Beberapa waktu terakhir, pernyataan Sekjen Kemenristekdikti Budri Munir Sukoco soal pemangkasan program studi yang dianggap “tidak relevan dengan industri” terasa seperti bunyi mesin pabrik yang masuk ke ruang kelas. Halus sih, tapi cukup untuk bikin kita bertanya: ini kampus apa lini produksi?
Reduksi Posisi Perguruan Tinggi
Logikanya sederhana dan justru itu masalahnya.
Pendidikan tinggi direduksi menjadi alat penyedia tenaga kerja. Kampus diposisikan sebagai supplier, industri sebagai user, dan mahasiswa? Ya, semacam barang setengah jadi yang harus dipoles sesuai standar pasar. Kalau tidak laku, ya dihapus saja prodinya.
Masalahnya, sejak kapan hidup manusia sesederhana itu?
Kalau kita pakai kacamata Paulo Freire, pendidikan semacam ini jelas problematik. Freire mengkritik model pendidikan “gaya bank”, di mana mahasiswa hanya dianggap sebagai wadah kosong yang harus diisi pengetahuan praktis demi kepentingan sistem.
Kampus: Balai Latihan Kerja/BLK
Dalam konteks Indonesia hari ini, sistem itu bernama: industri.
Kampus kita perlahan berubah jadi tempat pelatihan kerja bersertifikat. Bukan lagi ruang berpikir, apalagi ruang meragukan sesuatu.
Padahal justru di situlah inti pendidikan: membentuk kesadaran kritis (conscientization), bukan sekadar keterampilan teknis.
Apakah hidup hanya urusan kerja pabrik?
Coba kita balik pertanyaannya: apakah hidup hanya soal kerja di pabrik?
Kalau jawabannya iya, ya sudah—hapus saja filsafat, sastra, antropologi, bahkan mungkin ilmu agama sekalian. Toh tidak langsung menghasilkan profit.
Tapi kalau jawabannya tidak, maka kebijakan yang terlalu tunduk pada logika industri ini jelas bermasalah.
Kampus tempat Membangun Peradaban
Kampus seharusnya membangun peradaban, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Peradaban itu butuh pemikir, pengkritik, seniman, bahkan pemimpi—bukan hanya operator mesin dan analis data.
Lucunya, negara seperti lupa bahwa industri sendiri lahir dari proses panjang pemikiran. Teknologi tidak muncul dari ruang hampa, tapi dari tradisi intelektual yang bebas, liar, dan kadang tidak “relevan” secara ekonomi dalam jangka pendek.
Ironinya, kita justru ingin memangkas akar sambil berharap pohon tetap tumbuh.
Nalar Kapitalistik Kampus: Berbahaya
Di titik ini, nalar pendidikan kita tampak sangat pragmatis—bahkan cenderung kapitalistik. Nilai ilmu diukur dari seberapa cepat ia bisa dikonversi menjadi rupiah.
Kalau tidak punya nilai jual langsung, dianggap beban. Ini bukan lagi pendidikan, tapi investasi dengan target ROI.
Padahal, pendidikan tinggi bukan sekadar soal return on investment, tapi soal return of meaning mengembalikan makna hidup manusia sebagai makhluk yang berpikir, bukan sekadar bekerja.
Freire pernah bilang, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menyesuaikan manusia pada sistem yang menindas. Nah, kalau kampus hanya mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, bukankah itu bentuk penyesuaian paling halus?
Mahasiswa tidak lagi diajak bertanya “mengapa sistem ini ada?”, tapi hanya dilatih “bagaimana bekerja di dalamnya”.
Akhirnya, kita punya lulusan yang kompeten tapi tidak kritis. Pintar tapi patuh. Terampil tapi tidak reflektif.
Dan mungkin itu yang paling berbahaya.
Karena peradaban tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang hanya mengikuti kebutuhan pasar, tapi oleh mereka yang berani mempertanyakan arah zaman.
Jadi, kalau kampus terus dipaksa jadi pabrik, jangan heran kalau suatu saat kita kehabisan manusia yang tersisa hanya tenaga kerja. (*)
