Makna Kemerdekaan Indonesia Bagi Seorang Muslim

Makna Kemerdekaan Indonesia Bagi Seorang Muslim
*) Oleh : Dr. Muhammad Nasri Dini
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah.
www.majelistabligh.id -

Sebentar lagi, bangsa kita akan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Momen bersejarah ini bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan wujud perenungan mendalam tentang makna hakiki kemerdekaan, terutama bagi kita sebagai seorang Muslim yang sekaligus warga negara Indonesia.

Agar kemerdekaan ini bermakna dan membawa berkah, mari kita tadabburi lima pesan penting dalam mengisi kemerdekaan berikut ini.

1. Kemerdekaan Adalah Rahmat Allah, Jangan Diisi dengan Laknat-Nya
Kemerdekaan Indonesia bukanlah semata-mata hasil jerih payah manusia, melainkan anugerah agung dari Allah ﷻ. Kesadaran iman ini bahkan termaktub indah dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya bersyukur atas nikmat:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat keras.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Kemerdekaan adalah nikmat raksasa. Sungguh tidak pantas jika kita membalas kasih sayang Allah ﷻ ini dengan kemaksiatan, kemalasan, kelalaian, atau budaya hedonis yang menjauhkan diri dari syariat-Nya. Jangan sampai nikmat kemerdekaan justru berubah menjadi jalan mengundang laknat dan azab-Nya.

2. Gelora Jiwa Tauhid Para Pahlawan Kemerdekaan
Jika kita menengok sejarah, para pejuang tanah air merebut kemerdekaan dengan fondasi tauhid yang kokoh. Seruan “Allahu Akbar!” memecah angkasa, membakar keberanian rakyat melawan penjajah yang bersenjata lengkap.

Bung Tomo pernah menegaskan betapa krusialnya kalimat thayyibah ini, “Andai tidak ada kalimat takbir, saya tidak tahu dengan apa membakar semangat para pemuda melawan penjajah.”

Semangat itu makin bergelora lewat pekikan “Merdeka atau Mati!”. Prinsip ini sejalan dengan doktrin Islam, Isy Kariman aw Mut Syahidan (Hidup Mulia atau Mati Syahid), sebuah ungkapan yang pernah dipesankan oleh Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha kepada putranya, Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, agar pantang menyerah membela kebenaran.

Spirit pejuang ini sangat relevan untuk kita hari ini: pilihlah untuk hidup mulia sebagai hamba yang taat, atau mati dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan.

3. Mewaspadai Fenomena ‘Londo Ireng’ di Era Modern
Di masa penjajahan dulu, terdapat istilah ‘Londo Ireng’, sebutan bagi para pengkhianat pribumi yang menghamba pada penjajah Belanda demi keuntungan pribadi. Malangnya, fenomena ini belum punah. Hari ini, pengkhianat bangsa masih ada; mereka yang menjual kehormatan negeri, memecah belah persatuan, dan ‘menjajah’ rakyatnya sendiri lewat korupsi dan kesewenang-wenangan.

Kondisi ini persis seperti peringatan Presiden Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Allah ﷻ mengingatkan bahaya lupa diri dan lupa agama:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

Jangan sampai di era merdeka ini, kita justru bertransformasi menjadi ‘Londo Ireng’ modern, sosok pribumi berjiwa penjajah yang menindas saudaranya sendiri dan berpaling dari petunjuk Allah ﷻ.

4. Merdeka Karena Persatuan, Jauhi Perpecahan
Indonesia tidak berdiri karena satu kelompok saja. Kemerdekaan terwujud berkat persatuan yang erat antara ulama dan umara, santri dan petani, serta rakyat dan tentara. Oleh karena itu, persatuan ini adalah aset berharga yang harus kita jaga.

Jangan biarkan persaudaraan kita terkoyak oleh kepentingan politik sesaat atau fanatisme kelompok (ashabiyah) yang sempit. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Sesungguhnya orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari & Muslim)

5. Membalas Budi Sejarah: Utang Kemerdekaan kepada Palestina
Di tengah sukacita kemerdekaan, kita tidak boleh lupa pada sejarah. Ketika bangsa Indonesia berjuang mencari pengakuan dunia, bangsa Palestina adalah salah satu yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.

Melalui siaran radio di Berlin pada 6 September 1944, Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mengimbau negara-negara Arab dan kaum Muslimin untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Tak hanya itu, seorang saudagar kaya Palestina, Muhammad Ali Taher, bahkan menyerahkan seluruh tabungannya di bank untuk membantu finansial perjuangan Indonesia.

Dukungan serupa juga mengalir dari Mesir atas dorongan kuat tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, organisasi yang kelak menjadi embrio perjuangan Gerakan Hamas di Palestina. Sangat disayangkan jika hari ini ada anak bangsa yang meragukan perjuangan rakyat Palestina atau menyalahkan gerakan perlawanan mereka, hanya karena minimnya pemahaman atas akar sejarah dan dinamika perjuangan umat Islam.

Kini, saat saudara-saudara kita di Palestina masih berada di bawah cengkeraman penjajahan dan genosida, adalah kewajiban moril dan iman kita untuk berdiri bersama mereka melalui doa, bantuan dana, serta dukungan penyebaran informasi yang benar.

Refleksi Penutup
Mari kita isi kemerdekaan Indonesia ini dengan amal saleh, menjaga persatuan, dan menegakkan nilai-nilai keislaman. Makna merdeka sejatinya bukan sekadar bebas dari fisik penjajah asing, melainkan bebas dari kebodohan, kemalasan, korupsi, perpecahan, serta belenggu maksiat.

Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga Negeri Kita Indonesia tercinta dan memerdekakan saudara-saudara kita di Palestina serta negeri-negeri Muslim lainnya yang masih tertindas.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.’” (QS. Ibrahim [14]: 35)

Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search