Kubur Dalam Perspektif Worldview Wahyu

Kubur Dalam Perspektif Worldview Wahyu
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek.
www.majelistabligh.id -

#Ketika Semua Kesombongan Akan Dikubur Bersama Tanah

يُقَالُ إِنَّ الْقَبْرَ يُنَادِي ابْنَ آدَمَ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ:

يَا ابْنَ آدَمَ، تَفْرَحُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تُحْزَنُ فِي بَطْنِي.
Wahai anak Adam, hari ini engkau bergembira di atas punggungku, dan esok engkau akan bersedih di dalam perutku.”

تَضْحَكُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تَبْكِي عَلَى ظَهْرِي.
“Hari ini engkau tertawa di atasku, dan esok engkau akan menangis di atasku.”

تَعِيشُ فَوْقِي، وَتَنْسَى أَنَّ النِّهَايَةَ عِنْدِي.
“Engkau hidup di atasku, tetapi engkau lupa bahwa akhir perjalananmu ada padaku.”

تَأْكُلُ وَتَشْرَبُ وَتَجْمَعُ وَتُخَطِّطُ، وَكَأَنَّكَ بَاقٍ لَا تَرْحَلُ.
“Engkau makan, minum, mengumpulkan, dan merencanakan segalanya seolah-olah engkau tidak akan pernah pergi.”

لَكِنْ تَذَكَّرْ: الْمَوْتُ كَأْسٌ وَكُلُّ النَّاسِ شَارِبُهُ، وَالْقَبْرُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسِ دَاخِلُهُ.
“Tetapi ingatlah, kematian adalah cawan dan setiap manusia pasti akan meminumnya. Kubur adalah pintu dan setiap manusia pasti akan memasukinya.”

Kubur adalah tempat di mana seluruh topeng manusia runtuh. Tidak ada lagi gelar, status, fanatisme, kelompok, jabatan, ataupun pujian manusia. Tanah tidak pernah peduli siapa yang dulu merasa paling suci, paling benar, paling hebat, atau paling layak dihormati.

Semuanya akan diam dalam gelap yang sama.

Karena itu, orang yang benar-benar memahami hakikat kubur tidak akan sibuk membenci manusia lain. Sebab ia sadar: setiap orang sedang berjuang dengan ujian hidupnya masing-masing, dan seluruh manusia sama-sama sedang berjalan menuju liang lahat.

Maka dengan alasan apa pun:

1. Jangan membenci orang lain.

Karena kebencian sering lahir dari ego yang merasa dirinya pusat kebenaran. Padahal bisa jadi orang yang hari ini kita hina justru lebih dekat kepada Allah daripada diri kita sendiri.

Hari ini manusia saling menjatuhkan karena perbedaan:

-pendapat,

-kelompok,

-status sosial,

-bahkan dosa masa lalu.

Padahal di hadapan kubur nanti, yang paling dibutuhkan bukan kebencian kepada manusia, tetapi rahmat Allah untuk diri sendiri.

Jangan kotori hati dengan kebencian yang membuat ruh semakin jauh dari cahaya Tuhan.

Sebab hidup terlalu singkat untuk dipenuhi permusuhan, sementara kematian datang terlalu cepat untuk menunggu manusia selesai dengan egonya.

2. Jangan merasa lebih baik dari orang lain.

Karena kesombongan pertama dalam sejarah lahir bukan dari kebodohan, tetapi dari perasaan lebih mulia.

Iblis berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

Aku lebih baik darinya.”
(QS. Al-A‘raf: 12)

Kalimat itu sederhana, tetapi darinya lahir pembangkangan terbesar dalam sejarah makhluk.

Maka jangan pernah merasa:

-ibadahmu paling diterima,

-ilmumu paling benar,

-hijrahmu paling suci,

-atau kelompokmu paling selamat.

Karena yang menentukan akhir manusia bukan awal kehidupannya, tetapi bagaimana ia menghadap Allah di penghujung napasnya.

Banyak orang yang hari ini tampak jauh dari Tuhan, tetapi kelak pulang dengan taubat yang membuat langit menangis haru. Dan banyak yang hari ini dipuji manusia karena kesalehannya, tetapi diam-diam hancur karena kesombongan tersembunyi di dalam hatinya.

Kubur mengajarkan satu pelajaran besar: bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

Maka untuk apa sombong?

Dan mungkin tanda seseorang mulai benar-benar memahami worldview wahyu bukan ketika ia merasa paling benar…

tetapi ketika hatinya semakin lembut kepada manusia, semakin takut kepada dosanya sendiri, dan semakin sadar bahwa tanpa rahmat Allah, ia tidak lebih dari segumpal tanah yang menunggu waktu untuk dikuburkan. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search