Khutbah Pertama
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Takwa adalah inti ajaran Islam dan ukuran utama kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Karena itu, khotbah Jumat hampir selalu dibuka dengan wasiat takwa, sebab seluruh kualitas keberagamaan seorang muslim pada akhirnya kembali kepada sejauh mana ia menghadirkan takwa dalam hidupnya.
Takwa bukan sekadar istilah normatif yang diucapkan dari mimbar ke mimbar, melainkan kesadaran iman yang hidup; kesadaran bahwa Allah hadir dalam seluruh ruang kehidupan, mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi, menilai seluruh amal, dan akan meminta pertanggungjawaban atas semuanya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Ayat ini menunjukkan bahwa takwa bukan pilihan tambahan dalam beragama, melainkan perintah pokok. Bahkan Allah tidak sekadar memerintahkan takwa, tetapi dengan sebenar-benar takwa.
Artinya, takwa yang sungguh-sungguh, yang memiliki konsekuensi moral, yang membentuk integritas, dan yang melahirkan kepatuhan kepada Allah, baik dalam ibadah mahdhah maupun dalam kehidupan sosial.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Secara makna, takwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa berarti menempatkan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Seorang yang bertakwa tidak hanya bertanya: apa yang saya inginkan? tetapi juga: apa yang Allah kehendaki dari saya?
Ia tidak hanya menimbang untung-rugi duniawi, tetapi juga halal-haram, benar-salah, maslahat-mudharat, serta ridha atau murka Allah. Karena itu, takwa harus tampak dalam kehidupan sehari-hari. Takwa bukan hanya urusan sajadah, tetapi juga urusan sikap, pilihan, dan tanggung jawab.
Takwa hadir ketika seorang muslim jujur dalam berdagang, disiplin dalam bekerja, amanah dalam jabatan, adil dalam memutuskan perkara, santun dalam bertutur kata, serta bertanggung jawab dalam keluarga dan masyarakat.
Takwa menuntun seseorang untuk menahan lisannya dari dusta, ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian; menahan tangannya dari kezaliman dan kecurangan; menahan matanya dari yang haram; serta menahan hatinya dari riya, hasad, dan kesombongan.
Rasulullah bersabda: “Takwa itu di sini.” Lalu beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa takwa berakar dari hati. Namun hati yang bertakwa tidak berhenti pada perasaan batin. Ia harus membuahkan perilaku lahir. Jika seseorang mengaku takut kepada Allah tetapi masih ringan berdusta, menipu, melanggar amanah, dan menyakiti sesama, maka ada yang belum selesai dengan takwanya. Sebab takwa yang benar selalu menampakkan pengaruh dalam akhlak dan muamalah.
Karena itu, Al-Qur’an menjadikan takwa sebagai ukuran kemuliaan manusia. Allah berfirman:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al Hujurat: 13)
Ayat ini memberi pelajaran penting: ukuran kemuliaan dalam Islam bukan keturunan, jabatan, kekayaan, afiliasi, maupun pencitraan keagamaan, melainkan takwa. Dengan demikian, takwa adalah fondasi pembentukan pribadi muslim sekaligus fondasi peradaban umat.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana meningkatkan kualitas takwa? Salah satu jawabannya ialah dengan memperbaiki kualitas ibadah. Sebab takwa tidak lahir dari hati yang jauh dari Allah. Takwa tumbuh melalui ibadah yang benar, konsisten, dan berpengaruh terhadap akhlak.
Pertama: menegakkan salat dengan benar. Salat adalah pilar agama dan sarana terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam Al-Qur’an, salat tidak hanya diperintahkan, tetapi juga diberi fungsi moral yang sangat jelas:
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنۡهٰى عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡكَرِؕ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Maka, salat yang benar bukan hanya sah secara fiqih, tetapi juga melahirkan dampak etis. Salat yang ditegakkan dengan khusyuk, tepat waktu, dan penuh penghayatan semestinya mencegah pelakunya dari kebohongan, kecurangan, kemarahan yang tak terkendali, serta tindakan zalim kepada sesama. Bila salat tidak meninggalkan bekas pada akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan perintah shalatnya, tetapi kualitas salat kita: kehadiran hati, kesungguhan, dan kedisiplinan kita dalam menegakkannya.
Kedua: membiasakan muraqabah, merasa diawasi Allah. Takwa tidak mungkin tumbuh tanpa kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat. Banyak pelanggaran terjadi bukan karena seseorang tidak tahu hukum, tetapi karena hilangnya rasa diawasi Allah. Ia merasa aman saat sendiri, merasa bebas saat tidak ada yang menegur, dan merasa cerdik saat berhasil menyembunyikan kesalahan.
Padahal Allah berfirman:
اَلَمۡ يَعۡلَمۡ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىؕ
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS. Al-‘Alaq: 14)
Kesadaran inilah yang membuat seorang muslim menjaga integritasnya. Ia jujur meski tidak diawasi. Ia amanah meski tidak dipuji. Ia menahan diri dari yang haram meski ada kesempatan.
Dalam konteks kehidupan modern, muraqabah sangat penting di tengah godaan korupsi, manipulasi data, penyalahgunaan jabatan, serta kebebasan media digital yang sering menyeret orang kepada dosa tanpa rasa bersalah.
Ketiga: memperbanyak taubat dan istighfar. Takwa bukan berarti seseorang tidak pernah salah, tetapi ia tidak betah hidup dalam kesalahan. Ia segera kembali kepada Allah, mengakui dosanya, memperbaiki kekeliruannya, dan memohon ampun dengan sungguh-sungguh.
Allah berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ تَوۡبَةً نَّصُوۡحًا ؕ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarbenarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat adalah mekanisme pembersihan jiwa. Tanpa taubat, dosa akan menumpuk dan menumpulkan nurani. Tanpa istighfar, hati menjadi keras, sehingga maksiat terasa biasa dan ketaatan terasa berat. Karena itu, orang bertakwa adalah orang yang menjaga kebersihan hatinya dengan taubat yang terusmenerus.
Keempat: membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Takwa memerlukan petunjuk, dan petunjuk itu adalah wahyu Allah. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan sumber nilai, sumber orientasi, dan sumber koreksi bagi hidup seorang muslim.
Allah berfirman:
ذٰلِكَ الۡڪِتٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيۡهِۛۚ هُدًى لِّلۡمُتَّقِيۡنَۙ
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Maka hubungan dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada tilawah, tetapi harus berlanjut kepada tadabbur dan pengamalan. Umat yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah kehilangan arah, sebab ia menilai segala sesuatu hanya dengan ukuran selera, opini, dan kepentingan, bukan dengan petunjuk Allah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Takwa yang benar tidak berhenti pada peningkatan ibadah personal. Takwa harus berbuah dalam perilaku sosial. Inilah salah satu penekanan penting dalam Islam: bahwa kesalehan ritual harus melahirkan kesalehan sosial.
Ibadah tidak boleh menjadikan seseorang merasa cukup dengan dirinya, lalu abai terhadap amanah sosialnya. Seorang yang rajin salat, puasa, zikir, dan tilawah, tetapi masih menyakiti orang lain, mengabaikan hak-hak sesama, dan merusak tatanan sosial, berarti belum menghadirkan takwa secara utuh.
Rasulullah bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat mendasar. Ukuran muslim yang baik tidak hanya pada ibadah ritual, tetapi juga pada keamanan sosial yang ia ciptakan. Apakah lisannya menenteramkan atau justru melukai? Apakah tangannya menolong atau justru menzalimi? Apakah kehadirannya membawa maslahat atau justru menimbulkan mudarat?
Di sinilah takwa harus diterjemahkan dalam bentuk nyata: kejujuran dalam transaksi, tanggung jawab dalam pekerjaan, keadilan dalam memimpin, kepedulian kepada yang lemah, penghormatan terhadap tetangga, kesantunan dalam perbedaan, serta pengendalian diri dalam menggunakan media sosial.
Seorang muslim yang bertakwa tidak akan menyebarkan berita bohong, tidak akan merusak kehormatan orang lain, tidak akan memprovokasi permusuhan, dan tidak akan memanfaatkan agama untuk kepentingan yang sempit.
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa takwa juga memiliki dimensi sosial dan kolektif. Masyarakat bertakwa adalah masyarakat yang saling menolong dalam kebaikan, saling menguatkan dalam kejujuran, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan menolak kerja sama dalam kezaliman.
Dalam kerangka dakwah Muhammadiyah, ayat ini sangat relevan: ibadah yang benar harus melahirkan gerakan tajdid, pelayanan sosial, pendidikan, pemberdayaan, serta ikhtiar membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Karena itu, kita perlu melakukan muhasabah bersama. Apakah ibadah kita sudah melahirkan akhlak? Apakah shalat kita telah menumbuhkan kedisiplinan dan kejujuran? Apakah puasa kita menahan kita dari keburukan lisan dan perilaku? Apakah tilawah kita mendekatkan kita kepada amanah dan kepedulian sosial? Atau jangan-jangan agama baru kita tempatkan sebagai simbol identitas, belum sungguh-sungguh menjadi kekuatan pembentuk karakter?
Jika takwa ingin kita bangun, maka pembenahan harus dimulai dari diri sendiri: memperbaiki ibadah, membersihkan hati, menertibkan lisan, menghalalkan rezeki, menunaikan amanah, dan menghadirkan kemanfaatan bagi sesama. Takwa yang seperti itulah yang akan melahirkan pribadi muslim yang kokoh dan masyarakat yang berkeadaban.
Khutbah Kedua
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita memperbarui komitmen takwa kita kepada Allah. Takwa bukan konsep yang abstrak, tetapi pedoman hidup yang konkret. Takwa harus hadir dalam ibadah kita, dalam keluarga kita, dalam pekerjaan kita, dalam cara kita berbicara, dalam cara kita memperlakukan sesama, dan dalam cara kita menjalankan amanah kehidupan.
Rasulullah memberikan pesan yang sangat ringkas tetapi komprehensif: Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. at-Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa takwa tidak dibatasi ruang dan waktu. Takwa tidak hanya untuk masjid, tetapi juga untuk kantor, pasar, rumah, sekolah, ruang rapat, bahkan ruang digital yang hari ini menjadi bagian dari kehidupan kita. Di mana pun seorang muslim berada, di situlah takwa harus menyertainya.
Allah juga menjanjikan buah dari takwa:
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Janji ini meneguhkan kita bahwa takwa bukan beban, melainkan jalan keselamatan. Takwa menghadirkan ketenangan batin, keberkahan hidup, kekuatan moral, dan pertolongan Allah dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan.
Maka marilah kita pulang dari majelis Jumat ini dengan tekad untuk memperbaiki diri: menjaga salat, memperbanyak taubat, menghidupkan Al-Qur’an, memperkuat kejujuran, menunaikan amanah, mengendalikan lisan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan kita. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, istikamah dalam ibadah, lurus dalam akhlak, dan bermanfaat bagi umat.
Marilah kita berdoa kepada Allah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَأَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْ رِنَا، وَأَصْلِحْ
لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا .
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَطَ هرْ قُلُوبَنَا مِنَ الن فَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ ال ريَاءِ ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ
الْكَذِبِ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ مِغْلََقًا لِلشَّ ر .
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الَْْحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالَْْمْوَا ت .
رَبَّنَ ا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْْخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّا ر .
