu, QS. Al-Isra’ [17]: 67 menghadirkan gambaran yang sangat manusiawi: ketika bahaya datang di lautan, manusia berdoa hanya kepada Allah. Tetapi ketika Allah menyelamatkannya sampai ke daratan, sebagian kembali berpaling. Laut membuat manusia ingat bahwa dirinya lemah. Daratan membuat manusia kembali merasa kuat.

Badai merobohkan ego. Keselamatan kadang membangunnya kembali. QS. Al-Ankabut [29]: 65 bahkan menggambarkan orang-orang yang ketika berada di atas kapal dan terancam bahaya, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Namun setelah diselamatkan sampai ke daratan, mereka kembali mempersekutukan-Nya. Seolah-olah tauhid hanya berlaku selama kapal sedang tenggelam. Padahal seharusnya setelah kapal diselamatkan, tauhid menjadi semakin kuat.

Di sinilah kita perlu bercermin. Jangan-jangan kita pun memiliki “kapal” masing-masing. Kapal itu bisa berupa kesehatan, pekerjaan, keluarga, harta, jabatan, reputasi, atau kenyamanan hidup. Selama semuanya berjalan baik, kita mudah merasa bahwa hidup berada di bawah kendali kita. Lalu datang satu telepon, satu hasil pemeriksaan, satu kehilangan, satu kegagalan, atau satu kabar buruk. Tiba-tiba semua perhitungan berubah.

Barulah kita sadar bahwa selama ini kita bukan pemilik kehidupan. Kita hanya penumpang yang terlalu lama mengira dirinya nahkoda. Karena itu, persoalan terbesar bukan apakah kita pernah berdoa ketika berada dalam bahaya. Hampir semua manusia mampu melakukannya. Persoalannya adalah: apa yang terjadi pada hubungan kita dengan Allah setelah bahaya itu berlalu? Apakah doa berhenti setelah keselamatan datang? Apakah sujud berakhir setelah masalah selesai?

Apakah syukur menghilang ketika rekening kembali terisi? Apakah Allah hanya dicari ketika dunia tidak bisa lagi kita andalkan? Jika demikian, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan sekadar cara berdoa ketika musibah datang, tetapi cara menjalani hidup ketika musibah itu telah pergi. Sebab orang yang hanya mengingat Allah ketika badai datang belum tentu telah belajar dari badai. Badai seharusnya tidak hanya membuat kita selamat. Badai seharusnya membuat kita berubah.

Jangan sampai ketika bahaya datang kita berkata, “Ya Allah, jangan tinggalkan aku.” Lalu setelah diselamatkan, justru kitalah yang meninggalkan-Nya. Sebab keselamatan sejati bukan hanya ketika Allah membawa kita keluar dari badai. Keselamatan sejati adalah ketika setelah badai berlalu, hati kita tetap tinggal bersama Allah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search