Di berbagai ruang diskusi keislaman, istilah sekularisme sering kali muncul sebagai kata yang menjelaskan hampir seluruh problem modernitas. Pendidikan dianggap sekuler. Ekonomi dianggap sekuler. Politik dianggap sekuler. Bahkan sains dan teknologi pun tidak jarang dicurigai sebagai bagian dari proyek sekularisasi kehidupan.
Namun di tengah ramainya perdebatan tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: apakah sekularisme benar-benar akar masalahnya, ataukah sekularisme hanyalah gejala dari persoalan yang lebih dalam?
Pertanyaan ini penting karena kesalahan mendiagnosis penyakit sering kali menghasilkan kesalahan dalam menentukan terapi. Ketika demam dianggap sebagai penyakit, orang mungkin hanya sibuk menurunkan suhu tubuh tanpa pernah mencari sumber infeksinya. Akibatnya panas turun sesaat, tetapi penyakitnya tetap tumbuh diam-diam di dalam tubuh.
Demikian pula dalam dunia pendidikan.
Banyak orang melihat berbagai fenomena yang mengkhawatirkan: peserta didik semakin cerdas tetapi kehilangan arah hidup, teknologi semakin maju tetapi kecemasan semakin meningkat, gelar akademik semakin tinggi tetapi kebijaksanaan semakin langka. Sebagian lalu menyimpulkan bahwa akar masalahnya adalah sekularisme.
Kesimpulan ini tidak sepenuhnya keliru. Namun menurut saya, ia belum menyentuh lapisan terdalam persoalan.
Karena sekularisme sesungguhnya bukan pertama-tama masalah politik, bukan pula semata-mata masalah institusi pendidikan. Sekularisme pada dasarnya adalah sebuah cara pandang tentang realitas. Ia adalah worldview yang secara perlahan memisahkan berbagai wilayah kehidupan dari bimbingan wahyu sebagai sumber makna dan kebenaran.
Di sinilah persoalan menjadi jauh lebih serius.
Sebab sekularisme bukan selalu hadir dalam bentuk penolakan terhadap agama. Dalam banyak kasus, agama tetap dihormati, rumah ibadah tetap berdiri, pelajaran agama tetap diajarkan, dan ritual keagamaan tetap dijalankan. Namun agama secara perlahan dipersempit wilayah pengaruhnya. Ia hanya diberi ruang pada wilayah privat, sementara ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, hukum, dan kebudayaan berjalan dengan logika yang terpisah dari wahyu.
Akibatnya, manusia modern hidup dalam dua dunia yang tidak saling bertemu. Di satu sisi ia beribadah kepada Allah. Di sisi lain ia memahami kehidupan melalui paradigma yang sama sekali tidak merujuk kepada Allah.
Inilah yang menurut saya lebih tepat disebut sebagai krisis epistemologi.
Epistemologi adalah pembahasan tentang bagaimana manusia mengetahui, dari mana sumber pengetahuannya, dan bagaimana menentukan kebenaran. Ketika krisis ini terjadi, persoalan tidak lagi berhenti pada isi kurikulum atau jumlah jam pelajaran agama. Persoalannya menyentuh fondasi paling dasar dari seluruh bangunan pendidikan.
Pendidikan modern telah berhasil mengembangkan kemampuan manusia dalam membaca dunia. Ia menghasilkan ilmuwan, insinyur, dokter, ekonom, programmer, dan berbagai profesi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan modern. Namun ada pertanyaan yang perlu diajukan dengan jujur: apakah pendidikan juga berhasil membantu manusia memahami makna dari dunia yang sedang dibacanya?
