Ketika Stadion Menjadi Mimbar Kebencian

Ketika Stadion Menjadi Mimbar Kebencian
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Konon, sepak bola adalah bahasa universal. Namun, ada kalanya bahasa itu diterjemahkan secara keliru menjadi siulan kebencian, ejekan rasial, dan penghinaan atas nama agama. Ironisnya, pertandingan yang seharusnya menyatukan manusia justru berubah menjadi panggung demonstrasi prasangka.

Gol dicetak di lapangan, tetapi kebencian justru lahir dari tribun.

Rasisme agama dalam sepak bola bukan sekadar ulah segelintir oknum. Ia adalah gejala sosial yang menunjukkan bahwa sebagian orang masih membawa “koper kebencian” ke mana pun mereka pergi, termasuk ke stadion. Seragam klub boleh berbeda, tetapi seharusnya kemanusiaan tetap satu warna.

Salah satu penyebabnya adalah politik identitas. Identitas agama, suku, atau ras dijadikan alat untuk membangun sekat “kami” dan “mereka”. Dalam situasi seperti ini, pemain yang berasal dari kelompok minoritas tidak lagi dinilai dari kualitas umpan, kecepatan lari, atau kecerdasan membaca permainan, melainkan dari identitas yang melekat pada dirinya.

Padahal bola tidak pernah bertanya siapa agamamu sebelum masuk ke gawang.

Fanatisme suporter juga sering melampaui batas. Mencintai klub adalah hal yang indah. Namun, ketika kecintaan berubah menjadi kebencian terhadap manusia lain, yang tumbuh bukan lagi loyalitas, melainkan intoleransi.

Satire yang menyedihkan adalah ini: ada orang yang hafal formasi 4-3-3, tetapi lupa bahwa seluruh manusia berasal dari nenek moyang yang sama. Ada yang hafal statistik pemain, tetapi gagal memahami bahwa menghina agama orang lain bukanlah bagian dari strategi permainan.

Islamofobia menjadi salah satu wajah nyata diskriminasi tersebut. Tidak sedikit pemain Muslim yang menghadapi stereotip negatif hanya karena keyakinannya. Prestasi mereka sering kali dikalahkan oleh prasangka yang telah lebih dahulu menguasai pikiran sebagian orang.

Padahal di lapangan, bola tidak membedakan kaki seorang Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, atau siapa pun. Yang menentukan hanyalah kemampuan, disiplin, kerja keras, dan sportivitas.

Stadion pun kerap dianggap sebagai “ruang bebas tanpa filter”. Seolah-olah begitu melewati pintu masuk stadion, etika boleh ditinggalkan di luar pagar. Kalimat yang tidak berani diucapkan di kantor, sekolah, atau rumah, tiba-tiba diteriakkan lantang dari tribun.

Barangkali sebagian orang mengira tiket pertandingan sudah termasuk bonus izin menghina sesama.

Padahal mikrofon kebencian tidak pernah menghasilkan kemenangan yang bermartabat.

Persoalan ini semakin rumit ketika sanksi terhadap pelaku diskriminasi tidak diterapkan secara konsisten. Hukuman yang lemah sering kali hanya menjadi jeda singkat sebelum pelanggaran berikutnya terjadi. Ketika pelaku merasa risikonya kecil, diskriminasi pun berulang seperti pertandingan yang diputar ulang tanpa akhir.

Karena itu, aturan anti-diskriminasi yang ditegakkan oleh federasi sepak bola dunia maupun nasional bukanlah sekadar formalitas administratif. Ia adalah pagar moral agar olahraga tetap menjadi ruang persaudaraan, bukan arena permusuhan. Rasisme dalam olahraga—baik berdasarkan warna kulit, etnis, asal-usul, maupun agama—harus dilawan secara tegas karena merusak esensi sportivitas.

Dalam perspektif Islam, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh ras, warna kulit, ataupun keturunan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman adalah sarana untuk saling mengenal, bukan saling merendahkan.

Sepak bola pada akhirnya hanyalah permainan. Jangan sampai permainan itu justru memperlihatkan kekalahan terbesar manusia, yakni kalah melawan prasangka.

Sebab trofi memang hanya dimiliki satu tim setiap musim, tetapi kehormatan sebagai manusia seharusnya dimiliki oleh semua orang, setiap hari. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search