Konsep Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah

Konsep Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si.
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

#Mencerdaskan, Mencerahkan, Menggerakkan, Mempersatukan, Memberdayakan, Menyejaterakan dan Membahagiakan

Sejak berdirinya pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang mengusung semangat tajdid (pembaruan), dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. Dalam perjalanan lebih dari satu abad, Muhammadiyah mengembangkan konsep Dakwah Berkemajuan, yaitu dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian ajaran agama secara verbal, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi nyata bagi persoalan umat dan bangsa.

Dakwah berkemajuan bertumpu pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, berorientasi pada kemajuan peradaban, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dakwah tidak cukup hanya mengajak manusia kepada kebaikan, tetapi juga harus mampu mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan masyarakat.

Berikut tujuh pilar utama Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah:
1. Dakwah yang Mencerdaskan
Dakwah yang mencerdaskan adalah dakwah yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, rasional, dan objektif. Dakwah tidak dibangun di atas prasangka, emosi, atau fanatisme sempit, tetapi didasarkan pada argumentasi yang kuat, data yang valid, dan dalil yang sahih. Allah SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).
Dalam konteks ini, dakwah harus membantu umat memahami ajaran Islam secara mendalam sehingga melahirkan masyarakat yang berilmu, cerdas, dan mampu membedakan antara fakta dan opini, antara kebenaran dan hoaks.
Implementasi:
• Penguatan tradisi literasi.
• Kajian ilmiah berbasis dalil dan data.
• Pendidikan kritis dan dialogis.
• Pengembangan budaya riset dan ijtihad.

2. Dakwah yang Mencerahkan
Dakwah yang mencerahkan berarti menghadirkan wawasan baru yang membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kesempitan berpikir.
Islam sejak awal hadir sebagai agama yang membawa cahaya ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca (Iqra’), menunjukkan bahwa pencerahan merupakan inti dari risalah Islam.
Dakwah yang mencerahkan tidak menakut-nakuti umat secara berlebihan, tetapi membangun optimisme, harapan, dan semangat untuk maju.
Implementasi:
• Penyebaran ilmu pengetahuan terkini.
• Pemanfaatan teknologi informasi.
• Kajian yang relevan dengan perkembangan zaman.
• Pendidikan publik mengenai isu sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

3. Dakwah yang Menggerakkan
Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang mendengar, tetapi dari sejauh mana mereka terdorong untuk melakukan perubahan nyata.
Dakwah yang menggerakkan adalah dakwah transformatif yang mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan dan kesadaran menjadi gerakan sosial.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Islam, tetapi juga membangun masyarakat Madinah yang berkeadilan dan berkeadaban.
Implementasi:
• Gerakan filantropi Islam.
• Kegiatan sosial kemasyarakatan.
• Program pemberdayaan ekonomi umat.
• Gerakan kepedulian terhadap lingkungan.
Dakwah harus melahirkan aksi, bukan sekadar retorika.

4. Dakwah yang Mempersatukan
Salah satu tantangan besar umat Islam saat ini adalah polarisasi dan perpecahan akibat perbedaan pandangan keagamaan, politik, maupun organisasi.

Dakwah berkemajuan harus menjadi perekat persaudaraan dan penguat ukhuwah.
Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Perbedaan merupakan sunnatullah yang harus dikelola dengan sikap toleran dan saling menghormati.
Implementasi:
• Mengedepankan fikih toleransi dan fiqh ikhtilaf.
• Menghindari ujaran kebencian dan takfirisme.
• Membangun dialog dan kerja sama lintas kelompok.
• Menempatkan persatuan umat di atas kepentingan golongan.

5. Dakwah yang Memberdayakan
Dakwah tidak boleh berhenti pada pembinaan spiritual semata, tetapi harus meningkatkan kapasitas hidup masyarakat.
Kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan persoalan yang membutuhkan pendekatan dakwah yang memberdayakan.
Karena itu, dakwah harus hadir dalam bentuk peningkatan keterampilan (life skills), pelatihan kerja, kewirausahaan, dan penguatan ekonomi umat.
Implementasi:
• Pelatihan kewirausahaan.
• Pengembangan koperasi dan UMKM.
• Pendidikan vokasional.
• Pendampingan usaha produktif.
Dengan demikian, umat tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga menjadi subjek pembangunan.

6. Dakwah yang Menyejahterakan
Tujuan Islam tidak hanya menciptakan kesalehan individu, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan sosial. Dakwah yang menyejahterakan berusaha memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan layanan sosial lainnya.
Inilah yang selama ini diwujudkan Muhammadiyah melalui ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.
Implementasi:
• Penguatan zakat, infak, dan sedekah.
• Pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
• Beasiswa pendidikan.
• Program perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Kesejahteraan merupakan bagian dari tujuan syariat (maqashid syariah) untuk menjaga kehidupan manusia secara bermartabat.

7. Dakwah yang Membahagiakan
Puncak dari dakwah berkemajuan adalah menghadirkan kebahagiaan yang utuh, baik di dunia maupun di akhirat.
Islam tidak mengajarkan kehidupan yang suram dan penuh pesimisme, melainkan kehidupan yang seimbang antara kebutuhan material dan spiritual. Allah SWT mengajarkan doa: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat...” (QS. Al-Baqarah: 201).

Dakwah yang membahagiakan mengajak manusia; (1) Beribadah dengan penuh kesadaran; (2) Menjalani kehidupan dengan optimisme; (3)Menebarkan kasih sayang; dan (4) Menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Implementasi:
• Pembinaan keluarga sakinah.
• Penguatan kesehatan mental dan spiritual.
• Pengembangan budaya syukur dan sabar.
• Pembentukan lingkungan sosial yang harmonis.

Penutup
Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah pada hakikatnya merupakan upaya menghadirkan Islam sebagai kekuatan transformasi sosial yang mencerahkan dan memajukan kehidupan. Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan ceramah dari mimbar ke mimbar, tetapi harus mampu melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan umat.

Melalui tujuh pilar utama; mencerdaskan, mencerahkan, menggerakkan, mempersatukan, memberdayakan, menyejahterakan, dan membahagiakan. Muhammadiyah berupaya mewujudkan cita-cita Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam serta membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dengan demikian, dakwah bukan sekadar aktivitas komunikasi keagamaan, melainkan gerakan peradaban yang menghubungkan iman dengan ilmu, ilmu dengan amal, dan amal dengan kemaslahatan umat, bangsa, serta kemanusiaan universal.
Wallāhu a‘lam bi al-shawāb. Nahrun Minallahi Wafathun Qarieb. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search