اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Alhamdulillah, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. karena atas rahmat dan karunia-Nya, pada pagi yang mulia ini kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama menikmati hangatnya sinar mentari dan segarnya udara pagi sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Swt.
Kita juga bersyukur karena masih diberi kesehatan, kekuatan, dan umur panjang sehingga dapat kembali menunaikan Salat Iduladha 1447 Hijriah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu tanpa mampu dihentikan. Umur kita semakin berkurang, sementara perjalanan menuju akhirat semakin dekat. Karena itu, Iduladha menjadi momentum penting untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperbanyak amal saleh sebelum datang waktu yang tidak dapat ditunda.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hari raya Iduladha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali semangat pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus.”
(QS. Al-Kautsar: 1–3)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini memerintahkan umat Islam untuk memadukan ibadah kepada Allah dengan kepedulian sosial melalui kurban. Salat menguatkan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan kurban memperkuat kasih sayang dan solidaritas antar sesama.
Iduladha mengajarkan bahwa harta yang kita miliki bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan ada hak orang lain di dalamnya. Oleh sebab itu, kurban menjadi simbol keikhlasan dan kepedulian terhadap kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Keteladanan terbesar pada Iduladha terdapat pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim rela meninggalkan keluarganya di padang tandus demi menjalankan perintah Allah. Bahkan ketika diperintahkan menyembelih putranya sendiri, beliau tetap taat tanpa keraguan sedikit pun.
Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’”
(QS. Ash-Shaffat: 103–105)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan iman akan melahirkan kepatuhan yang sempurna kepada Allah. Nabi Ismail pun menerima perintah itu dengan penuh kesabaran dan ketaatan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim No. 2564)
Hadirin yang berbahagia,
Di tengah kehidupan modern saat ini, manusia sering diuji oleh berbagai godaan zaman. Banyak orang berlomba mengejar kekayaan dan popularitas, tetapi melupakan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan ketakwaan. Tidak sedikit anak yang mulai jauh dari akhlak mulia, kurang menghormati orang tua dan guru, bahkan terjerumus dalam pergaulan bebas dan penyalahgunaan teknologi.
Karena itu, keluarga Nabi Ibrahim AS harus menjadi teladan bagi kita semua. Ibrahim mendidik keluarga dengan ketakwaan dan doa. Hajar mendidik Ismail dengan kesabaran dan keteguhan hati. Ismail tumbuh menjadi anak saleh yang taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Marilah kita jadikan rumah tangga kita sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, dan akhlak mulia. Ajarkan anak-anak mencintai Al-Qur’an, menjaga salat, menghormati orang tua, serta bijak menggunakan teknologi agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
Selain berkurban, Islam juga mengajarkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Di saat masih banyak saudara kita hidup dalam kesulitan ekonomi, maka berbagi menjadi jalan untuk membersihkan harta dan mempererat persaudaraan.
Allah Swt. berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua memanfaatkan kesempatan hidup yang masih diberikan Allah Swt. untuk memperbanyak amal saleh. Gunakan umur yang tersisa untuk hal-hal yang bermanfaat, menolong sesama, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena lalai mempersiapkan bekal menuju akhirat. Sebab dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi.
Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman yang hidup, marilah kita memanjatkan doa ke hadirat Allah Swt. Semoga doa-doa kita diamini oleh para malaikat dan dikabulkan oleh Allah Swt.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
Ya Allah, jadikan negeri kami negeri yang aman, damai, dan penuh keberkahan. Jauhkan bangsa kami dari perpecahan, korupsi, kebencian, dan kezaliman. Karuniakan kepada kami para pemimpin yang adil dan amanah.
Ya Allah, bantulah saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina dan di berbagai belahan dunia. Berikan mereka kekuatan, keselamatan, dan kemenangan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
