Ketika Satu Bintang Diangkat dari Langit: Renungan atas Wafatnya Prof. Hamim Ilyas

Ketika Satu Bintang Diangkat dari Langit: Renungan atas Wafatnya Prof. Hamim Ilyas
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Kabar duka menyelimuti dunia keilmuan Islam Indonesia. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag wafat pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Yogyakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang teduh, rendah hati, pengayom, dan memiliki perhatian besar pada pengembangan pemikiran Islam.

Kematian seorang ulama tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga dan murid-muridnya. Ia menghadirkan sebuah renungan besar: bahwa wafatnya ahli ilmu bukan sekadar berkurangnya jumlah manusia, tetapi berkurangnya cahaya yang menerangi jalan umat.

Nabi ﷺ telah memberikan peringatan yang mengguncang:

> إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.“¹

Perhatikan ungkapan Nabi ﷺ: “bi qabdhil-‘ulama” (dengan diwafatkannya ulama). Ilmu tidak diangkat dengan lenyapnya tinta, hancurnya buku, atau ditutupnya perpustakaan. Tetapi ilmu dicabut ketika orang-orang yang memikulnya kembali kepada Allah.

Kitab-kitab tetap berada di rak-rak. Teks-teks tetap tertulis. Namun ada sesuatu yang ikut pergi bersama seorang alim: pemahaman, kebijaksanaan, adab, keteladanan, dan cara memandang kehidupan dengan cahaya wahyu.

Sebagian atsar ulama menggambarkan:

> العُلَمَاءُ نُجُومُ السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا، فَإِذَا طُمِسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ السُّبُلُ

“Ulama itu laksana bintang-bintang di langit yang dijadikan petunjuk; apabila bintang-bintang itu padam maka jalan-jalan hampir tersesat.”²

Tamsil ini sangat indah dari sisi balaghah. Mengapa ulama diibaratkan bintang dan bukan matahari? Karena manusia tidak selalu hidup pada siang hari. Ada masa-masa gelap; gelap fitnah, gelap syubhat, gelap kebingungan, dan gelap perubahan zaman. Pada saat itulah manusia mencari arah kepada bintang.

Hari ini satu bintang telah diangkat.

Tetapi wafatnya seorang ulama juga membawa pesan lain: jangan hanya menangisi kepergian mereka, tetapi lanjutkan warisan mereka. Sebab para ulama tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu.

Maka kesedihan sejati bukan semata wafatnya ulama, tetapi jika setelah wafatnya mereka tidak ada generasi yang meneruskan jejaknya; tidak ada yang belajar, tidak ada yang membaca, tidak ada yang mencintai ilmu.

Prof. Hamim Ilyas telah menyelesaikan bagian perjalanan beliau di dunia. Kini yang tersisa bagi umat adalah doa, pelajaran, dan teladan yang ditinggalkannya.

Kita memohon kepada Allah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاجْعَلْ مَا قَدَّمَهُ مِنْ عِلْمٍ وَخَيْرٍ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ

“Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, lapangkan tempat masuknya, dan jadikan ilmu serta kebaikan yang telah beliau persembahkan sebagai pemberat timbangan amalnya.”

Dan semoga Allah menjaga umat ini dengan menghadirkan generasi-generasi pencari ilmu yang tulus; sebab ketika satu bintang diangkat dari langit, umat memerlukan bintang-bintang baru untuk menerangi jalan.

آمين يا رب العالمين

Footnotes:

1. Sahih al-Bukhari, Bab Kayfa Yuqbad al-‘Ilm, no. 100; Sahih Muslim, no. 2673.
2. Diriwayatkan dalam beberapa kitab adab dan hikmah ulama dengan redaksi yang beragam. Maknanya dinukil oleh banyak ulama dalam pembahasan keutamaan ahli ilmu, di antaranya Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih.

 

Tinggalkan Balasan

Search