Pada akhirnya, kisah Imam Abu Hanifah bukan sekadar cerita tentang seorang ulama yang menolak jabatan. Ia adalah cermin untuk melihat kembali hubungan kita dengan ilmu, gelar, kekuasaan, harta, dan amanah. Dunia mungkin mengajarkan manusia untuk mengejar posisi setinggi mungkin, memperoleh gelar sebanyak mungkin, dan membangun pengaruh seluas mungkin. Islam memberikan pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa semua itu digunakan? Jika jabatan membuat seseorang semakin dekat dengan keadilan, jika gelar membuat seseorang semakin rendah hati, jika ilmu membuat seseorang semakin bermanfaat, dan jika kekuasaan digunakan untuk melindungi mereka yang lemah, maka semuanya dapat menjadi jalan pengabdian sekaligus syiar Islam. Tetapi jika jabatan melahirkan kesombongan, gelar melahirkan keangkuhan, ilmu melahirkan manipulasi, dan kekuasaan melahirkan penyalahgunaan, maka kemuliaan yang tampak di dunia dapat berubah menjadi beban berat di akhirat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْأُمَنَاءِ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْأَمَانَةَ وَيَعْدِلُونَ فِي الْحُكْمِ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang amanah, yang menunaikan amanah dan berlaku adil dalam menetapkan keputusan.”
Sebab itu, sebelum bangga dengan jabatan, mari bertanya apakah kita siap mempertanggungjawabkannya. Sebelum mencantumkan gelar di belakang nama, mari bertanya apakah ilmu yang diperoleh telah memberikan manfaat. Sebelum menerima fasilitas karena sebuah posisi, mari bertanya apakah manfaat tersebut benar-benar menjadi hak kita. Dan sebelum berbicara atas nama agama, mari bertanya apakah perilaku kita telah mencerminkan nilai agama yang kita sampaikan. Abu Hanifah mengajarkan bahwa menjaga kehormatan ilmu terkadang berarti berani mengatakan tidak kepada sesuatu yang secara duniawi terlihat menguntungkan. Dalam kehidupan hari ini, keberanian semacam itu justru semakin mahal. Jabatan boleh tinggi, gelar boleh panjang, pengaruh boleh luas, tetapi semuanya akan kehilangan makna jika tidak dibangun di atas amanah. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya akan ditanya tentang seberapa tinggi ia pernah berdiri, tetapi juga seberapa besar kebaikan yang ia tinggalkan dari tempat ia berdiri. Wallahu a’lam. (*)
