Dunia dengan segala gemerlapnya merupakan ujian terbesar bagi keimanan seorang muslim. Bukan pedang, bukan penjara, bukan siksaan yang paling banyak meruntuhkan agama seseorang, tetapi harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan duniawilah yang membuat hati berpaling perlahan dari Allah. Allah telah memperingatkan bahwa dunia sebagai perhiasan yang menipu. Ia tampak indah di mata, menggiurkan di hati, tetapi hakikatnya fana dan menyesatkan bagi orang yang menjadikannya tujuan.
Fantasi dan Ilusi Dunia
Bahaya terbesar muncul ketika seorang muslim mulai menimbang antara ridha Allah dan keuntungan dunia. Pada titik itu, banyak yang memilih menanggalkan sebagian agamanya demi mempertahankan dunia yang sedang digenggam. Mereka bukan hanya menyisihkan agama, tetapi bahkan berani menjualnya dengan harga murah. Inilah yang disebut memarginalkan agama demi meraih dunia.
Sejarah mencatat banyak kaum terdahulu yang binasa karena tertipu dunia. Qarun binasa karena kesombongan hartanya. Bani Israil berulang kali menolak risalah para nabi karena takut kehilangan kedudukan dan perdagangan. Di zaman ini, kisah itu terulang dalam bentuk lain. Ada pejabat yang menandatangani kebijakan bertentangan dengan syariat demi mengamankan proyek miliaran. Ada da’i yang menukar fatwanya dengan sponsor. Ada pedagang yang meninggalkan shalat Jumat demi keuntungan toko yang tak seberapa. Dunia tetap sama, yang berubah hanya topengnya.
Agama yang seharusnya menjadi pedoman hidup, diturunkan derajatnya menjadi alat, bahkan bahan lelucon, ketika berhadapan dengan kepentingan duniawi. Inilah bentuk pelecehan paling halus namun paling berbahaya. Seseorang masih mengaku muslim, masih shalat, masih puasa, tetapi hatinya tidak mengagungkan hukum Allah. Allah menegur keras perilaku ini sebagaimana firman-Nya:
وَذَرِ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَعِبًا وَّلَهْوًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَ ذَكِّرْ بِهٖۤ اَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِۢمَا كَسَبَتْ
“Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah mereka dengan Al-Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri.” [QS. Al-An’am: 70]
Mereka mempermainkan agama dengan tiga cara. Pertama, memilih kekafiran atau kemunafikan demi kekayaan. Di zaman Rasulullah, ada orang-orang yang masuk Islam karena ingin mendapatkan ghanimah, tetapi murtad ketika tidak mendapatkan bagian. Kedua, membuang hukum-hukum agama yang dianggap menghalangi keuntungan. Riba dilegalkan dengan nama bunga bank, zina dimudahkan dengan alasan hak asasi, hukum waris Islam diganti dengan hukum adat demi menjaga harta keluarga.
Ketiga, menjadikan agama sebagai bahan candaan dan konten. Ayat-ayat Allah dipotong-potong untuk meme, hukum syariat diejek sebagai ketinggalan zaman, ulama dihina demi viral.
Contoh dari umat terdahulu adalah Bal’am bin Ba’ura. Ia adalah seorang alim Bani Israil yang dikaruniai ayat-ayat Allah. Namun ketika ditawari harta dan kedudukan oleh raja yang memusuhi Nabi Musa, ia menjual ilmunya. Allah berfirman tentangnya: “Maka ia mengikuti setan, lalu jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.” [QS. Al-A’raf: 175]. Ilmunya tidak menyelamatkannya, karena hatinya sudah terpaut pada dunia.
Di zaman ini, kita melihat contoh serupa. Ada orang yang awalnya dikenal taat, kemudian ketika mendapat jabatan, ia mulai diam terhadap kemungkaran. Ketika ditanya, ia menjawab, “Ini demi stabilitas, demi kepentingan yang lebih besar.” Padahal yang lebih besar bagi seorang mukmin adalah ridha Allah. Mereka menukar agama dengan kontrak, proyek, dan jabatan yang umurnya tidak lebih dari satu periode.
Mempermainkan agama adalah kehinaan yang dianggap kemuliaan. Orang yang berani meninggalkan salat demi meeting dipuji sebagai pekerja keras. Orang yang berani merubah fatwa demi menyenangkan sponsor disebut sebagai ulama moderat. Padahal di sisi Allah, itu adalah kerugian yang nyata.
Menolak Ayat, Terpesona Dunia
Tingkat yang lebih parah dari mempermainkan agama adalah menolak ayat-ayat Allah secara sadar. Ini terjadi ketika seseorang sudah tahu kebenaran, tetapi hatinya menolak karena takut kehilangan dunia. Allah menggambarkan keadaan ini sebagaaimana firman-Nya :
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِيْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا قَا لُوْا شَهِدْنَا عَلٰۤى اَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا
“Wahai golongan jin dan manusia! Bukankah sudah datang kepadamu Rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, mereka menyampaikan ayat-ayat-Ku kepadamu dan memperingatkanmu tentang pertemuan pada hari ini? Mereka menjawab, ‘Ya, kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.’ Tetapi mereka tertipu oleh kehidupan dunia.” [QS. Al-An’am: 130]
Penolakan ini tidak selalu dengan lisan. Seringkali ia terjadi dalam hati dan tindakan. Ayat tentang riba dibaca, tetapi tetap menjalankan bisnis riba karena “sudah sistemnya begitu”. Ayat tentang aurat disampaikan, tetapi tetap membuka aurat karena “supaya laku di dunia kerja”. Ayat tentang amanah dibacakan, tetapi tetap korupsi karena “semua orang juga begitu”.
Contoh nyata dari umat terdahulu adalah kaum Quraisy. Mereka mengenal Nabi Muhammad sebagai Al-Amin, mereka tahu Al-Qur’an adalah kebenaran. Tetapi ketika dakwah mulai mengancam perdagangan dan kedudukan mereka di Mekah, mereka menolak. Abu Jahal berkata, “Kami tidak mendustakanmu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Dunia telah membutakan mata hati mereka.
Di masa kini, penolakan terhadap ayat terjadi dalam bentuk yang lebih halus. Ada yang menolak hukum potong tangan dengan alasan tidak manusiawi. Ada yang menolak larangan khalwat dengan alasan sudah dewasa dan saling ridha. Ada yang menolak larangan ikhtilat karena tuntutan pekerjaan. Alasannya selalu satu: dunia. Takut dipecat, takut tidak laku, takut ketinggalan zaman.
Mereka lupa bahwa dunia ini adalah ujian, bukan tempat menetap. Orang yang menolak ayat demi dunia sama seperti orang yang membuang kompas karena takut jalannya menjadi sulit. Ia memang merasa nyaman sesaat, tetapi akhirnya tersesat.
Dunia tidak haram. Harta, jabatan, dan ilmu duniawi adalah nikmat Allah jika digunakan di jalan-Nya. Yang tercela adalah ketika dunia diposisikan segalanya dan dijadikan bos sementara agama ditempatkan sebagai karyawan atau bawahan. Ketika shalat ditunda demi rapat, ketika jujur dikorbankan demi omzet, ketika syariat diubah demi popularitas, di situlah kehancuran dimulai.
Kisah Bal’am dan kaum Quraisy seharusnya menjadi cermin. Mereka memiliki ilmu dan kedudukan, tetapi semua itu tidak menyelamatkan karena hati mereka lebih mencintai dunia daripada Allah. Kisah itu terus berulang. Bedanya, sekarang kita yang menjadi pemeran.
Surabaya, 15 Mei 2026
