Living Together dan Masa Depan Keluarga

Living Together dan Masa Depan Keluarga
*) Oleh : Mohammad Nur Rianto Al Arif
Ketua PDM Jakarta Timur/ Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah.
www.majelistabligh.id -

Kita tidak dapat meminta mereka membangun keluarga sakinah jika mereka tumbuh dalam keluarga yang penuh kekerasan. Kita tidak dapat meminta mereka bertanggung jawab jika sejak awal kita mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan pernikahan adalah kemewahan pesta.

Dan kita tidak dapat meminta mereka menghormati institusi keluarga jika masyarakat sendiri sering merendahkan pernikahan melalui praktik-praktik sosial yang tidak sehat. Karena itu, persoalan living together sebenarnya merupakan cerminan dan menunjukkan sejauh mana keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, masyarakat, dan negara mampu menciptakan ekosistem keluarga yang sehat.

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, pendidikan keluarga harus dimulai sebelum seseorang menikah. Pendidikan pranikah tidak boleh sekadar formalitas untuk memperoleh buku nikah. Generasi muda perlu memahami komunikasi dalam hubungan, kesehatan reproduksi, pengelolaan keuangan keluarga, pengasuhan anak, konflik rumah tangga, serta tanggung jawab moral dan agama.

Kedua, pernikahan harus dikembalikan kepada prinsip kesederhanaan. Jangan jadikan pesta sebagai ukuran kualitas pernikahan. Hal yang penting bukan seberapa besar pesta yang diadakan, melainkan seberapa kuat komitmen yang dibangun.

Ketiga, negara perlu memperkuat kebijakan yang mendukung keluarga muda. Akses terhadap rumah terjangkau, pekerjaan layak, perlindungan maternitas dan paternitas, fasilitas penitipan anak, serta jaminan sosial merupakan bagian dari ekosistem keluarga.

Keempat, tokoh agama harus menghadirkan dakwah keluarga yang relevan dengan zamannya. Anak muda tidak hanya membutuhkan jawaban tentang halal dan haram. Mereka membutuhkan jawaban tentang cara menghadapi kesepian, tekanan sosial, kecemasan ekonomi, relasi digital, pornografi, dating apps, dan perubahan budaya.

Kelima, keluarga harus kembali menjadi ruang pendidikan karakter. Orang tua bukan hanya penyedia kebutuhan material, tetapi juga teladan dalam membangun hubungan yang sehat.

Keenam, masyarakat harus berhenti melakukan glorifikasi terhadap pesta pernikahan sekaligus meremehkan substansi pernikahan. Pernikahan sederhana, tetapi penuh tanggung jawab, jauh lebih bermakna daripada pesta megah yang berakhir dengan rumah tangga yang rapuh.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan perspektif penting. Keluarga bukan sekadar urusan privat. Di dalam keluarga terdapat amanah sosial dan moral. Karena itu, membicarakan living together seharusnya tidak dilakukan dengan nada menghakimi. Kita perlu mengangkatnya sebagai bagian dari agenda besar untuk menyelamatkan masa depan keluarga.

Sebab ketika institusi keluarga melemah, persoalannya tidak berhenti di ruang domestik. Anak-anak kehilangan lingkungan pengasuhan yang stabil. Beban sosial meningkat. Persoalan kesehatan mental dan sosial dapat berkembang. Bahkan dalam jangka panjang, kualitas sumber daya manusia pun ikut dipertaruhkan.

Keluarga adalah tempat pertama bagi manusia untuk belajar tentang cinta, kepercayaan, tanggung jawab, solidaritas, dan pengorbanan. Jika sekolah adalah tempat pendidikan formal, maka keluarga adalah sekolah pertama dalam hidup.

Karena itu, tantangan terbesar kita bukan sekadar bagaimana menghentikan living together. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat pernikahan kembali menjadi institusi yang menarik, terhormat, realistis, dan membahagiakan bagi generasi muda.

Islam tidak memusuhi cinta. Islam justru memuliakan cinta dengan memberikan ruang yang bertanggung jawab melalui pernikahan. Cinta membutuhkan komitmen. Komitmen membutuhkan tanggung jawab. Dan tanggung jawab membutuhkan institusi yang kuat.

Di tengah perubahan zaman, keluarga tidak boleh sekadar dipertahankan sebagai simbol masa lalu. Keluarga harus diperkuat sebagai institusi masa depan. Sebab masa depan masyarakat sangat ditentukan oleh masa depan keluarganya. Dan ketika keluarga kuat, generasi memiliki tempat untuk bertumbuh. Ketika keluarga rapuh, masyarakat pun perlahan kehilangan fondasinya. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search