Pesepakbola Sadio Mané dan Layar Ponsel Retak

Pesepakbola muslim, Sadio Mané memegang ponsel dengan layar retak, Ia selalu selebrasi sujud syukur usai mencetak gol.
www.majelistabligh.id -

Sebuah rekaman video singkat kembali berseliweran di lini masa media sosial. Di dalam video itu, seorang pria dengan jaket kasual sambil menggenggam sebuah ponsel pintar. Jika diperhatikan lebih dekat, ada yang janggal, layar ponsel tersebut retak parah, menyisakan guratan-guratan pecah yang mengganggu pandangan.

Bagi orang biasa, ponsel itu mungkin sudah waktunya masuk tempat sampah atau pusat servis. Namun, pria yang memegangnya adalah Sadio Mané—seorang megabintang sepak bola dunia dengan pendapatan mencapai Rp2,8 miliar per pekan.

Pemandangan ponsel retak itu terasa ganjil. Namun, bagi yang mengenal Mané, layar retak itu adalah sebuah saksi bisu tentang prinsip hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang. Di balik gemerlapnya panggung bola dunia, Mané memilih berjalan menjauh dari ego duniawi.

“Saya sanggup memberi ribuan HP baru, 10 mobil Ferrari, dua pesawat jet, jam berlian dan lain-lain. Tapi apa gunanya untuk saya. Saya selamat dari masa-masa sulit, bermain sepakbola tanpa alas kaki. Saya juga tidak memiliki pendidikan,” kata Mane saat menjawab pertanyaan wartawan.

Lahir dan besar di Bambali, sebuah desa terpencil di Senegal, Mané tumbuh di bawah asuhan seorang ayah yang merupakan imam masjid lokal. Nilai-nilai Islam itulah yang menjadi kompas hidupnya, bahkan ketika namanya dielu-elukan di Anfield saat membela Liverpool, hingga ke Allianz Arena bersama Bayern Munchen.

Di saat budaya perayaan sepak bola Eropa identik dengan siraman sampanye dan pesta pora, Mané memilih menepi. Salah satu momen paling ikonik terjadi saat sesi foto tradisional Bayern Munchen. Ketika semua pemain mengangkat segelas bir dari sponsor klub, Mané bersama rekan setimnya yang juga Muslim, Noussair Mazraoui, dengan sopan berpose dengan tangan kosong.

“Saya tidak butuh mobil mewah, jam tangan mahal, atau jet pribadi. Apa yang benda-benda itu lakukan untuk dunia? Saya pernah lapar, saya harus bekerja di ladang, dan saya bermain sepak bola tanpa sepatu. Hari ini, dengan apa yang saya hasilkan, saya ingin membantu orang-orang yang membutuhkan,” ujar Mané.

Dari Rumput Stadion Hingga Toilet Masjid

Bagi Mané, lapangan hijau bukan sekadar tempat bermain bola, melainkan tempatnya bersujud. Setiap kali merobek jala gawang lawan, selebrasi utamanya hampir selalu sama: sujud syukur. Dahi yang menyentuh rumput adalah bentuk pengakuan paling purna bahwa semua kehebatannya hanyalah titipan dari Allah Swt.

Kedisiplinannya pada salat lima waktu juga tak goyah oleh jadwal kompetisi yang ketat. Mané kerap terlihat di masjid-masjid lokal tanpa pengawalan ketat, melebur bersama jamaah biasa.

Bahkan, sebuah video yang sempat viral beberapa tahun lalu merekam momen yang mengetuk hati banyak orang. Hanya beberapa jam setelah mencetak gol penentu kemenangan di Liga Inggris, Mané tertangkap kamera sedang menyikat lantai toilet di sebuah masjid di Liverpool. Baginya, status “bintang” dan gaji miliaran langsung luntur begitu ia melangkah masuk ke rumah Allah.

Mengubah Desa dengan “Investasi Akhirat”

Dalam ajaran Islam yang diyakininya, harta adalah ujian, dan di dalamnya ada hak orang lain yang harus disalurkan melalui zakat dan sedekah. Alasan mengapa Mané enggan membeli iPhone keluaran terbaru atau mengoleksi Ferrari bukan karena ia pelit, melainkan karena ia sedang sibuk mendanai “investasi akhirat” di tanah kelahirannya, Bambali.

Mané telah menyulap desanya yang dulu terisolasi dan miskin menjadi kawasan yang jauh lebih layak melalui tindakan nyata yang terukur:

  • Fasilitas Kesehatan Gratis: Ia membangun Rumah Sakit Umum yang kini menyediakan akses kesehatan gratis bagi warga dari puluhan desa di sekitarnya.
  • Pendidikan Masa Depan: Membangun sekolah modern dan menyediakan beasiswa, lengkap dengan fasilitas laptop gratis untuk anak-anak desa agar tidak gagap teknologi.
  • Jaring Pengaman Sosial: Setiap bulan, Mané mengucurkan santunan sebesar €70 (sekitar Rp1,1 juta) per keluarga prasejahtera di desanya untuk memastikan kebutuhan pokok mereka terpenuhi.

Kombinasi antara video ponsel retak dan rekam jejak spiritualnya memberikan potret utuh tentang konsep zuhud—sebuah kondisi di mana tangan menggenggam dunia, namun hati sama sekali tidak membiarkannya berkuasa.

Melalui retakan di layar ponselnya, Sadio Mané seolah sedang mengirimkan pesan, bahwa kekayaan sejati seorang manusia bukan diukur dari apa yang ia pamerkan di tangan, melainkan dari apa yang ia sujudkan di hadapan Sang Pencipta, serta apa yang ia bagikan kepada sesama. (*/chusnun)

 

Tinggalkan Balasan

Search